Sabtu pagi, 31 Januari 2009
Akhir-akhir ini hujan turun begitu intensif. Tiap hari,tiap sore rasanya hambar jika belum terguyur hujan, yang menyisakan embun dan hawa dingin esok harinya. Membuat pakaian yang dijemur pun tak kering-kering karena memang belum puas menikmati sinar hangat matahari. Mau bagaimana lagi, sang surya juga enggan menampakkan dirinya karena tertutup oleh sekumpulan awan kumulus yang mengandung berjuta-juta liter air hujan. Tapi, Alhamdulillah di sini hujan turun tiap sore menjelang petang. Mungkin memang jadwal hujan yang ditetapkan Sang Pencipta Hujan di Kediri pada akhir-akhir bulan Januari ini adalah sore hari & siangnya matahari tetap setia menghangatkan bumi & orang-orang yang beraktifitas memanfaatkan waktu. Di Lirboyo malah lebih menarik lagi. Walau sederas apapun hujan sore, begitu lonceng MHM berteriak, hujan yang lebat menjadi reda. Teng awal yang menunjukkan waktunya sekolah malam dimulai itu seakan-akan adalah doa yang 'mengistirahatkan sejenak' hujan sore agar para santri yang berkewajiban belajar mengajar bisa berangkat menuju tempat mengais ilmu yang ada di Lirboyo, Madrasah Hidayatul Mubtadiien. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini teng awal pun sudah tidak ampuh lagi mengistirahatkan hujan. Pertandakah? Aku juga tak tahu.
Hujan kemarin (Jum'at) adalah hujan terlama sejak awal januari di sini. Bayangkan, hari Jum'at yang biasanya panas menyengat sejak pagi sepi dari sengatan mentari. Awan pekat dari pagi hingga siang mengumpulkan diri menjadi mendung yang setiap saat siap memuntahkan airnya. Pakaianku yang dari kemarin kujemur saja belum kering. Begitu sholat Jum'at selesai dilaksanakan mendung yang amat pekat tadi menumpahkan berjuta kubik air ke bumi Kediri. Membuat orang enggan beraktifitas di luar rumah & memilih menghangatkan diri dengan selimut di kasur. Begitu pula aku, yang memilih bantal sebagai teman setia menjelajahi alam mimpi. Siang itu hujan benar-benar deras. Hingga sore ketika bangun tidur air hujan masih semangat mengguyur. Bahkan suasana malam itu juga diwarnai dengan rintik air dari langit. Hujan baru berhenti saat hampir tengah malam. Masya Allah benar-benar agung kuasa Allah dalam mengendalikan makhluknya.
Melihat hujan seharian kemarin (hingga siang hari ini pun tak luput dari guyuran hujan) aku jadi teringat dengan mau'idhoh Bapak Saiful Qodim pada acara JWHU malam Jum'at kemarin. Salah satu yang beliau kutip adalah "Ilmu itu laksana Hujan" & kalau tidak salah ini adalah hadits nabi. Berikut uraian hasil eksplorasiku dalam tafakur mau'idhoh beliau.
Air merupakan komponen paling penting dalam kehidupan. Hampir semua aspek kehidupan di bumi ini mengandung & membutuhkan air. Ketika pertama kali bumi diciptakan, ia adalah planet yang terdiri dari kumpulan bermacam-macam tanah yang gersang, panas & tak bisa dijadikan tempat hidup. Tetapi begitu Allah mengguyurkan air hujan kepadanya satu persatu unsur kehidupan di bumi tumbuh. tumbuhan, hewan, hingga manusia kemudian bisa hidup & berkembangbiak di atasnya. Begitu pula ilmu. ia bisa menumbuhkan & menghidupkan jiwa orang yang mencari & mempunyainya. Jiwa yang tadinya gersang dengan pengetahuan & akhlak menjadi indah & mempesona karena disiram dengan ilmu.
Mantan lurah PPHY ini mengibaratkan air hujan sebagai ilmu & bumi sebagai manusia yang menerima siraman ilmu. Tanah yang dikandung bumi bermacam-macam jenisnya. Dari yang kering, tandus, keras, hingga subur ada di bumi. Tanah yang subur adalah tanah yang mengandung mineral & komponen penyusun dengan komposisi yang optimal. Dari apa tanah ini bisa subur? Tak lain adalah akibat dari siraman air. Karena unsur hara yang dikandung tanah tidak akan berfungsi jika tak ada air. Maka air sangatlah penting bagi penyuburan tanah. Dengan tanah yang subur maka berbagai macam tanaman dapat tumbuh diatasnya & akhirnya dapat memberikan manfaat. Sebaliknya, ada pula tanah yang kering & tandus. Ini dikarenakan rendahnya intensifitas penyiraman air hujan. Tanah yang tak pernah terkena air akan menjadi keras, kering, sulit menumbuhkan sesuatu, bahkan hanya akan menyusahkan yang lain.
Nah, dari uraian singkat tentang tanah di atas, maka tanah (bumi) dapat dianalogikan dengan manusia. Ada kalanya manusia itu 'subur' & bermanfaat, sebagai contoh para masyayich & habaib di sekitar kita. Di dalamnya terdapat banyak ilmu yang bisa dimanfaatkan orang banyak. Tak lain karena siraman ilmu ke dalam jiwanya, sehingga dapat menumbuhkan aneka hal yang bermanfaat. Sebaliknya ada pula manusia yang keras, buruk, hingga kurang memberikan manfaat bagi sekitarnya, bahkan hanya akan mengotori & mengganggu lingkungan tempat tinggalnya saja. itu karena tidak adanya siraman ilmu ke dalam jiwanya, sehingga benih-benih kebenaran yang sudah Allah tanam di dalamnya pun lama-lama menjadi mati & akhirnya menggersangkan kehidupannya.
Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa ilmu & hujan mempunyai peranan penting dalam menumbuhkan sesuatu. Betapa Allah tidak menciptakan segala sesuatu melainkan terdapat manfaat di dalamnya. Subanallah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar