Tulisan-tulisanku walaupun tak ada yang menarik darimu AKu selalu tak segan tuk bercengkrama denganmu
Kamis, 11 Februari 2010
Gus Dur, Sebenarnya Panjenengan Itu Siapa?
Ada yang menyamakan GD dengan sosok semar (opini Jawa Pos, 060210). Semar merupakan refleksi dari kullu syai’ (segala sesuatu) yang selalu mempunyai muqobil (pembanding/lawan). Senang-susah, dewa-rakyat, langit-bumi. Demikian juga seperti yang diungkapkan Greg Barton dalam Biografi Gus Dur-nya. Ada yang menganggap penyematan gelar pluralisme dalam diri GD yang ‘kiai’ merupakan pelecehan. Kemudian diluruskan oleh adik GD sendiri (Gus Solah), bahwa pluralisme GD bukanlah menganggap semua agama adalah sama. Tapi pluralisme GD lebih menuju pada ranah sosial, toleransi dalam sesrawungan. Mengingat negara kita merupakan negara majemuk. Kemudian ada lagi, yang menganggap GD adalah tokoh yang sangat pantas mendapat penghargaan Guiness Book of Record karena banyaknya simpatisan & peziarah ketika beliau meninggal. Bahkan hampir menyamai presiden Mesir, Gamal Abdul Naseer yang ketika meninggal ditakziyahi hingga 4 juta orang. Begitu komentar yang diungkapkan Gus Mus, bolo plek GD.
Menyinggung tentang GD aku mau menuangkan sedikit uneg-unegku tentang almarhum. Hitung-hitung melengkapi tulisanku sebelumnya. Kini aku mulai tahu siapa sosok GD itu.
Beberapa hari yang lalu aku menyempatkan diri untuk menambah koleksi bukuku. Uang yang terkumpul di celengan sudah cukup untuk membawa pulang satu buku. Setelah cari informasi dari sana-sini tentang buku Biografi Gus Dur aku bersama Syueb pergi ke toko Almanar. Setelah membacanya ternyata tak sia-sia aku membelinya. Banyak informasi menarik tentang almarhum di buku karangan Greg Barton ini.
Walaupun aku belum merampungkan buku tebal ini, aku sudah berdecak kagum dengan isinya tentang kehidupan seorang GD. Kini baru sampai di masa ketika GD menjabat sebagai ketua PBNU.
GD muda adalah seorang enerjik & cerdas dengan kegiatan-kegiatan seabrek. Mulai dari mengajar, ceramah, menulis, hingga jualan es lilin menjadi kegiatan rutinnya selama menjalani masa-masa awal pernikahan. Sebelumnya selama proses belajar dari sekolah dasar, pesantren hingga kulliah beliau memang juga seorang aktivis. Sebagai aktivis beliau tak pernah lupa untuk selalu membaca, apa saja di mana saja. Tak heran wawasan & pengetahuannya terlampau luas untuk pemuda seusianya. Tak hanya kitab-kitab kuning pesantren, aneka buku-buku putih dari dalam maupun luar negeri banyak beliau baca. Hal ini membuatku semakin bersemangat untuk terus membaca. Tak hanya teks-teks kitab kuning dari ulama-lama zaman pertengahan yang menjadi ciri khas Lirboyo. Aku ingin seperti GD, selalu haus untuk membaca, apa saja. Karena ilmu Allah luas, lebih luas daripada berjuta-juta lembar kertas di LBM Lirboyo atau perpus, bahkan dengan dunia seisinya. Hoby membaca GD tadi semakin menyemangatiku untk tak segan-segan menambah koleksi bacaan.
Satu lagi hal yang menarik dari kehidupan GD., yaitu tak segan untuk bekerja. Baik ketika kuliah di Kairo & Baghdad maupun ketika sudah berumah tangga. Salah satu pekerjaan beliau pun termasuk pekerjaan sepele yang sering dipandang sebelah mata, jualan es lilin. Apakah ada di zaman sekrang ini, seorang cendekiawan, putra kiai, gus berkeliling menjajakan es? Weleh-weleh, benar-benar seorang yang mempunyai tekad kuat untuk selalu bertanggung jawab pada keluarga. Intinya GD tak pernah segan untuk bersusah payah walaupun predikat yang disandangnya cukup terpandang di masyarakat. Nah, bisakah aku meneladani semangat beliau ini?
Hidup di tengah lingkungan pesantren ternyata tak membuat GD tidak tertarik pada ilmu-ilmu umum lainnya. Bahkan jika kita tengok masa kecil beliau malah ilmu pesantrennya bisa dikatakan kurang. Aneka bacaan milik ayahnya -yang seorang kiai juga nasionalis- dilahapnya tiap hari. Tak jarang bacaan-bacaannya banyak dari Eropa, Belanda (yang menjajah Indonesia kala itu) & Indonesia sendiri. Tentu saja tak ketinggalan kitab-kitab kuning.
Baru setelah SMP GD lebih fokus pada ilmu-ilmu Islamnya dengan masuk ke beberapa pesantren, antara lain Krapyak, Tegalrejo & Tambakberas. Pribadi kiai mulai tercetak dalam dirinya. GD muda tak puas 'hanya' sekolah di pesantren. Oleh karenanya beliau berangkat kuliah guna melanjutkan studi & mengasah otaknya. Al Azhar menjadi singgahan pertamanya. Sayang di sini beliau tak betahan lama karena terjerat masalah kurikulum kampus. Beliau kemudian pindah ke Baghdad. Di sinilah masa-masa perkuliahan beliau hidup. Jiwa mahasiswa yang selalu ingin tahu & bersuara berkobar dalam jiwa seorang GD. Membaca kehidupannya sebagai mahasiswa membuat keinginanku untuk kuliah muncul kembali. Aneka kegiatan kampus & organisasi yang diselingi dangan kerja sambilan menjadi rutinitas. GD saja bekerja saat kuliah. Benar-benar membuat iri. Masih muda tapi sudah melanglang ke mana-mana. 4 tahun beliau menjalani kuliah d Baghdad hingga selesai. Setelah itu keinginan GD adalah melanjutkan kuliah S2-nya di Eropa. Sayang tak ada satu kampus pun di sana yang mengakui ijazah dari Baghdad. Dengan kecewa, setelah setengah tahun keliling Eropa mencari peluang kuliah, GD pulang ke tanah air.
Dari sekelumit sebagian kehidupan GD di atas tak sedikit membuat semangat terlecut. Semangat membaca, berbakti, belajar, bekerja & kuliah. Sebagai pemuda sudah pasti kita melewati hal-hal tersebut. Yang menjadi pertanyaan bisakah kita memoles masa muda kita agar kelak dapat memberikan bekal di kehidupan dewasa kelak.
Tak terasa telah 40 hari kita ditinggalkan guru bangsa kita. Akan tetapi sosoknya seakan belum ikut pergi. Topik-topik obrolan & cangkrukan mengenai GD akan selalu hidup & tidak akan hilang. Karena perjuangan & gagasannya yang menjadi PR untuk kita semua harus selalu kita lestarikan.
Lirboyo, 7 – 10 Februari 2010
Sabtu, 09 Januari 2010
Gus Dur di Mataku
Mungkin satu-satunya santri Indonesia yang sukses hingga pernah menjadi orang nomor wahid di Indonesia adalah KH. Abdurrahman Wahid. Tengok saja sejarah para ulama dahulu. Apakah ada yang sampai menjadi pemimpin nomor satu di negara? Rasanya tidak ada (atau aku yang belum tahu?). Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, Raden Patah, Joko Tingkir mungkin juga seorang pemimpin. Akan tetapi Gus Dur beda. Beliau tak hanya menjadi pemimpin, tapi juga seorang revolusioner. Jadi jika dibandingkan dengan tokoh-okoh di atas masing-masing mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri. Apalagi Gus Dur menjabat sebagai pemimpin ketika bangsa Indonesia sudah berbentuk republik.
Di mataku Gus Dur adalah sosok kontroversial sekaligus panutan. Semasa menjabat menjadi presiden aku kurang begitu tahu bagaiman gaya & sikap beliau dalam memimpin. Dari sumber-sumber yang ada menyebutkan bahwa pemerintahan periode Gus Dur adalah pemerintahan yang sangat terbuka dengan rakyat. Setelah 32 tahun Indonesia yang republik menganut kepemimpinan sentralistik dan otoriter, Gus Dur dengan gaya khasnya membanting stir menjadikannya sistem demokrasi. Tentu saja ini merupakan terobosan bagi Indonesia dan jasa terbesar bagi Gus Dur. Selama memimpin suasana terkesan begitu cair, tidak kaku seperti selama pak Harto menjadi ‘raja’. Tak jarang guyonan-guyonan terlontar setiap Gus Dur berpidato. Aku hanya mengetahuinya sepotong-sepotong, baik itu dari cuplikan teve, kutipan berita atau potongan tulisan mengenai Gus Dur. Maklum kala itu aku masih MI, mana sempat mikir begituan?
Aku hanya tahu sikap-sikap kontroversial Gus Dur justru setelah beliau lengser dari kursi kepresidenan. Mulai dari pembelaan Inul, Dorce, Ahmadiyah, Syi’ah, RUU APP, etnis Tionghoa dll. Semua itu aku masih ingat. Yang masih teringat jelas adalah saat kasus Inul yang digugat oleh bang Rhoma karena telah menjadikan dangdut sebagai ajang eksploitasi tubuh. Dengan tegas Gus Dur beserta istri membela Inul yang ‘sendirian’. Pada kasus Ahmadiyah juga demikian. Bahkan ketika Gus Dur mendukung massa anti-RUU APP para kiai di Jatim sampai kress dengan beliau. Dan yang paling tertoreh dalam sejarah adalah penghapusan kesan buruk pada etnis Tionghoa. Hingga Konghuchu dapat menjadi agama yang sah di Indonesia seperti halnya agama-agama lain di sini. Aku sendiri kadang bingung dengan sikap & keputusan beliau. Mau dibantah kok ya kiai? Mau setuju kok ya benar-benar “terlihat’ salah?
Akan tetapi kekontrasan sikap beliau inilah yang menjadikan beliau dicintai rakyatnya. Karena Gus Dur selalu membela kaum minoritas, pinggiran, tertinggal & terbuang. Bagaimanpun bentuknya Gus Dur tak segan-segan melawan arus mayoritas, jika menurut pandangan beliau kaum minoritas memang perlu dibela. Apakah kaum minoritas tersebut jelas-jelas tak sesuai dengan agama tetap Gus Dur bela. Karenanya beliau selalu dicintai kaum minoritas ketika membelanya dan disegani kaum mayoritas ketika sudah terlihat dampak dari sikapnya tersebut. Tak heran semua lapisan masyarakat nasional maupun internasional sangat berduka cita atas kepergian Sang Pluralis.
Mungkin sikap & pandangan beliau yang terlampau luas ini karena latar belakang pendidikannya. Walau Gus Dur lahir & dibesarkan di lingkungan pesantren orangtuanya memberi kesempatan seluas-luasnya untuk menuntut berbagai macam disiplin ilmu. Tak hanya berkutat pada berjilid-jilid kitab kuning tapi juga menambah wawasan dari buku-buku putih dari dalam maupun luar negeri. Bahkan konon dulu ketika mondok di Tegalrejo Gus Dur sering bolos ngaji demi memuaskan minat bacanya ke perpustakaan atau toko buku. Mbeling memang, akan tetapi dapat kita saksikan sendiri hasilnya.
Gus Dur yang santri tak hanya melihat dunia dari kacamata agama & pesantren, akan tetapi dapat melihat dari berbagai disiplin ilmu. Gus Dur yang santri tak berpandangan sempit yang menjadikan diri terkungkung dalam fanatisme. Gus Dur yang santri menjadi sosok demokratis yang sangat menghargai perbedaan yang sudah menjadi keniscayaan sunnatullah. Tak berlebihan jika pak SBY hingga memberikan gelar Bapak Pluralisme & Multikulturalisme kepada almarhum.
Di luar itu semua ada satu hal dari Gus Dur yang kuanggap istimewa. Hingga menjadi pelecut semangat dalam kehidupanku sekarang. Bahwa KH. Abdurrahman Wahid adalah santri nomor wahid di mataku, karena berhasil membuktikan bahwa tidak selamanya pesantren menjadi orang pinggiran. Bahkan dapat menjadi orang nomor wahid di negeri Indonesia ini. Jika dipikir secara rasional apakah bisa seorang yang tak punya ijazah formal kecuali hingga SMP, berbekal ilmu dari pesantren baik di Indonesia (Krapyak, Tegalrejo, & Tambakberas) maupun di luar Indonesia (Kairo & Baghdad) bisa diangkat menjadi presiden. Padahal jika melihat kenyataan sekarang, ‘hanya’ untuk menjadi PNS saja minimal harus berijazah S1. Belum jika mau mencalonkan diri menjadi bupati, gubernur atau presiden. Bukankah prestasi tersebut sangat mengharumkan nama pesantren di negeri ini? Karenanya sebagai insan pesantren jangan takut, malu atau minder untuk menggantungkan cita-cita setinggi-tingginya. Kalau Gus Dur yang santri saja bisa kenapa kita tidak?
…
Sudah satu minggu lebih Gus Dur meninggalkan kita, bangsa ini. Dengan meninggalnya ulama ini Allah telah mencabut satu dari sekian ribu ilmuNya. Telah hilang satu pegangan kita, yang berarti semakin melemahkan kita. Diperlukan pengganti pegangan dalam hidup kita ini. Akan tetapi adakah ulama yang bisa dijadikan pegangan sekaliber Gus Dur? Entahlah. Yang jelas kita tidak boleh begitu saja mencari pegangan tanpa melihat latar belakangnya. Karena jika kita salah memegang tambatan bisa jadi malah semakin jauh dari jalan Allah.
Gus Dur telah tiada. Akan tetapi jiwanya masih hidup & menghidupi hingga kini. Banyak pelajaran & hikmah yang dapat diambil dari seorang santri sekaliber Gus Dur. Bagaimanpun juga kita sebagai santri tak boleh berhenti meneruskan perjuangan beliau. Karena cita-cita yang beliau canangkan untuk bangsa, negara & agama ini belum sepenuhnya tercapai. Dan itulah yang menjadi PR bagi kita semua.
Selamat jalan Bapak pluralis & demokrasi. Semoga apa yang engkau perjuangakan dapat selalu lestari di bumi pertiwi & diridhoi Ilahi Robbi.
Lirboyo, 9 januari 2010
Sabtu, 02 Januari 2010
Suka dan Duka Penutup 2009
Tahun ini 2 anggota keluarga besar Syafi'i mendapat kesempatan untuk ziarah ke Makkah al Mukarramah & Madinah al Munawwarah. Lik Rodhi & lik Karoh menunaikan rukun islam yang ke lima, Haji. Aku & Kafa yang sudah di pondok menyempatkan diri untuk mengikuti prosesi pemberangkatan hingga ke Lapangan Trikoyo Klaten. Setelah itu rombongan kloter 85 tersebut melaju ke donohudan untuk mempersiapkan penerbangan esok hari.
Selama beliau berdua di tanah suci aku kurang mengetahui bagaimana kabarnya. Yang kutahu hanya beberapa kali lik Rodhi berkomunikasi dengan pihak keluarga di rumah. Tentu saja aku tak tahu, aku berada di pondok selama beliau beribadah di tanah suci. Lik Rodhi hanya 1 kali menelpon Kafa ketika di pondok. Aku memaklumi. Karena jika terlalu sering menjalin komunikasi bisa saja malah mengganggu kekhusyukan ibadah di sana.
Tak terasa sudah 40 hari keluarga di rumah ditinggal oleh lik Rodhi & lik Karoh. Sudah saatnya rombongan kloter beliau pulang. Dulu Kafa sempat memberitahuku kalau beliau pulang kembali tanah air akhir Desember, tepatnya tanggal 30. sehari sebelum hari itu kami yang masih di Lirboyo menyempatkan diri untuk pulang guna menjemput kedatangan beliau di Donohudan. Aku, Inun, Kafa & Fatah pulang hari Rabu.
Malam Kamis lik Rodhi menelpon ke rumah. Bahwa beliau sudah mulai naik pesawat & akan landing. Jam menunjukkan angka 8 malam WIB. Dan akan mendarat sampai di bandara Adi Sumarmo esok pagi sekitar pukul 7. Saat itu Inun juga memberitahu kalau ada berita duka mengenai Gus Dur. Tentu saja aku kaget & belum percaya. Akan tetapi begitu melihat siaran berita di teve aku baru menyadari jika itu bukan hanya kabar burung. Seorang tokoh besar, bapak bangsa & NU telah meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un.
Bapak juga tampak tak percaya ketika kuberitahu. Dari layar kaca tampak suasana RSCM tempat Gus Dur menghembuskan nafas terakhir. Malam itu mendung duka menyelimuti kami semua. Padahal besok adalah hari kedatangan lik rodhi & llik karoh setelah 40 hari berhaji. Akankah mendung duka ini juga akan menyelimuti suasana suka cita esok hari?
Seluruh stasiun teve menayangkan siaran langsung terkait kabar duka ini. Dari sekian stasiun teve MetroTV & TVOne yang meliput semua kondisi tempat almarhum menghembuskan nafas terakhir di Jakarta dan tempat terakhir bersemayamnya di Jombang. Malam itu tayangan prosesi pengurusan almarhum menjadi tontonan kami. Bapak baru ikut menyaksikan siarannya setelah selasai dari ngaji di Ngeseng. Rencananya almarhum akan disemayamkan di Tebuireng, Jombang di samping kakek dan abahnya, KH Hasyim Asy'ari & KH Wahid Hasyim. Jenazah akan diberangkatkan dengan pesawat dari Jakarta esok paginya. Dan nantinya prosesi pemakaman akan menggunakan upacara kenegaraan. Tentu saja Gus Dur kan mantan presiden. bapak sebenarnya ingin ikut melayat ke Jombang. Tapi karena besok ada acara yang sangat penting & tak bisa ditunda lagi, bapak memilih mendahulukan urusan keluarga. Toh tak ada salahnya mendoakan beliau dari sini. Kalaupun mau mengikuti prosesi pemakaman jenazah seluruh stasiun teve akan meliputnya.
===
Kami berangkat dari rumah pagi menuju ke asrama haji di Donohudan. Sampai di sana pakde, bude, mbak, mas & para keponakan sudah berkumpul di luar area asrama. Lama juga kami menunggu di sini. Pukul setengah sembilan 8 bus bandara memasuki area Donohudan. Para penjemput memang tidak diperbolehkan masuk ke dalam. Tentu saja agar prosesi pemulangan dapat berjalan lancar. Kami di luar hanya bisa melihat para rombongan haji yang dibawa bus.
Ternyata tak hanya pengoperan ke bus dari kabupaten saja yang menjadi agenda acara di dalam. Masih ada upacara penutupan yang lagi-lagi memakan waktu cukup lama. Terpaksa kami menunggu lagi. Rombongan pakde Syakur memilih untuk menunggu di Dlanggu, transit para jamaah sebelum menuju ke rumah masing-masing. Keluargaku & rombongan pakde Muhadi yang masih tersisa di sni. Walau upacara penutupan belum selesai benar ternyata sudah banyak jamaah yang meninggalkan tempat dengan dijemput anggota keluarganya sendiri, tidak ikut rombongan bus dari kabupaten. Melihat hal itu kami juga mau langsung membawa lik Rodhi & lik Karoh dengan mobil sendiri. Alhamdulillah tak lama kemudian lik Rodhi muncul dengan pak Panji. Pertemuan singkat itu memutuskan agar lik Rodhi & lik Karoh langsug naik mobil dari sini saja. Tak lama rombongan yang kami tunggu datang dengan membawa banyak bawaan. Lik rodhi, lik Karoh, Kafa, Fia, An'im, & pak Panji. Segera setelah melepas kerinduan sebentar rombongan kami meninggalkan Donohudan. Mobil pakde Muhadi ditempati keluarga lik Rodhi & di mobil kami ketambahan bude Kis. Akhirnya semua berjalan lancar, walau tak mengikuti upara penutupan hingga selesai.
Keluarga di Jeblogan yang tidak ikut menjemput sudah siap menyambut kedatangan beliau berdua. Acara penyambutan dilangsungkan di masjid. Dari masjid kemudian lik Rodhi & lik Karoh bersama rombongan lain berjalan kaki menuju rumah dengan diiringi tabuhan hadroh. Lik Rodhi diminta berdoa sesampai di depan pintu rumah. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa doa orang yang berhaji mustajab. Lik Rodhi mendoakan kita semua yang ada di sini agar juga mendapat panggilan ke tanah suci. Amiin. Istajib du'aana ya Robb. Setelah itu satu per satu tamu datang dan pergi hingga dzuhur menjelang. Alhamdulillah anggota keluarga kami sudah kembali pulang setelah 40 hari bertamu di Baitullah tanpa kekurangan suatu apa pun.
===
Sepulang dari acara penyambutan haji di Blogang kami sekeluarga menyimak prosesi pemakaman Gus Dur di Tebuireng lewat televisi. Lautan manusia membanjiri area Tebuireng. Mereka semua ingin menjadi saksi kepergian sang guru & bapak bangsa. Santri, masyarakat, pejabat, kiai, aparat hingga para pemuka dari berbagai agama turut hadir & berduka cita atas kepergian almarhum. Sejak pagi hingga siang itu para pelayat dari seluruh pelosok hadir. Menunggu hingga pemakaman selesai.
Ba'da Dzuhur jenazah Gus Dur tiba dari bandara Juanda, Surabaya setelah terbang dari Halim Perdana Kusumah, Jakarta. Iring-iringan belasan mobil memasuki area Tebuireng. Jenazah terlebih dahulu disemayamkan di masjid Ulil Albab yang berada di luar komplek pesantren untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat yang ingin menyolati & berdoa untuk almarhum. Kurang lebih setengah jam kemudian jenazah dipindah ke pendopo area pemakaman di dalam pesantren. Tak semua orang bisa masuk ke dalam karena penjagaan yang behitu ketat langsung oleh aparat TNI. Di dalam kembali dipersilakan bagi penta'ziyah yang berada di dalam untuk menyolati & berdoa di hadapan almarhum. Rata-rata para kiai & santri yang ada di dalam ditambah para pejabat & menteri.
Prosesi upacara kenegaraan memang akan langsung dipimpin oleh Presiden RI. Karenanya masih menunggu hingga satu jam lamanya menunggu para orang-orang yes ngumpul terlebih dahulu. Pukul setengah dua semua sudah siap. Bapak SBY & rombongan baru saja tiba. Upacara dimulai dengan dipimpin oleh jenderal dari TNI. Sebagai inspektur adalah bapak SBY sendiri. Dari berita tadi malam beliau akan memberikan penghormatan terakhir yang terbaik untuk almarhum. Peserta upacara juga dari TNI, baik AD, AL maupun AU. Juga tentunya semua yang hadir baik di dalam pesantren maupun di luar.
Sebagai pembuka adalah pembacaan riwayat hidup almarhum. Dari situ aku dapat mengambil kesimpulan bahwa Gus Dur adalah satu-satunya orang yang berhasil membuktikan bahwa pesantren memang bisa. Kalau perlu bisa dalam segala hal. Gus Dur tidak mengenyam pendidikan formal di indonesia. Almarhum 'hanya' mondok di Tegalrejo, Tambakberas, & Al azhar, Kairo. Tak ada embel-embel sarjana dari universitas manapun di Indonesia. Walau begitu berbagai penghargaan, pangkat, & bintang juga tersemat dalam diri almarhum. Kebanyakan dari luar negeri. Itu semua membuktikan bahwa kita sebagai santri tak boleh mempunyai rasa minder di hadapan siapapun, jika perlu di hadapan presiden. Karena Gus Dur adalah (baru) satu-satunya santri yang menjadi presiden di indonesia.
Acara dilanjutkan dengan penghormatan kepada almarhum sebelum akhirnya dikebumikan. Petugas pemakaman adalah dari aparat & kiai yang ada di sana. Hujan air mata & bunga mewarnai pemakaman ini. Lagu gugur bungan menambah suasana semakin menyentuh. Aku sangat terharu. Akan tetapi tak sampai meneteskan air mata. Setelah jenazah terkubur pak SBY sebagai wakil negara & Yeni Wahid sebagai wakil keluarga mengubur secara simbolik dengan mencangkul tanah & dimasukkan ke liang lahat. Baru kemudian penguburan dilanjutkan hingga rata. Sebagai penutup Bapak Menteri Agama, Surya Dharma Ali & Gus Mus memimpin doa. Setelah semua rangkaian acara selesai pemipmin upacara membubarkan upacara kenegaraan ini.
Kini Gus Dur telah tiada. Bapak & Guru bangsa, bapak pluralisme, bapak multikulturalisme, kiai yang tidak hanya bagi umat islam. Menyisakan mendung duka & harapan beliau yang menjadi amanat kiat semua sebagai warga negara & islam, khususnya NU. Pesan terakhir beliau kepada para santri untuk menjaga sikap pluralisme & melindungi kaum minoritas menjadi tanggung jawab kita bersama. Itu membuktikan betapa besar perhatian beliau terhadap kesatuan negara & agama kita. Semoga amal perbuatan, perjuangan & pengabdian almarhum diterima di sisiNya dan mendapat balasan yang setimpal. Allahummaghfir lahu warhamhu wa'afihi wa'fu 'anhu. Selamat jalan Gus, jasamu kan terus kami kenang & perjuangkan selalu.
Batur, 2 Januari 2010
Rebana di Oi
Kedatangan Oi ke Lirboyo karena ada acara yang diadakan Oi sendiri, selain juga sowan ke mbah Kiai sepuh & masyayih. Aula Muktamar terpilih sebagai tempat pelaksanaan Munas Oi IV ini. Dengan tema Berpikir, Berkata & Berntindak untuk Oi dan Indonesia Raya munas ini dapat mengumpulkan perwakilan-perwakilan Oi dari seluruh wilayah Indonesia.
Aku kurang tahu kenapa Kediri yang menjadi tuan rumah. Awalnya aku hanya cuek, paling juga konser biasa. Ternyata tidak. Kang Tohir, kang Daris & Zaki kebetulan ikutan rembugan sehari sebelum hari H bersama panitia. Mereka mungkin dapat masuk kepanitiaan ini karena ikut pak Muttaqin yang juga aktivis Oi. Salah satu keputusannyalah yang membuatku kaget. Kang Tohir menawarkan rebana Kamar Solo untuk tampil saat penyambutan Iwan Fals. Hee, gak salah tuh? Aku hampir gak percaya. Bukankah kontras banget? Oi yang ‘apa adanya’ (sak karepe dewe) mau digabung dengan rebana. Aduh gak habis pikir deh.
Awalnya aku pesimis bisa ikut. Kalau teman-teman lain mungkin bisa saja ikut. Aku terlalu mikir macem-macem. Apa gak malu ‘ngontras’ di antara komunitas yang berbeda? Aku yang notabene masih santri baru MHM masak mau langsung ndablek gini? Terus bagaimana nanti komentar masyayikh? aku sudah gak yakin bisa ikutan tampil besok.
Sabtu paginya ada latihan dadakan. Ternyata kang Tohir tidak bercanda. Rebana Hadiningrat positif tampil dalam pembukaan munas ini. Kulihat teman-teman saat latihan ternyata kekurangan personel. Kang Juweni makaryo, Kafa & Fatah sekolah. Yang tersisa hanya Syueb, Daris, Tohir, Ulin & Lik Birin ditambah Ebi & kang Ihsan. Keadaan tersebut menuntutku untuk ikut tampil nantinya. Ternyata memang sulit banget melepaskan begitu saja bidang yang sudah aku terjuni. Apa boleh buat nanti musyawaroh izin. Kami hanya latihan sebentar.
Pukul setengah 11 tim rebana Hadiningrat berangkat ke aula Muktamar. Ada 8 personel yang diberangkatkan, semuanya ngontel. Aku & lik Bir ditugasi sebagai vokal.
Aura kontras sangat terasa ketika kami masuk gerbang aula. Orang-orang berkaos oblong (mayoritas hitam), celana jins & kadang badan kurang terawat banyak berlalulalang. Sedangkan kami berbaju koko, bersarung & berkopyah. Aku merasa asing di sini. Seakan sekat di Lirboyo menjadi kelihatan. Di dalam aula para Oi berkumpul pating sliwer di luarnya para santri asyik bermusyawarah.
Aku baru kali ini masuk ke belakang panggung aula. Terdapat beberapa ruangan, biasanya untuk sekretariat. Mulai dari persiapan sebelum tampil, ruang tamu dll. Dan setelah kupikir lebih lanjut ini adalah kali pertama aku tampil di aula Muktamar. Wah, gak nyangka banget kan? Penampilan perdana di aula malah pada saat acara dari non-pesanten (bukan acara-acara islam). Dari pintu pojok ruangan ini kami bisa melihat suasana acara. Bahkan aku bisa melihat jelas bang Iwan saat ngisi sambutan. Kapan lagi mendpat kesempatan langka seperti ini?
Setelah beberapa sambutan mengisi acara, giliran kami unjuk gigi. Kami lewat tangga depan ketika kami dipanggil. Dari atas panggung semua terlihat jelas. Wong yes-yes duduk di deretan depan. Diantaranya pak Syamsul ( walikota kediri), bang Iwan, pak Taqin, cak Khan, dll. Kini semakin terjawab pertanyaan-pertanyaan yang mengganjalku. Ternyata dzuriyah HY yang menjadi penyambung pihak pesantren dengan Oi. Pantas saja tempat yang terpilih Lirboyo & rebana HY yang diminta mengisi. HY memang sip. Tidak hanya berkutat dengan dunia kitab & santri, tapi juga dapat berkoneksi dengan dunia luar. Salut banget dengan pesantrenku ini.
Kami hanya membawakan 2 lagu, Assalamu’alaik & Dhoharo Din al Muayyad. Syukurlah semua berjalan lancar. Bahkan bisa dikatakan aku tidak merasa demam panggung. Selesai tampil kami turun panggung dengan tampa membawa alat. Karena akan digunakan sebagai pembuka munas ini. Biasanya kan lewat simbolis pemotongan pita atau pemukulan gong. Nah, kali ini dengan memukul alat perkusi rebana.
Pembukaan munas dilakukan oleh orang-orang yes, bang Iwan, pak Wali dan juga panitia-panitia senior. Mereka mengambil tabuhan & memukul sekenanya. Suara yang terdengar benar-benar berbeda dengan yang kami bawakan tadi, semrawut. Hehehe hadirin yang melihat pembukaan ini tak ada yang menahan tawanya.
Pada akhir acara kami berkesampatan foto bareng Iwan Fals. Wah, bukankah langka banget? Padahal belum tentu para Oi semua yang hadir di sini bisa berfoto dengan pentolannya, apalagi secara terhormat seperti ini. Bener-bener deh rebana Hadiningrat memang ningrat. Pokoknya ganjalan-ganjalan sebelum acara tadi terjawab sudah.
Puas….
Lirboyo, 5 November 2009
Minggu, 13 Desember 2009
Pentingnya Visi
Ketika masih kecil kita sering ditanyai, “mau jadi apa besok kalau sudah besar?”. Pertanyaan itu sering diidentikkan dengan cita-cita atau tujuan hidup. Kita cenderung melihat kenyataan yang sudah ada. Profesi yang ‘wah’ yang biasanya menonjol di mata kita. Tak jarang kita akan menjawab pertanyaan di atas dengan dokter, polisi, tentara, pilot, arsitek atau guru. Karena bidang-bidang semacam itulah yang lebih menonjol daripada profesi lain di mata anak kecil.
Seiring dengan bertambahnya kedewasaan biasanya visi atau gambaran cita-cita kita sewaktu kecil dulu semakin memudar. Jika ketika masih TK kita dapat menjawab pertanyaan sederhana di atas dengan mantap & semangat, mungkin saat sudah duduk di bangku SMA kita mulai bimbang. Benarkah jawabanku ini? Kenapa demikian? Pikian anak kecil masih polos, sederhana & belum terkontaminasi oleh permasalahan-permasalahan yang lebih komplek. Anak-anak berpikir dengan imajinasi. Sedangkan ketika sudah menginjak usia remaja dengan pelbagai masalah yang komplek, kita cenderung berpikir rasional & logis. Lantas apakan jawaban kita dapat mempengaruhi kehidupan kita selanjutnya?
Disadari atau tidak ketika kita menjawab apa cita-cita kita secara otomatis otak & jiwa kita akan merespon kata-kata kita & akan selalu tertanam dalam pikiran. Jika sudah demikian pola hidup kita akan selalu berusaha untuk mencapainya. Berbeda jika kita tidak mempunyai jawaban atau gambaran kehidupan kita kelak. Pola hidup kita akan serba apa adanya & pasrah begitu saja.
Tujuan yang jelas memang sangat penting bagi kehidupan kita. Kebanyakan orang menganggap bahwa kesuksesan dilihat dari materi. Karenanya visi untuk memperoleh penghasilan yang berlimpah menjadi tujuan utama. Sacara tak langsung itu menuju hanya kepada kehidupan duniawi. Padahal ada yang lebih penting, kepuasan batin & ketenangan jiwa. Visi tersebut dapat lebih mencakup duniawi sekaligus ukhrawi.
Sebagai contoh seseorang yang ingin menjadi pelukis. Ia akan selalu bersemangat membahas & menambah wawasan yang berkaitan dengan seni rupa. Ia tak segan-segan mengeluarkan banyak biaya untuk mencoba & mencoba. Bahkan ia tak keberatan untuk berkelana mencari wawasan & pengalaman sebagai pematangan keahliannya.Ia memang tekun. Bukan semata-mata tekun. Tapi karena mempunyai visi jauh ke depan. Ia rela pontang-panting demi mencapai visinya. Maka secara tak langsung juga mengamalkan hadits Nabi SAW : Man Jadda Wajada. Tak heran visinya akan tercapai. Entah membutuhkan waktu berapa lama.\
Visi dapat mempengaruhi semua tindakan kita. Kita dapat mencintai sesuatu ynag kita benci karena visi. Kita dapat memperoleh pelajaran besar dari sesuatu yang kecil karena visi. Kita pun dapat memperoleh keberhasilan karena visi. Bagaimanapun sulit jalannya jika visi sudah jelas tetap akan kita lalui. Visi memang merupakan pijakan awal dari keberhasilan. Maka dari itu cari & canangkan mulai dari sekarang, apakah visiku?
Lirboyo, 7 Desember 2009
Sabtu, 14 November 2009
Episode Terakhir El Rahma
Hotel Insumo Palace terletak + 500 m ke arah selatan dari alun-alun. Lokasinya asri & strategis. Terletak di pinggir sungai Brantas. Areanya juga lebih nyaman jika dibandingkan dengan hotel Lotus, tempat El Rahma mengadakan acara pelatihan terjemah Al Qur'an dulu. Lotus memang menjanjikan kemewahan, pelayanan & fasilitasnya yang lux. Tapi sayang areanya saja yang sempit, nyempil di antara gedung-gedung dinas & rumah-rumah penduduk. Insumo mempunyai kawasan yang luas. Bayangkan saja, ada restoran, hotel, gedung pertemuan, area parker, 2 lapangan tennis, juga lahan & gedung kosong yang aku tak tahu fungsinya. Walau tak se'wah' lotus, insumo menawarkan suasana yang lebih asri. Beruntung kemarin saat gladi bersih aku yang pertama kali sampai di sini. Tak kusia-siakan untuk menikmati & berkeliling area hotel.
Di dalam undangan tertera bahwa wisuda El Rahma akan dimulai pukul 9. Aku & bapak sampai di tempat tujuan pukl 8.30. karena intruksi dari pembina bahwa sebelum wisuda dimulai akan diadakan gladi bersih lagi sebagai persiapan terakhir. Jadi hanya berlatih bagaimana sikap kami selama acara berlangsung. Tapi, apa sudah menjadi kebiasaan, teman-teman belum banyak yang berkumpul ketika aku sampai di sini. Apa boleh buat. Bapak kutinggalkan sendiri bersama wali murid yang lain. Aku bergabung dengan teman-teman lain di aula. Kami semua yang sudah berkumpul diminta untuk langsung siap dengan toga.
Gladi bersih dilaksanakan tak lebih dari satu jam. Alhamdulillah semua lancar. Kini tinggal praktek yang sebenarnya saat acara nanti. Pelaksanaan wisuda masih menunggu tamu undangan & widsudawan lain yang belum datang. Jeda antara selesai gladi dengan mulai wisuda hampir satu jam lamanya. Aku sampai ketar-ketir, apakah sebelum dhuhur nanti recanaku sudah terlaksana semuanya.
Pukul 10 MC membuka acara. Sebagai MC adalah Pak Mahfud, dalam bahasa indonesia & salah satu mahasiswa El Rahma, dalam bahasa Inggris. Aku belum mengenal keduanya. Urutan acara hampir sama dengan acara-acara lain pada umumnya.
Yang membuatku deg-degan adalah acara ketiga setelah para instruktur menempatkan diri & mendengarkan lagu Indonesia Raya. Aku & Linda ditugasi menjadi qori & pembaca sari tilawah sebagai pembukaan acara. Ketika kami dipanggil untuk maju ke depan demam panggung mulai menyerang. Pikiranku tetap kufokuskan untuk membaca tilawah nantinya. Langkah demi langkah terasa begitu berat. Dalam hati kami berdoa agar semua lancar sesuai dengan gladi kemarin. Sesampai di depan kami melangkah menuju mimbar setelah terlebih dahulu membungkukkan badan tanda hormat pada instruktur. Aku yang pertama naik. Nafas kuatur sedemikian rupa sehingga suasana lebih bersahabat. Ini seperti jam'iyyah di kamar, pikiranku memotivasi. Tak ada yang perlu dirisaukan. Baca dengan rileks & tenang. Begitu naik mimbar aku berdoa, ya Allah berilah kemudahan.
Kini semua terlihat jelas dari atas sini. Mata para hadirin seakan menyerangku. Konsentrasi, fokuskan pada bacaan, pikirku. Dengan salam aku memulai membawakan tilawah. Satu per satu kalimat dalam ayat yang kubaca kulantunkan. Tak lama kemudian suasana sudah tak lagi menegangkan. Akhirnya aku bisa mengendalikan suasana. Jika ingat persiapanku ini rasanya seperti mau tertawa sendiri. Bagaimana tidak lagu yang akan kulantunkan saja aku tak tahu. Baru 2 hari sebelum hari H aku sempatkan untuk minta masukan dari kang Mizan yang dulu juga pernah membawakan tilawah saat wisuda angkatannya. Kata kang Mizan tilawah itu tak berbeda jauh dengan tartil. Yang membedakan adalah pengaturan lagu & temponya. Jika tak bisa memakai keduanya pakai salah satu. Aku memlih lebih melatih tempo dengan lambat agar tidak terdengar seperti tartil. Alhamdulillah usahaku berhasil. Walaupun kini membawakannya dengan lagu apa aku tidak tahu, yang penting dapat berjalan sesuai aturan. Alhamdulillah.
Selesai kami membawakan tugas masing-masing kami kembali ke tempat duduk sesuai dengan urutan & jurusannya. Setelah itu adalah orasi ilmiah oleh Bapak Khoirul Roziqin, selaku ketua yayasan El Rahma. Pak Roz berbicara banyak tentang bagaimana cara kita untuk mendapatkan kebebasan finansial. Kondisi pada saat kita tidak bisa bergantung pada orang lain yang menuntut kita untuk tetap mendapatkan penghasilan. Inilah yang disebut kebebasan finansial. Oleh beliau kami diberi motivasi & wawasan sebagai bekal kami terjun ke dunia kerja, yang mana paling menuntut kebebasan finansial ini. Cerita tentang Pablo si manusia pipa & Bruto si pemanggul ember menjadi bahan diskusi demokratis ini. Artinya jawabannya masih menggantung. Dan itulah yang menjadi tugas kami, para wisudawan untuk selalu mencari jawaban (cara) mendapatkan kebebasan financial. Sedikit-sedikit ceramah dari beliau dapat menggugah semangat kami untuk berwirausaha.
Acara yang paling ditunggu akhirnya tiba, prosesi wisuda. Sebagai pemindah tali toga adalah pak Khusnu. Kami dipanggil sesuai urutan. Dimulai dari administrasi, desain, akuntansi & teknisi. Kami cah-cah desain duduk di deretan belakang administrasi. Satu per satu teman-teman meninggalkan tempat duduk & kembali. Bapak sempat mengambil gambarku ketika lewat bangku wali murid & ketika aku naik ke atas panggung. Aku melangkahkan kaki manuju pak Khusnu untuk melepaskan kami secara simbolis dengan memindah tali toga ketika namaku dipanggil. Rasanya lega banget ketika tali dari kiri berpindah ke kanan. Akhirnya selesai. Aku bersyukur dapat menyelesaikan kuliah, yang walaupun hanya satu tahun, ini. Bu Ririn memberikan sertifikat & selamat kepadaku. Aku kembali ke tempat dudukku.
Selanjutnya adalah ikrar wisuda yang dibawakan oleh Doni & Naning. Ikrar ini seperti yang aku baca berisikan pernyataan apa saja yang mesti kami penuhi sebagai wisudawan. Seperti menjaga nama baik almamater, menjalin hubungan yang baik antara sesama wisudawan & instruktur. Kemudian sebagai penutup rangkaian wisuda adalah orasi dari perwakilan wisudawan yang dibawakan oleh Eko, dalam bahasa Indonesia & Eka dalam bahasa Inggris. Setelah itu pak Khusnu menutup acara sidang terbuka ini dengan mengetok palu & ucapan hamdalah. Doa penutup dipimpin oleh pak Mukmin. Acara kini resmi selesai & tinggal rehat & ramah tamah.
Rasanya ada yang kurang, pikirku. Bukankah ini terakhiran denga teman-teman? Kenapa harus tergesa-gesa pulang? Tapi kalau memang situsai yang menuntut mau bagaimana lagi. Untungnya bapak bawa kamera. Kusempatkan untuk berfoto dengan sahabat-sahabatku, salah satunya Nunuk. Rasanya aneh, setelah 4 tahun bareng, besok sudah tidak ketemu lagi. Perpisahan memang begitu. Tapi kuusahakan tidak terlalu memikirkannya. Toh, aku masih punya tanggungan yang lebih besar, mondok. Akhirnya kucukupkan pertemuan terakhir bersama teman-teman sebelum semuanya pulang. Entah kapan kami semua bisa bertemu kembali. Semoga kelak Allah mempertemukan kami kembali dengan keadaan yang lebih baik dari sekarang.
Lirboyo, awal November 2009
Kamis, 22 Oktober 2009
Semangat Awal Tahun di Lirboyo
Irfa' ro’saka!, angkatlah kepalamu wahai para Santri. Di luar sana ada banyak orang yang berusaha menghancurkan kita. Kita boleh ndingkluk ketika berhadapan dengan mbah Kiai Idris, tetapi kita harus tegap, berani & siap menghadapi mereka (golongan non ahlu sunnah wal jamaah).
Ini adalah sebagian kutipan dari pidato panjang Kiai Said Aqil Siradj tadi malam di serambi. Sedikit banyak orasi sekitar satu jam itu dapat melecutkan kembali semangatku sebagai santri & membuat semakin jelas apa & bagaimana visi generasi pesantren. Acara yang bertajuk Halal bi Halal seponpes Lirboyo yang diadakan di serambi masjid Lirboyo ini merupakan acara rutin tiap tahun untuk membuka & mengaktifkan kembali kegiatan-kegiatan di ponpes Lirboyo. Kali ini Lirboyo kedatangan 2 tamu kehormatan, Gus Ipul ( Bpk. Saifullah Yusuf), wagub Jatim & Kang Said (KH. Said Qil Siradj), pengurus PBNU yang juga alumni Lirboyo.
Pidato dari beliau berdua banyak menyinggung tentang pesantren. Maklum pesantren Lirboyo adalah salah satu lembaga pendidikan yang masih berbasis salaf. Gus Ipul lebih membahas perkembangan madrasah diniyah di Jatim & ke depannya. Fakta yang terjadi 80 % madrasah diniyah (Madin) berada di bawah naungan kiai & pesantren. Dan peran madin sendiri ternyata sangat besar, yaitu turut melestarikan keilmuan Islam. Ironisnya madin & pesantren terkesan dianak-tirikan oleh pemerintah. Mulai dari masalah finansial hingga kesehatan. Nah, maka dari itu duet Pakde Karwo-Gus Ipul ingin membuat inovasi baru dalam masa pemerintahannya. Salah satunya adalah mengangkat kembali derajat pesantren yang sejak dulu memang menjadi ikon Jatim. Dari penjelasan Gus yang humoris & berkumis ini pesantren-pesantren di Jatim akan diberi BOS seperti yang telah diberikan kepada sekolah-sekolah formal lainnya pada tahun 2010. Dana yang sudah terkumpul sekitar 200 M. kita doakan saja semoga niat baik para umara kita ini diridhoi oleh Allah.
Sementara itu kang Said banyak memberikan motivasi, masukan & wawasan tentang NU, pesantren & aliran-aliran lain. Seperti yang kusinggung di atas, pidato beliau dapat membakar semangatku sebagai santri. Santri harus siap mental & ilmu dalam berbakti di masyarakat & mengahadapi golongan yang ingin merusak aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Kang Said banyak berbicara tentang Wahabbi golongan yang mempunyai ‘hobi’ membid’ahkan luar kaumnya. Oleh beliau kekurangan-kekurangan mereka dibahas habis. Diantaranya adalah kurangnya kaum ulama di dalamnya. Ulama di sini bukan dalam arti luas, orang yang ahli dalam bidang keilmuan. Ulama merupakan sebutan untuk orang yang ahli dalam masalah agama Islam. Karenanya tak heran jika dalil & dasar yang sering mereka gunakan untuk main serang bid’ah terkesan banyak kejanggalan. Karena Islam di zaman Nabi memang berbeda di zaman sekarang. Mau tak mau sikap fleksibel (tasamuh) dalam menerima perkembangan zaman tak dapat dielakkan. Tentu saja dengan tetap berpegangan pada dasar-dasar Islam.
Perkembangan Islam sendiri telah melewati banyak kurun yang menghasilkan berbagai fan-fan ilmu yang dapat menjelaskan Islam. Sebagai contoh kita memerlukan banyak ilmu agar dapat mendalami Al Qur’an & Hadits. Diantaranya nahwu, shorof, balaghoh, mantiq, bayan, tafsir, tajwid dll. Ilmu-ilmu tersebut lahir dari pemikiran para ulama. Dari kurun yang sudah terlewati telah banyak ulama yang ikut andil melestarikan keilmuan Islam. Sementara itu kaum Wahabbi yang mengajak kembali ke Al Qur’an & Hadits seakan-akan meniadakan para ulama. Hanya orang-orang yang sepaham saja yang mereka cantumkan sebagai ulama. Karenanya kesan yang ditimbulkan Wahabi adalah berpikiran sempit & tidak terbuka. Apa yang dalam Al Qur’an & Hadits tak ada langsung mereka anggap bid’ah. Padahal 2 pedoman kita ini adalah rujukan yang selalu relevan di berbagai zaman. Karenanya makna & kandungannya begitu luas yang memerlukan pemikiran luas & terbuka. Kang Said dapat begitu detilnya membahasnya.
Apa yang menjadi kekurangan Wahabbi ternyata malah menjadi kelebihan Ahlus sunnah wal jamaah. Deretan ulama yang bersanad muttashil dengan Rasulullah banyak lahir di kalangan Aswaja. Buah tangan mereka memperkaya ilmu & pemahaman tentang ajaran Rasulullah. Karya-karya mereka pula yang menjadikan syari'at Islam masih lestari. Selain itu secara tidak langsung memudahkan kita, umat islam yang kurunnya jauh dengan kurun Nabi maupun sahabat, dalam memahami Islam. Maka apakah pantas jika kita meniadakan sederet Ulama yang telah berjasa, kemudian hanya segolongan & sepaham saja yang dimunculkan? Kang Said yang kini juga menjadi pentolan NU & Lirboyo menuntut para santri yang masih di pesantren untuk bisa menyamai & meneladani beilau-beliau para ulama Aswaja.
Sebagai santri yang berpaham Ahlus sunnah wal jamaah sudah sepantasnya kita melestarikan khazanah keilmuan Islam. Dengan orasi dari kedua tokoh di atas semangat & kepedulian kita sedikit-sedikit pasti terlecut. Maka mumpung masih awal tahun kita tata niat kita kembal.i Semangat & niat awal tahun memang bisa mempengaruhi kinerja kita ke depan. Ya Tholibal ilmi Irfa' Ro'saka!
Lirboyo, 9 Oktober 2009