Tulisan-tulisanku walaupun tak ada yang menarik darimu AKu selalu tak segan tuk bercengkrama denganmu
Selasa, 20 Juli 2010
Di Balik Satu Abad Lirboyo
mbah Manab memulai perjalanan ini
dengan hanya berbekal ikhlas & tawakal
mbah Manab menempa mental santri-santrinya
dengan bermodal 'nggih', manut pada guru
mbah Manab berhasil membuktikan
Inilah Pesantren!
Inilah Lirboyo!
sekian ribu tapak tilas tergores
sekian ribu kisah & riwayat
menjadi saksi bisu perjalanannya
hingga kini
100 tahun sudah rintisan mbah Manab berdiri kokoh
Satu Abad sudah Lirboyo berkiprah
...
panflet, spanduk, baliho
hingga kabar mulut kr mulut
menjadi media yang menyebarkan usianya
mendadak Lirboyo menjadi buah bibir yang tak habis untuk selalu dibicarakan
mbah Manab, mbah Marzuki, mbah Mahrus, gus Makshum
Alfiyah, fathul Qorib, hingga senggot
menjadi topik menarik
tiap cangkrukan di mana-mana
seminar demi seminar mewarnai aktivitas
bakti sosial semakin mempererat hubungan Lirboyo dengan masyarakat sekitar
musabaqoh-musabaqih membuat suasana semakin meriah
lontaran jawaban Mubahhits dalam bahtsul masail
membuat penontonnya semakin berdecak kagum
kemeriahan bazar juga tak kalah menjadi perhatian
souvenir-souvenir berjejer menghiasi etalase toko-toko sepanjang jalan
logo-logo Satu Abad hasil coretan kreatif tangan santri membuat tembok semakin berwarna
semuanya demi memeriahkan
Peringatan Satu Abad Lirboyo
dan puncaknya
sekitar 30.000 jama'ah berkumpul bersama 100 kiai & habaib
untuk beristighotsah di area Al muktamar
sekitar 10.000 alumni berdatangan demi bernostalgia bersama
mengikuti MUNAS HIMASAL
berpartisipasi dalam Silaturahim bersama Presiden
di pondok tercinta
tokoh-tokoh nasional hasil gemblengan Lirboyo
membakar kembali himmah sebagai santri dengan gojlokannya
dalam acara Reuni Akbar
di balik itu semua
aku sangat bersyukur bisa menjadi bagian kecil
dari besarnya Peringatan Satu Abad Lirboyo ini
Lirboyo, 22 Juli 2010
Jumat, 16 Juli 2010
Trio Pembakar Semangat
Dulu aku masuk kelas pertaman di kelas pak Bin. Alasan waktu itu cuma satu, ada temanku, Asnawi. Aku tak mencoba saran teman-teman untuk menjajal satu per satu kelas hingga menemukan yang cocok. Pikirku toh pelajarannya sama. Padahal oleh panitia ujian masuk aku seharusnya masuk di bagian B3, pak Daim. Aku memang belum mengenal musathiq kelas 1 Tsn. Makanya kelas B1 merupakan pilihan pertama sekaligus terakhir setelah ujian masuk.
Jika disimak pak Bin dalam mengajar pelajaran lebih banyak terpaku pada teks. Tapi tetap ada motivasi & wawasan lain yang disampaikan. Pak Bin memang bidangnya bukan berpidato hingga berbusa-busa, tapi lebih pada ngaji kitab dan telatennya. Asli beliau adalah satu-satunya mustahiq bagian B yang paling rajin, telaten, sregep, dan ‘sayang’ dengan anak didiknya. Bayangkan sudah ada di depan kelas 10 menit bahkan 5 menit setelah teng lalaran berbunyi. Karenanya aku sering kena takzir karena tak bisa mendahului pak Bin berangkat sekolah & musyawarah. Beliau juga paling telaten dalam membimbing & menjaga setoran hafalan teman-teman hingga muhafadhoh kemarin. Bahkan bagi teman-teman yang belum berpredikat jayyid dalam muhafadhoh maupun setoran masih dianggap mempunyai tanggungan pada beliau. Sedangkan mustahiq lain, jangankan setoran hingga muhafadhoh, setoran rutin mingguan saja mungkin agak santai. Oleh karena sikap pak Bin yang telaten ini pak Zam kadang gojlok pak Bin sangat keibuan dalam mentarbiyah anak didiknya. Walau begitu aku sangat bersyukur mendapat mustahiq seperti beliau. Karena dengan begitu tak ada kata santai & selalu merasa disemangati. Tak salah dulu aku ikut Asnawi di kelasnya.
Begitu masuk kwartal II, B1 mendapat giliran rolling pindah ke kelas B2 dengan mustahiq dari B3, pak Daim. Kesan pertama melihat pak Daim rasanya horror banget. Bagaimana tidak, secuil senyum saja jarang tersungging di wajah beliau. Dan ternyata bukan aku saja yang merasakan euforia ini. Karena sikapnya yang kelihatan selalu tegang ini tak banyak kasus membolos di kelas kami. Tak perlu tanya macem-macem, siapa yang tidak musyawarah, tidak lalaran dan tidak-tidak yang lain. Hanya itu. Selama menjadi rois Alfiyah di kwartal ini setoran hafalan pelajaran bisa dihitung. Tapi begitu ‘interogasi’ pak Daim keluar hanya segelintir yang berdiri. Ternyata ampuh juga sikap cuek seperti ini.
Bagiku sistem pengajaran pak Daim berkebalikan dengan pak Bin. Beliau lebih banyak berbicara secara kontekstual & berbagai macam masalah aktual di luar sana dengan tetap berpatokan dengan pelajaran yang diajarkan. Bisa saja ketika menerangkan Alfiyah atau I’rob penjelasannya nyasar hingga ke ranah perpolitikan negeri ini. Tapi dengan begini aku justru merasakan semangatku bertambah. Jangan terlalu terpaku pada teks. Selain itu pak Daim juga paling jago untuk membakar himmah kami sebagai santri Lirboyo untuk masa depan, tak malu dengan predikat santri & memotivasi kami agar bisa memadukan akademik (kuliah) dengan salaf (pesantren). walau beliau sendiri sebenarnya belum pernah mengenyam bangku kuliah, aku yakin kemampuannya bisa disandingkan dengan dosen-dosen di kampus. O iya ada satu lagi ciri khas pak Daim, untuk urusan musyawarah beliau nomor satu. Musyawarah kelas, pra FQ, Fathul Qorib hingga forum-forum Bahtsul masail selalu beliau tekankan pada kami. Dan puncaknya kemarin beliau masuk ANTV karena bahtsu yang membahas rebonding. Bangga deh punya mustahiq seperti pak Daim.
Mustahiq selanjutnya untuk bagian B1 adalah pak Zam dari B2. menurutku sistem pak Zam merupakan gabungan antara kedua mustahiq sebelumnya. Penjelasannya tak pernah jauh dari kitab kuning. Tak jarang aneka ayat al Qur’an, hadits sampai maqolah dari berbagai kitab beliau utarakan. Kama qila fi… dan penjelasan pak Zam juga selalu berhubungnan dengan tasawuf, pendidikan hati. Makanya lebih terkesan sebagai wa’idh, ‘seksi’ mau’idhoh hasanah.
Gaya khas dari pak Zam adalah gojlok. Kebanyakan gojlokan ditujukan bagi teman-teman yang ‘bermasalah’. Karena digunakan untuk menyadarkan orang gojlokan-gojlokan beliau selalu berbobot & berisi. Tidak sembarang gojlok seperti pada jam’iyyah-jam’iyyah pada umumnya. Tapi karena namanya gojlokan tetap saja terasa cair & tak jarang bikin ketawa. Namun tetap membekas di hati & membuat kita berpikir. Tak salah jika di antara ketiga mustahiq kami, pak Zamlah yang paling plek, akrab dengan murid-muridnya. Bahkan kadang sampai terjadi serang-serangan gojlokan. O iya ada satu hal lagi yang khas dari pak Zam, beliau tidak pernah duduk di kursi yang disediakan selama mengajar. Sebagai gantinya teman-teman biasanya sudah menyediakan sajadah lengkap dengan bantal di dekat meja. Mungkin prinsipnya seperti pak Fata, bahwa aku belum pantas menduduki kursi guruku.
Selasa, 13 Juli 2010
Persiapan dari 3 Guruku
Tak bisaanya acara khataman kitab 3 kelas digabung menjadi 1. Hari ini memang pelajaran awal tsani kelasku Waroqot, pengantar ushul fiqh. Sengaja begitu ya itu tadi, khataman. Menjelang istirahat pak Bin menginformasikan kalau nanti khatamannya digabung dengan kelas sebelah. Pikirku mungkn seperti Bulugh kemarin yang dikhatamkan ketika gabung dengan kelas B2. Tapi ini tidak. Bayangkan siswa 3 kelas berkumpul dalam ruangan ukuran sekitar 8x9 m. Yang membedakan di kelas B2 yang menjadi saksi bisu lailatul ijtima’ bagian B ini formasinya ditata sedemikian sehingga didepan ada tempat khusus untuk 3 orang mustahiq kami. Entah siapa yang mempunyai inisiatif seperti ini. Yang jelas malam itu menjadi malam berkesan yang mengisi kembali tangki semangat kami yang hampir kosong karena suasana akhir tahun.
Dalam pelajaran tak bisaa ini juga ada MCnya. Lutfi dari kelas pak Daim yang mengatur jalannya acara yang isinya sesuai dengan bidang ketiga mustahiq kami yang berbeda-beda. Pak Bin sebegai qori’ kitab yang mengkhatamkan Waroqot, pak Daim sang motivator dari LBM mengaduk-aduk pikiran kami & merefill semangat dengan doktrin-doktrin khasnya. Dan terakhir pak Zam sebagai penyimpul sekaligus pembaca doa penutup.
Pada malam bersejarah bagi kami warga B itu masing-masing mustahiq memotivasi kami. Yang paling banyak memerikan masukan & tips sebagai bekal kami untuk melanjutkan perjalanan di MHM ini adalah pak Daim. Dengan gaya menggebbu-gebu seolah tak ada titik & koma, pak Daim terus mendoktrin kami. Aku rasakan ada semangat yang meletik di dada. Pak Zam & pak Bin juga begiu, membekali & memotivasi kami, tapi tak sederas motivasi pak Daim.
Pak Daim menyitir hasil muhafadhoh kelas I Tsn kemarin, bahwa untuk tahun ini ada kenaikan dalam peringkat mutawasith & rodi', juga penurunan dalam peringkat jayyid jika dibandingkan dengan kelas I Tsn tahun lalu. Artinya kualitas kelas 1 Tsn tahun ini menurun. Tak tanggung-tanggung hingga 8 %. Melihat kenyataan seperi ini siapa yang tahan untuk tinggal diam? Aku sendiri kadang bertanya kenapa banyak teman-teman yang tidak mencapai target nadhom, kenapa bisa sebegitu mudahnya menerima hasil mutawasith bahkan rodi'? menurut mustahiqku dari Ngawi ini penyebab pokok dari ini semua adalah (kurangnya) persiapan.
Banyak orang yang meremehkan hal sepele namun amat berharga ini. Bagaimana tidak, kebanyakan dari kita lebih senang mengerjakan sesuatu jika sudah mepet, dikejar deadline. Padahal dengan berbekal persiapan yang cukup tak usah banyak-banyak, apa yang kita hadapi akan terasa lebih ringan. Ujian, belajar, menulis, nglalar hingga bayar hutang kebanyakan lebih memilih waktu-waktu kritis ketika sudah mendekati hari H. entah kenapa itu semua kita nikmati sehingga menjadi karakter.
Aneka tips & masukan pak Daim kemukakan. Bagaimana mengoptimalkan waktu musyawarah, waktu sekolah, waktu belajar, hingga waktu mondok yang relatif terbatas. Bahwa madzhab Lirboyo yang berupa al fahmu ba'dal hifdhi lebih beliau tekankan untuk dibalik. Pahami terlebih dahulu. Hanya pahami. Setelah itu hafalkan. Baru setelahnya dalami & cari referensi-referensi yang mendukung. Usahakan selalu aktif dalam musyawarah. Karena kegiatan inlah yang membuat otak kita semakin tersasah, analisis lebih tajam & tanggapan makin kritis. Untuk bisa isytighol pada ini semua tidak boleh ada kegiatan lain yang mengganggunya, seperti menghafal nadhom & menulis pelajaran. Bukankah suatu fiil hanya bias mempunyai satu ma'mul? Jika dilihat mempunyai dua ma'mul maka salah satunya harus mentaqdir fiil lain. Sehinga satu fiil tetap bisa isytighol pada satu ma'mul saja. Nah, agar semua itu bisa terlaksana perlu adanya persiapan. Sekali lagi persiapan. Persiapan dalam menghafal nadhom agar tidak keteteran & menulis pelajaran agar bisa lebih leluasa belajar. Karenanya oleh pak Daim dalam liburan akhir tahun selama + 2,5 bulan ini diharapkan kami bisa melaksanakan persiapan-persiapan tersebut. Aku jadi teringat nasehat pak Fata dulu, isi liburan dengan nglalar & nulis. Ternyata ini manfaatnya.
Mengenai madzhab Lirboyo tadi tak selamanya pak Daim membaliknya. Beliau tetap menekankan kepada kami untuk tetap melaksanakannya, supaya karakter Lirboyo sesunggunya dapat kami peroleh. Dengan hafal terlebih dahulu maka kita lebih mudah untuk memahami. Jika dibandingkan dengan orang yang hafalannya selalu mepet dengan waktu setoran tapi tetap lancar masih lebih baik hafal dulu, punya persiapan hafalan. Karena yang lebih penting dari itu semua adalah tsubut yang dihasilkan setelah selesai setoran. Hafalan yang mempunyai persiapan lebih mempunyai bekas daripada yang mengafalkan mepet walau dengan kemampuan otak cemerlang.
Ada satu kata yang terus terngiang di kepalaku, sebanyak apa yang kau tanyakan sebanyak itu pula kau paham. Jika diruntut lebih lanjut ternyata kemampuanku selama ini belum ada apa-apanya. Aku cenderung menerima begitu saja materi yang diajarkan tanpa bersikap kritis yang menimbulkan aneka tanda tanya. Dalam musyawarah pun aku termasuk golongan yang pasif berbicara, walaupun cuma bertanya. Selanjutnya apakah aku bisa memenuhi amanat pak Daim ini? Semoga.
Setelah sekian puluh menit pak Daim menggebu-gebu membakar semangat kami, giliran pak Zam yang menyiramkan nilai-nilai tasawuf yang menyejukkan hati kami. Tak banyak yang beliau utarkan karena waktu juga sudah semakin malam. Apalagi lonceng pertanda jam sekolah usai, pukul 11 sedah berbunyi. Di antara yang beliau tekankan adalah masalah unggah-ungguh kita sebagai santri dengan guru. Beliau mengibaratkan guru sebagai dokter & murid sebagai pasien. Pasien harus selalu patuh pada dokter jika ingn sembuh dari penyakitnya. Jika hanya mematuhi perintah saja tidak mau, siap-siap saja menanggung penyakit yang semakin parah. Begitu halnya murid terhadap gurunya.
Sebagai acara penutup adalah doa oleh pak Zam & mushofahah kepada mustahiq. Malam itu benar-benar malam yang membakar & merefill semangat kami.
Lirboyo 2 Juli 2010
Kamis, 15 April 2010
Mengapa (Naruto) harus gagal?
Satu hal yang begitu menonjol dalam serial Naruto adalah bangkit dari kegagalan. Terhitung dari semua tokoh yang sudah aku kenal adalah berlatar belakang tidak menguntungkan. Bahkan dikucilkan oleh orang-orang sekitar. Naruto sejak kecil dicap sabagi orang bodoh yang biang heboh. Dalam tubuhnya terkurung siluman berkekuatan luar bisaa yang ditakuti orang-orang. Sasuke hidup sebatang kara sejak klan keluarganya dibantai oleh kakaknya sendiri. Sakura dari kecil adalah orang yang penyendiri yang tak tahu kemampuannya. Lee hidup sebagai ninja yang tidak mempunyai kemampuan genjutsu (jurus ninja), hanya bisa mengandalakan taijutsu (fisik). Neji & Hinata hidup dalam kungkungan takdir keluarga Hyuga yang mengikat. Gaara dari kecil merupakan orang yang terbuang bahkan oleh ayahnya sendiri karena dianggap monster. Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh dengan latar belakangnya masing-masing.
Kiranya kiasan kegagalan merupakan pijakan awal menuju kesuksesan ada benarnya. Tak sukses yang muncul dengan sendirinya atau warisan dari keluarga. Sukses yang sebenarnya adalah dari diri sendiri. Karena nasihat dari hati nurani lebih mempengaruhi daripada komentar-komentar orang lain. Orang yang sukses adalah orang yang berhasil menemukan impiannya & berusaha sekuat tenaga untuk menggapainya.
Ambil contoh saja Naruto. Satu hal yang begitu melekat & menjadi karakter Naruto adalah pantang menyerah. Dulunya Naruto memang terkucilkan & selalu sakit hati. Seiring bertambahnya usia & teman-temannya Naruto bisa mematri dalam jiwanya untuk selalu berkorban demi melindugi orang yang dicintainya. Karena hal ini ia tidak pernah menyerah sebelum bisa menyelamatkan temannya. Kata-kata khasnya adalah, aku tidak akan menarik kata-kataku. Itulah jalan ninjaku. Sekali maju ia tidak akan mundur sebelum tujuannya tercapai. Mengherankan memang sifat keras kepalanya ini. Tapi di sinilah sebenarnya tumbuh kekuatan itu, nasehat (motivasi) dari diri sendiri. Bukankah Nabi SAW kuga bersabda, istafti qolbak!. Kekuatan dari diri sendirilah yang dapat membangkitkan kekuatan yang lain. Lihat saja ketika Naruto bertarung melawan Gaara juga Orochimaru & Kabuto demi melindungi temannya. Bahkan karena sikapnya ini semangat teman-temannya ikut terbakar. Sikap pantang menyerah & ingin melindungi yang timbul dari diri sendii. Inilah salah satu poin openting yang dapat dipetik dari Naruto.
Nah, sekarang mari kita larikan pada kenyataan. Setelah dari tadi membahas dunia khayalan Masashi Kishimoto mari kita bertanya pada diri kita sendiri, bagaimana dengan kita? Apakah sudah mempunyai tujuan yang jelas? Seperti Hokage yang menjadi tujuan Naruto. Lantas sudahkan kita berusaha mencapainya? Dan ingat kekuatan terbesar adalah dari diri sendiri. Jika tidak maka dari kehidupan sekitar.
Lembaran-lembaran sulit kehidupan yang terjadi pada Naruto dan kawan-kawan adalah hasil observasi sang pengarang juga. Pada kenyataannya memang demikian. Tak ada orang yag sukses yang kehidupannya selalu di atas dari awal hingga akhir. Dan ada saja jalan untuk mencapai puncak tersebut seterjal apapun itu. Hanya orang-orang-orang yang bermental kuat & berkarakter yang dapat melewatinya dengan caranya sendiri.
Seorang pedagang sukses bisa saja dulunya hanyalah satu dari sekian pengasong atau buruh. Dengan kemauan kuat ia bisa mentas dari perjuangannya sehingga dapat menjadi saudagar. Seorang pelukis, ambil contoh saja Gus Mus, sampai rela menjadi pembantu seorang pelukis terkenal di kotanya demi melihat sang maestro menggoreskan kuas catnya pada kanvas. Seorang mahasiswa atau santri ‘sejati’ harus bisa mengatur waktu kuliahnya yang terbatas agar selalu diisi dengan hal-hal yang dapat menunjang prestasinya. Para bahtsu-is (sebutan untul altivis bahtsu dariku :P) tidak bisa dikatakan tidak ngoyo dalam prosesnya untuk menjadi seorang yang mahir memainkan ibarot & memecahkan masail. Tak jarang diperlukan pelatihan (sorogan) intensif dengan pembimbing & kesadarannya selalu berusaha untuk bisa. Para pendekar pencak atau yang sejenisnya harus rela bontang-bantig badan demi mengusai teknik-teknik yang benar. Tak usah jauh-jauh, ibu juga termasuk orang kuat yang dibesarkan dengan penuh tempaan kesukaran sebagai anak sulung. Ibu rela sekolahnya tidak maksimal karena membantu orang tua (simbah) bekerja demi masa depan adik-adiknya. Walau tak semua sukses tapi kebanyakan sekarang sudah mapan & bisa membahagiakan orang tua.
Walhasil, dari sekelumit aneka kisah orang-orang yang memberikan warna di hidupku atadi mari kita bertanya, sudah seberapa ngoyokah kita yang sudah kita lakukan demi menapai impian? Tinggal kita memilih yang mana, jika usaha lebih tentu menghasilkan yang lebih pula, begitu juga sebaliknya. Karenanya kita harus gagal terlebih dahulu jika ingin mencapai kesuksesan di hari yang akan datang. Bukankah susah, sulit, gagal, & jatuh adalah sebuah keniscayaan untuk meraih mimpi & cita-cita?
Lirboyo,17 April 2010
Kamis, 11 Februari 2010
Gus Dur, Sebenarnya Panjenengan Itu Siapa?
Ada yang menyamakan GD dengan sosok semar (opini Jawa Pos, 060210). Semar merupakan refleksi dari kullu syai’ (segala sesuatu) yang selalu mempunyai muqobil (pembanding/lawan). Senang-susah, dewa-rakyat, langit-bumi. Demikian juga seperti yang diungkapkan Greg Barton dalam Biografi Gus Dur-nya. Ada yang menganggap penyematan gelar pluralisme dalam diri GD yang ‘kiai’ merupakan pelecehan. Kemudian diluruskan oleh adik GD sendiri (Gus Solah), bahwa pluralisme GD bukanlah menganggap semua agama adalah sama. Tapi pluralisme GD lebih menuju pada ranah sosial, toleransi dalam sesrawungan. Mengingat negara kita merupakan negara majemuk. Kemudian ada lagi, yang menganggap GD adalah tokoh yang sangat pantas mendapat penghargaan Guiness Book of Record karena banyaknya simpatisan & peziarah ketika beliau meninggal. Bahkan hampir menyamai presiden Mesir, Gamal Abdul Naseer yang ketika meninggal ditakziyahi hingga 4 juta orang. Begitu komentar yang diungkapkan Gus Mus, bolo plek GD.
Menyinggung tentang GD aku mau menuangkan sedikit uneg-unegku tentang almarhum. Hitung-hitung melengkapi tulisanku sebelumnya. Kini aku mulai tahu siapa sosok GD itu.
Beberapa hari yang lalu aku menyempatkan diri untuk menambah koleksi bukuku. Uang yang terkumpul di celengan sudah cukup untuk membawa pulang satu buku. Setelah cari informasi dari sana-sini tentang buku Biografi Gus Dur aku bersama Syueb pergi ke toko Almanar. Setelah membacanya ternyata tak sia-sia aku membelinya. Banyak informasi menarik tentang almarhum di buku karangan Greg Barton ini.
Walaupun aku belum merampungkan buku tebal ini, aku sudah berdecak kagum dengan isinya tentang kehidupan seorang GD. Kini baru sampai di masa ketika GD menjabat sebagai ketua PBNU.
GD muda adalah seorang enerjik & cerdas dengan kegiatan-kegiatan seabrek. Mulai dari mengajar, ceramah, menulis, hingga jualan es lilin menjadi kegiatan rutinnya selama menjalani masa-masa awal pernikahan. Sebelumnya selama proses belajar dari sekolah dasar, pesantren hingga kulliah beliau memang juga seorang aktivis. Sebagai aktivis beliau tak pernah lupa untuk selalu membaca, apa saja di mana saja. Tak heran wawasan & pengetahuannya terlampau luas untuk pemuda seusianya. Tak hanya kitab-kitab kuning pesantren, aneka buku-buku putih dari dalam maupun luar negeri banyak beliau baca. Hal ini membuatku semakin bersemangat untuk terus membaca. Tak hanya teks-teks kitab kuning dari ulama-lama zaman pertengahan yang menjadi ciri khas Lirboyo. Aku ingin seperti GD, selalu haus untuk membaca, apa saja. Karena ilmu Allah luas, lebih luas daripada berjuta-juta lembar kertas di LBM Lirboyo atau perpus, bahkan dengan dunia seisinya. Hoby membaca GD tadi semakin menyemangatiku untk tak segan-segan menambah koleksi bacaan.
Satu lagi hal yang menarik dari kehidupan GD., yaitu tak segan untuk bekerja. Baik ketika kuliah di Kairo & Baghdad maupun ketika sudah berumah tangga. Salah satu pekerjaan beliau pun termasuk pekerjaan sepele yang sering dipandang sebelah mata, jualan es lilin. Apakah ada di zaman sekrang ini, seorang cendekiawan, putra kiai, gus berkeliling menjajakan es? Weleh-weleh, benar-benar seorang yang mempunyai tekad kuat untuk selalu bertanggung jawab pada keluarga. Intinya GD tak pernah segan untuk bersusah payah walaupun predikat yang disandangnya cukup terpandang di masyarakat. Nah, bisakah aku meneladani semangat beliau ini?
Hidup di tengah lingkungan pesantren ternyata tak membuat GD tidak tertarik pada ilmu-ilmu umum lainnya. Bahkan jika kita tengok masa kecil beliau malah ilmu pesantrennya bisa dikatakan kurang. Aneka bacaan milik ayahnya -yang seorang kiai juga nasionalis- dilahapnya tiap hari. Tak jarang bacaan-bacaannya banyak dari Eropa, Belanda (yang menjajah Indonesia kala itu) & Indonesia sendiri. Tentu saja tak ketinggalan kitab-kitab kuning.
Baru setelah SMP GD lebih fokus pada ilmu-ilmu Islamnya dengan masuk ke beberapa pesantren, antara lain Krapyak, Tegalrejo & Tambakberas. Pribadi kiai mulai tercetak dalam dirinya. GD muda tak puas 'hanya' sekolah di pesantren. Oleh karenanya beliau berangkat kuliah guna melanjutkan studi & mengasah otaknya. Al Azhar menjadi singgahan pertamanya. Sayang di sini beliau tak betahan lama karena terjerat masalah kurikulum kampus. Beliau kemudian pindah ke Baghdad. Di sinilah masa-masa perkuliahan beliau hidup. Jiwa mahasiswa yang selalu ingin tahu & bersuara berkobar dalam jiwa seorang GD. Membaca kehidupannya sebagai mahasiswa membuat keinginanku untuk kuliah muncul kembali. Aneka kegiatan kampus & organisasi yang diselingi dangan kerja sambilan menjadi rutinitas. GD saja bekerja saat kuliah. Benar-benar membuat iri. Masih muda tapi sudah melanglang ke mana-mana. 4 tahun beliau menjalani kuliah d Baghdad hingga selesai. Setelah itu keinginan GD adalah melanjutkan kuliah S2-nya di Eropa. Sayang tak ada satu kampus pun di sana yang mengakui ijazah dari Baghdad. Dengan kecewa, setelah setengah tahun keliling Eropa mencari peluang kuliah, GD pulang ke tanah air.
Dari sekelumit sebagian kehidupan GD di atas tak sedikit membuat semangat terlecut. Semangat membaca, berbakti, belajar, bekerja & kuliah. Sebagai pemuda sudah pasti kita melewati hal-hal tersebut. Yang menjadi pertanyaan bisakah kita memoles masa muda kita agar kelak dapat memberikan bekal di kehidupan dewasa kelak.
Tak terasa telah 40 hari kita ditinggalkan guru bangsa kita. Akan tetapi sosoknya seakan belum ikut pergi. Topik-topik obrolan & cangkrukan mengenai GD akan selalu hidup & tidak akan hilang. Karena perjuangan & gagasannya yang menjadi PR untuk kita semua harus selalu kita lestarikan.
Lirboyo, 7 – 10 Februari 2010
Sabtu, 09 Januari 2010
Gus Dur di Mataku
Mungkin satu-satunya santri Indonesia yang sukses hingga pernah menjadi orang nomor wahid di Indonesia adalah KH. Abdurrahman Wahid. Tengok saja sejarah para ulama dahulu. Apakah ada yang sampai menjadi pemimpin nomor satu di negara? Rasanya tidak ada (atau aku yang belum tahu?). Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, Raden Patah, Joko Tingkir mungkin juga seorang pemimpin. Akan tetapi Gus Dur beda. Beliau tak hanya menjadi pemimpin, tapi juga seorang revolusioner. Jadi jika dibandingkan dengan tokoh-okoh di atas masing-masing mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri. Apalagi Gus Dur menjabat sebagai pemimpin ketika bangsa Indonesia sudah berbentuk republik.
Di mataku Gus Dur adalah sosok kontroversial sekaligus panutan. Semasa menjabat menjadi presiden aku kurang begitu tahu bagaiman gaya & sikap beliau dalam memimpin. Dari sumber-sumber yang ada menyebutkan bahwa pemerintahan periode Gus Dur adalah pemerintahan yang sangat terbuka dengan rakyat. Setelah 32 tahun Indonesia yang republik menganut kepemimpinan sentralistik dan otoriter, Gus Dur dengan gaya khasnya membanting stir menjadikannya sistem demokrasi. Tentu saja ini merupakan terobosan bagi Indonesia dan jasa terbesar bagi Gus Dur. Selama memimpin suasana terkesan begitu cair, tidak kaku seperti selama pak Harto menjadi ‘raja’. Tak jarang guyonan-guyonan terlontar setiap Gus Dur berpidato. Aku hanya mengetahuinya sepotong-sepotong, baik itu dari cuplikan teve, kutipan berita atau potongan tulisan mengenai Gus Dur. Maklum kala itu aku masih MI, mana sempat mikir begituan?
Aku hanya tahu sikap-sikap kontroversial Gus Dur justru setelah beliau lengser dari kursi kepresidenan. Mulai dari pembelaan Inul, Dorce, Ahmadiyah, Syi’ah, RUU APP, etnis Tionghoa dll. Semua itu aku masih ingat. Yang masih teringat jelas adalah saat kasus Inul yang digugat oleh bang Rhoma karena telah menjadikan dangdut sebagai ajang eksploitasi tubuh. Dengan tegas Gus Dur beserta istri membela Inul yang ‘sendirian’. Pada kasus Ahmadiyah juga demikian. Bahkan ketika Gus Dur mendukung massa anti-RUU APP para kiai di Jatim sampai kress dengan beliau. Dan yang paling tertoreh dalam sejarah adalah penghapusan kesan buruk pada etnis Tionghoa. Hingga Konghuchu dapat menjadi agama yang sah di Indonesia seperti halnya agama-agama lain di sini. Aku sendiri kadang bingung dengan sikap & keputusan beliau. Mau dibantah kok ya kiai? Mau setuju kok ya benar-benar “terlihat’ salah?
Akan tetapi kekontrasan sikap beliau inilah yang menjadikan beliau dicintai rakyatnya. Karena Gus Dur selalu membela kaum minoritas, pinggiran, tertinggal & terbuang. Bagaimanpun bentuknya Gus Dur tak segan-segan melawan arus mayoritas, jika menurut pandangan beliau kaum minoritas memang perlu dibela. Apakah kaum minoritas tersebut jelas-jelas tak sesuai dengan agama tetap Gus Dur bela. Karenanya beliau selalu dicintai kaum minoritas ketika membelanya dan disegani kaum mayoritas ketika sudah terlihat dampak dari sikapnya tersebut. Tak heran semua lapisan masyarakat nasional maupun internasional sangat berduka cita atas kepergian Sang Pluralis.
Mungkin sikap & pandangan beliau yang terlampau luas ini karena latar belakang pendidikannya. Walau Gus Dur lahir & dibesarkan di lingkungan pesantren orangtuanya memberi kesempatan seluas-luasnya untuk menuntut berbagai macam disiplin ilmu. Tak hanya berkutat pada berjilid-jilid kitab kuning tapi juga menambah wawasan dari buku-buku putih dari dalam maupun luar negeri. Bahkan konon dulu ketika mondok di Tegalrejo Gus Dur sering bolos ngaji demi memuaskan minat bacanya ke perpustakaan atau toko buku. Mbeling memang, akan tetapi dapat kita saksikan sendiri hasilnya.
Gus Dur yang santri tak hanya melihat dunia dari kacamata agama & pesantren, akan tetapi dapat melihat dari berbagai disiplin ilmu. Gus Dur yang santri tak berpandangan sempit yang menjadikan diri terkungkung dalam fanatisme. Gus Dur yang santri menjadi sosok demokratis yang sangat menghargai perbedaan yang sudah menjadi keniscayaan sunnatullah. Tak berlebihan jika pak SBY hingga memberikan gelar Bapak Pluralisme & Multikulturalisme kepada almarhum.
Di luar itu semua ada satu hal dari Gus Dur yang kuanggap istimewa. Hingga menjadi pelecut semangat dalam kehidupanku sekarang. Bahwa KH. Abdurrahman Wahid adalah santri nomor wahid di mataku, karena berhasil membuktikan bahwa tidak selamanya pesantren menjadi orang pinggiran. Bahkan dapat menjadi orang nomor wahid di negeri Indonesia ini. Jika dipikir secara rasional apakah bisa seorang yang tak punya ijazah formal kecuali hingga SMP, berbekal ilmu dari pesantren baik di Indonesia (Krapyak, Tegalrejo, & Tambakberas) maupun di luar Indonesia (Kairo & Baghdad) bisa diangkat menjadi presiden. Padahal jika melihat kenyataan sekarang, ‘hanya’ untuk menjadi PNS saja minimal harus berijazah S1. Belum jika mau mencalonkan diri menjadi bupati, gubernur atau presiden. Bukankah prestasi tersebut sangat mengharumkan nama pesantren di negeri ini? Karenanya sebagai insan pesantren jangan takut, malu atau minder untuk menggantungkan cita-cita setinggi-tingginya. Kalau Gus Dur yang santri saja bisa kenapa kita tidak?
…
Sudah satu minggu lebih Gus Dur meninggalkan kita, bangsa ini. Dengan meninggalnya ulama ini Allah telah mencabut satu dari sekian ribu ilmuNya. Telah hilang satu pegangan kita, yang berarti semakin melemahkan kita. Diperlukan pengganti pegangan dalam hidup kita ini. Akan tetapi adakah ulama yang bisa dijadikan pegangan sekaliber Gus Dur? Entahlah. Yang jelas kita tidak boleh begitu saja mencari pegangan tanpa melihat latar belakangnya. Karena jika kita salah memegang tambatan bisa jadi malah semakin jauh dari jalan Allah.
Gus Dur telah tiada. Akan tetapi jiwanya masih hidup & menghidupi hingga kini. Banyak pelajaran & hikmah yang dapat diambil dari seorang santri sekaliber Gus Dur. Bagaimanpun juga kita sebagai santri tak boleh berhenti meneruskan perjuangan beliau. Karena cita-cita yang beliau canangkan untuk bangsa, negara & agama ini belum sepenuhnya tercapai. Dan itulah yang menjadi PR bagi kita semua.
Selamat jalan Bapak pluralis & demokrasi. Semoga apa yang engkau perjuangakan dapat selalu lestari di bumi pertiwi & diridhoi Ilahi Robbi.
Lirboyo, 9 januari 2010
Sabtu, 02 Januari 2010
Suka dan Duka Penutup 2009
Tahun ini 2 anggota keluarga besar Syafi'i mendapat kesempatan untuk ziarah ke Makkah al Mukarramah & Madinah al Munawwarah. Lik Rodhi & lik Karoh menunaikan rukun islam yang ke lima, Haji. Aku & Kafa yang sudah di pondok menyempatkan diri untuk mengikuti prosesi pemberangkatan hingga ke Lapangan Trikoyo Klaten. Setelah itu rombongan kloter 85 tersebut melaju ke donohudan untuk mempersiapkan penerbangan esok hari.
Selama beliau berdua di tanah suci aku kurang mengetahui bagaimana kabarnya. Yang kutahu hanya beberapa kali lik Rodhi berkomunikasi dengan pihak keluarga di rumah. Tentu saja aku tak tahu, aku berada di pondok selama beliau beribadah di tanah suci. Lik Rodhi hanya 1 kali menelpon Kafa ketika di pondok. Aku memaklumi. Karena jika terlalu sering menjalin komunikasi bisa saja malah mengganggu kekhusyukan ibadah di sana.
Tak terasa sudah 40 hari keluarga di rumah ditinggal oleh lik Rodhi & lik Karoh. Sudah saatnya rombongan kloter beliau pulang. Dulu Kafa sempat memberitahuku kalau beliau pulang kembali tanah air akhir Desember, tepatnya tanggal 30. sehari sebelum hari itu kami yang masih di Lirboyo menyempatkan diri untuk pulang guna menjemput kedatangan beliau di Donohudan. Aku, Inun, Kafa & Fatah pulang hari Rabu.
Malam Kamis lik Rodhi menelpon ke rumah. Bahwa beliau sudah mulai naik pesawat & akan landing. Jam menunjukkan angka 8 malam WIB. Dan akan mendarat sampai di bandara Adi Sumarmo esok pagi sekitar pukul 7. Saat itu Inun juga memberitahu kalau ada berita duka mengenai Gus Dur. Tentu saja aku kaget & belum percaya. Akan tetapi begitu melihat siaran berita di teve aku baru menyadari jika itu bukan hanya kabar burung. Seorang tokoh besar, bapak bangsa & NU telah meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un.
Bapak juga tampak tak percaya ketika kuberitahu. Dari layar kaca tampak suasana RSCM tempat Gus Dur menghembuskan nafas terakhir. Malam itu mendung duka menyelimuti kami semua. Padahal besok adalah hari kedatangan lik rodhi & llik karoh setelah 40 hari berhaji. Akankah mendung duka ini juga akan menyelimuti suasana suka cita esok hari?
Seluruh stasiun teve menayangkan siaran langsung terkait kabar duka ini. Dari sekian stasiun teve MetroTV & TVOne yang meliput semua kondisi tempat almarhum menghembuskan nafas terakhir di Jakarta dan tempat terakhir bersemayamnya di Jombang. Malam itu tayangan prosesi pengurusan almarhum menjadi tontonan kami. Bapak baru ikut menyaksikan siarannya setelah selasai dari ngaji di Ngeseng. Rencananya almarhum akan disemayamkan di Tebuireng, Jombang di samping kakek dan abahnya, KH Hasyim Asy'ari & KH Wahid Hasyim. Jenazah akan diberangkatkan dengan pesawat dari Jakarta esok paginya. Dan nantinya prosesi pemakaman akan menggunakan upacara kenegaraan. Tentu saja Gus Dur kan mantan presiden. bapak sebenarnya ingin ikut melayat ke Jombang. Tapi karena besok ada acara yang sangat penting & tak bisa ditunda lagi, bapak memilih mendahulukan urusan keluarga. Toh tak ada salahnya mendoakan beliau dari sini. Kalaupun mau mengikuti prosesi pemakaman jenazah seluruh stasiun teve akan meliputnya.
===
Kami berangkat dari rumah pagi menuju ke asrama haji di Donohudan. Sampai di sana pakde, bude, mbak, mas & para keponakan sudah berkumpul di luar area asrama. Lama juga kami menunggu di sini. Pukul setengah sembilan 8 bus bandara memasuki area Donohudan. Para penjemput memang tidak diperbolehkan masuk ke dalam. Tentu saja agar prosesi pemulangan dapat berjalan lancar. Kami di luar hanya bisa melihat para rombongan haji yang dibawa bus.
Ternyata tak hanya pengoperan ke bus dari kabupaten saja yang menjadi agenda acara di dalam. Masih ada upacara penutupan yang lagi-lagi memakan waktu cukup lama. Terpaksa kami menunggu lagi. Rombongan pakde Syakur memilih untuk menunggu di Dlanggu, transit para jamaah sebelum menuju ke rumah masing-masing. Keluargaku & rombongan pakde Muhadi yang masih tersisa di sni. Walau upacara penutupan belum selesai benar ternyata sudah banyak jamaah yang meninggalkan tempat dengan dijemput anggota keluarganya sendiri, tidak ikut rombongan bus dari kabupaten. Melihat hal itu kami juga mau langsung membawa lik Rodhi & lik Karoh dengan mobil sendiri. Alhamdulillah tak lama kemudian lik Rodhi muncul dengan pak Panji. Pertemuan singkat itu memutuskan agar lik Rodhi & lik Karoh langsug naik mobil dari sini saja. Tak lama rombongan yang kami tunggu datang dengan membawa banyak bawaan. Lik rodhi, lik Karoh, Kafa, Fia, An'im, & pak Panji. Segera setelah melepas kerinduan sebentar rombongan kami meninggalkan Donohudan. Mobil pakde Muhadi ditempati keluarga lik Rodhi & di mobil kami ketambahan bude Kis. Akhirnya semua berjalan lancar, walau tak mengikuti upara penutupan hingga selesai.
Keluarga di Jeblogan yang tidak ikut menjemput sudah siap menyambut kedatangan beliau berdua. Acara penyambutan dilangsungkan di masjid. Dari masjid kemudian lik Rodhi & lik Karoh bersama rombongan lain berjalan kaki menuju rumah dengan diiringi tabuhan hadroh. Lik Rodhi diminta berdoa sesampai di depan pintu rumah. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa doa orang yang berhaji mustajab. Lik Rodhi mendoakan kita semua yang ada di sini agar juga mendapat panggilan ke tanah suci. Amiin. Istajib du'aana ya Robb. Setelah itu satu per satu tamu datang dan pergi hingga dzuhur menjelang. Alhamdulillah anggota keluarga kami sudah kembali pulang setelah 40 hari bertamu di Baitullah tanpa kekurangan suatu apa pun.
===
Sepulang dari acara penyambutan haji di Blogang kami sekeluarga menyimak prosesi pemakaman Gus Dur di Tebuireng lewat televisi. Lautan manusia membanjiri area Tebuireng. Mereka semua ingin menjadi saksi kepergian sang guru & bapak bangsa. Santri, masyarakat, pejabat, kiai, aparat hingga para pemuka dari berbagai agama turut hadir & berduka cita atas kepergian almarhum. Sejak pagi hingga siang itu para pelayat dari seluruh pelosok hadir. Menunggu hingga pemakaman selesai.
Ba'da Dzuhur jenazah Gus Dur tiba dari bandara Juanda, Surabaya setelah terbang dari Halim Perdana Kusumah, Jakarta. Iring-iringan belasan mobil memasuki area Tebuireng. Jenazah terlebih dahulu disemayamkan di masjid Ulil Albab yang berada di luar komplek pesantren untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat yang ingin menyolati & berdoa untuk almarhum. Kurang lebih setengah jam kemudian jenazah dipindah ke pendopo area pemakaman di dalam pesantren. Tak semua orang bisa masuk ke dalam karena penjagaan yang behitu ketat langsung oleh aparat TNI. Di dalam kembali dipersilakan bagi penta'ziyah yang berada di dalam untuk menyolati & berdoa di hadapan almarhum. Rata-rata para kiai & santri yang ada di dalam ditambah para pejabat & menteri.
Prosesi upacara kenegaraan memang akan langsung dipimpin oleh Presiden RI. Karenanya masih menunggu hingga satu jam lamanya menunggu para orang-orang yes ngumpul terlebih dahulu. Pukul setengah dua semua sudah siap. Bapak SBY & rombongan baru saja tiba. Upacara dimulai dengan dipimpin oleh jenderal dari TNI. Sebagai inspektur adalah bapak SBY sendiri. Dari berita tadi malam beliau akan memberikan penghormatan terakhir yang terbaik untuk almarhum. Peserta upacara juga dari TNI, baik AD, AL maupun AU. Juga tentunya semua yang hadir baik di dalam pesantren maupun di luar.
Sebagai pembuka adalah pembacaan riwayat hidup almarhum. Dari situ aku dapat mengambil kesimpulan bahwa Gus Dur adalah satu-satunya orang yang berhasil membuktikan bahwa pesantren memang bisa. Kalau perlu bisa dalam segala hal. Gus Dur tidak mengenyam pendidikan formal di indonesia. Almarhum 'hanya' mondok di Tegalrejo, Tambakberas, & Al azhar, Kairo. Tak ada embel-embel sarjana dari universitas manapun di Indonesia. Walau begitu berbagai penghargaan, pangkat, & bintang juga tersemat dalam diri almarhum. Kebanyakan dari luar negeri. Itu semua membuktikan bahwa kita sebagai santri tak boleh mempunyai rasa minder di hadapan siapapun, jika perlu di hadapan presiden. Karena Gus Dur adalah (baru) satu-satunya santri yang menjadi presiden di indonesia.
Acara dilanjutkan dengan penghormatan kepada almarhum sebelum akhirnya dikebumikan. Petugas pemakaman adalah dari aparat & kiai yang ada di sana. Hujan air mata & bunga mewarnai pemakaman ini. Lagu gugur bungan menambah suasana semakin menyentuh. Aku sangat terharu. Akan tetapi tak sampai meneteskan air mata. Setelah jenazah terkubur pak SBY sebagai wakil negara & Yeni Wahid sebagai wakil keluarga mengubur secara simbolik dengan mencangkul tanah & dimasukkan ke liang lahat. Baru kemudian penguburan dilanjutkan hingga rata. Sebagai penutup Bapak Menteri Agama, Surya Dharma Ali & Gus Mus memimpin doa. Setelah semua rangkaian acara selesai pemipmin upacara membubarkan upacara kenegaraan ini.
Kini Gus Dur telah tiada. Bapak & Guru bangsa, bapak pluralisme, bapak multikulturalisme, kiai yang tidak hanya bagi umat islam. Menyisakan mendung duka & harapan beliau yang menjadi amanat kiat semua sebagai warga negara & islam, khususnya NU. Pesan terakhir beliau kepada para santri untuk menjaga sikap pluralisme & melindungi kaum minoritas menjadi tanggung jawab kita bersama. Itu membuktikan betapa besar perhatian beliau terhadap kesatuan negara & agama kita. Semoga amal perbuatan, perjuangan & pengabdian almarhum diterima di sisiNya dan mendapat balasan yang setimpal. Allahummaghfir lahu warhamhu wa'afihi wa'fu 'anhu. Selamat jalan Gus, jasamu kan terus kami kenang & perjuangkan selalu.
Batur, 2 Januari 2010