Jumat, 24 April 2009

Sanitasi

Kini cah2 HY sudah tak kebingungan lagi mau melaksanakan kebutuhannya sebagi mahluk hidup, buang air besar. Walaupun kedengarannya sepele dan menjijikkan kegiatan yang stu ini amat penting bagi metabolisme tubuh kikta. Beberapa hari tak buang hajat saja bias merogoh koicek yang tak sedikit. Benar2 kita harus bersyukur masih diberi nikmat oleh Allah sehingga tubuh kita dapat terjaga.
Sebagi kegiatan yang tak terpisahkan dari kehidupan aktifitas buang hajat sepertinya memang diistimewakan dibandingkan dengan aktifitas lainnya. Bagaimana tidak, untuk melaksanakannya saja kita sebagai manusia mempunyai tata cara dan tata karma tersendiri. Terlebih dalam Islam. Nabi SAW sudah memberikan sunah2nya tentang adab2 buang air. Diantaranya di tempat tertutup, jauh dari keramaian, memakai tutup kepala, memakai air bersih atau batu (dan sejenisnya) untuk membersihkan diri, hingga ada doa yang dipanjatkan sebelum dan sesudah buang air.
Seiring dengan teknologi kotoran2 yang notabene hanya mengotori dan menjadi sampah kini mulai diamanfaatkan kembali menjadi barang yang lebih berguna. Pupuk kandang yang dari dulu terkenal sebagi pupuk alami dan paling sehat diantara pupuk2 kimiajuga dari sisa kotoran2 ternan. Tletong sapi yang terkenal dengan baud an bentuknya yang menjijikkan kini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku gas pengganti LPG (Liquid Pretoleum Gas. Semua itu tak luput dari tangan2 kreatif yang tahu dan peduli akan kelangsuingan kehidupan di bumi. Bhawa semboyan ‘selamatkan bumi dengan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) bukanlah hanya hiasan bibir. Akan tetapi harus lebih ditampakkan dengan perbuata. Betapa Allah menciptakan segala sesuatu tanpa ada kesia2an.
Melihat nilai manfaat yang dihasilkan dari limbah alami dari binatang tersebut, lantas kita berpikir, bisakah kita tidak mengandalkan jsa binatang? Bukankah kita sendiri juga menghasilkan limbah alami? Dan ternyata setelah melalui proses pemikiran dan uji coba yang panjang kotoran manusia juga bia dimanfaatkan menjadi biogas sebagi pengganti LPG. Untuk menghasilkan gas metana/etana yang mudah terbakar tersebut memerlukan proses yang tidak sepele.



Akhir tahun lalu dinas kesehatan (dinkes) dan dinas kebersihan lingkungan hidup (DKLH) kota kediri mengaakan penyuluhan tentang adanya WC sanitasi di HY. WC sanitasi sebenarnya sama seperti Wc pada umumnya, perbedannay terletak pada segi kebersihan dan pengambilan manfaat dari tempat buang air tersebut. Feses manusia yang terkumpul di septictanknya dapat terolah menjadi biogas. Kegiatan ini sebenarnay merupakan promosi agar pihak pondok bersedia mengikuti kontes uji kelayakan untuk selanjutnya dibangunkan WC lengkap dengan pengolah gasnya. Pondk kami bersedia mengikuti kontes tersebut. Aku dulu termasuk yang mengikuti penyuluhan kecil di mushola kala itu. Kata Pak Dinkes contoh pesantren yang sudah menggunakan WC sanitasi ini ada di Blitar dan Tuban. tepatnya dimana aku lupa :p. Dari jumlah kotoran yang ditampung sehari bisa menghasilkan ... liter gas yang mampu menghidupkan hingga 5 buah kompor gas. Coba bandingkan dengan kompor2 lain yang biasanya menggunakan gas elpiji atau kompor minyak. Hemat sekali bukan?

peserta lain yang mengikuti kontes ini anatara lain desa Balowerti dan pondok induk. setelah melalui proses penyeleksian ternyata HY tidak termasuk yang lolos. pondok induk dan desa... lah yang layak mendapatkan bantuan WC ini. akan tetapi ternyata masyarakat desa ... kurang setuju dengan keputusa itu. karena buat dibangun WC yang hanya menjadi hiasan desa saja? bukankah aa yang lebih membutuhkan dan bukankah setiap rumah sudah mempunyaiWC sendiri? Dab ternyata oleh pihak penyelenggara bantuan ke desa ... dialihkan ke HY. Maka sejak awal tahun kemarin HY memugar habis WC lamanya untuk didirikan kembali WC yang lebih layak dari pemerintah.

bangunan yang berdiri sejak tahuun1997 itu dipugar secara bertahap, karena sudah cenderung permanen. Roan demi roan terus dilaksanakan agar bangunan WC rata dengan tanah. Kita warga HY sempat bingung mau buang hajat di mana. Karena WC umum di HY memang hanya itu saja. Bayangkan betapa berjasanya WC itu karena dibutuhkan oleh sekitar 400 santri setiap harinya. Lha jika dipugar habis tidakkah kita kebingungan mencari tempat berak? sebenarnya masih ada lokal WC yang tidak dipugar, tapi cuma ada 2 bilik. Mau ngungsi ke WC unit lain gak penak.

Akhirnyadibangunlah WC darurat di belakang kandang kambing milik Gus Shobir, bersandingan tepat dengan kebun tebu. Wc ini hanya terdiri dari 8 bilik yang nonpermanen, karena hanya digunakan selama pembangunan WC sanitasi. Sekat dan pintunya dari anyaman bambu, baknya dari tong yang kadang penuh kadang kering dan septictanknyalangsung ke kebun tebu. jadi tiap sebulan sekali perlu disedot agar bisa digunakan kembali. kadang aku lebih memilih mengungsi daripada repot di WC gedek ini. Lha piye, kadang pintunya malah sampe rusak lumuten karena kena air tiap hari tang tak sedikit. Apalagi jika malam. lebih baik numpang ke WC pengurus daripada berak di kebun tebu.

tapi itu dulu. Karena pembangunan WC sudah sampai tahap akhir di bulan Maret lalu. Pembangunnannya juga membutuhkan biaya, tenaga, dan pikiran yang tidak sedikit. mulai dari meratakan WC dengan tanah, memindah dapur umum yang nempel dengan bangunan WC, bongkar septictank super besar, hingga hasilnya sebuah lubang menganga lebar sedalam 5 meter teronggok di bekas WC. Dan mulai dari situ pembangunan WC dimulai kembali dari nol. pembuatan ponaasi, liang septictank yang baru, tabung biogas, dan pembangunan WC seperti yang kita kenal pada umumnya. Aku baru tahu kalau ternyata membangun WC sangat rumit. Masya Allah, benar2 manusia tak punya daya dan upaya selain dari Allah semata.

(maaf belom selesai)

Selasa, 07 April 2009

Lelaki melahirkan dan Menyusui

Di zaman sekarang populasi wanita terus meningkat jika dibandingkan dengan pria. Ibu yang melahirkan perempuan lebih banyak. Tidak hanya populasi . Semua aspek di dunia ini tampaknya sudah dikuasai oleh kaum hawa. Pekerjaan, pendidikan, perdagangan, bahkan kriminalitas pun tak luput dari cengkeraman para perempuan.

Sebagai contoh ambil saja salah satu sekolah sebagai pembanding. Jika kita bandingkan jumlah lelaki dan wanita di sekolah tersebut, mulai dari murid, guru, hingga penjaga kantin, jumlah wanita akan lebih banyak. Bahkan tak jarang tugas-tugas kasar yang biasanya dilakukan oleh pak bon (tukang kebun) juga mulai diambil alih oleh perempuan. Benar-benar mengejutkan. Itu masih sekolah umum yang dibuka untuk sisa dan siswi. Perbandingannya paling tidak 3 : 1. Apalagi sekolah yang biasanya hanya dihuni oleh para sisiwi, seperti SMEA. Hampir tak ada siswa laki-laki di dalamnya. Dari perbandingan tersebut dikalikan sejumlah sekolah di kabupaten atau kota yang bersangkutan. Coba pikir, bagaimana kita tidak kewalahan laki-laki makin didesak oleh perempuan.

Ketika SMA, kelasku adalah yang termasuk didominasi oleh perempuan. Akan tetapi perbandingannya hanya 2 : 1. Bukan hanya dalam masalah jumlah, dalam segi prestasi & kerajinan pun seakan-akan hanya milik mereka. Sedangkan kami, para laki-laki sering tak mendapatkan tempat untuk duduk di deretan rangking teratas. Dan ternyata fenomena ini tidak hanya terjadi di kelasku. Ketika rapor akhir semester dibagikan, kami juga akan diberi edaran yang berisi daftar peringkat 3 besar dari masing-masing kelas. Rasanya kecewa sekali ketika tempat-tempat pertama hampir semuanya diduduki oleh perempuan. Bukan kecewa terhadap teman-teman perempuan yang mendominasi, akan tetapi kepada diri sendiri dan teman-teman laki-laki lainnya, kenapa kalah dengan perempuan? Mungkin salah kita juga merasa lebih di atas perempuan. Karena perasaan seperti itu bisa membunuh semangat kita sebagai laki-laki.

Apakah ini termasuk efek dari persamaan gender atau yang lebih tren dengan emansipasi? Mungkin saja ya. Tapi jangan sembarangan menyalahkan begitu saja emansipasi. Lantas salahkah emansipaai itu? Mari kita kupas.

Pada kodratnya semua hal mempunyai pasangan. Satu bagian saling melengkapi bagian yang lain. Karenanya tak ada yang sempurna, karena mau tak mau pasti ada pasangan untuk menyempurnakannya. Semua mempunyai fungsi dan tugas yang berbeda. Begitu pula manusia yang juga diciptakan berpasangan, laki-laki dan perempuan. Masing-masing mempunyai tugas dan tanggung jawab yang berbeda.

Laki-laki biasanya mempunyai fisik tegap, dada bidang dan kadang kekar. Itu sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang diembannya, yang membutuhkan tenaga dan pikiran yang lebih. Tak heran jika sosok seperti itu mampu dijadikan sebagai pemimpin. Karena seorang pemimpin mempunyai tanggung jawab sehingga kemampuan pikiran dan tenaganya harus lebih dari yang dipimpin. Sedangkan perempuan cenderung berkebalikan dengan laki-laki. Tubuh langsing, kulit halus, kadang tinggi semampai. Fisik dan sifatnya tidak sesuai dengan pekerjaan-pekerjaan berat yang biasa dilakukan laki-laki. Pekerjaannya cenderung ringan dan harus disertai dengan sentuhan perasaan. Seperti merawat anak dan keluarga. Jika perasaan tak diikutsertakan bisa jadi berdampak negatif pada hasil pekerjaannya.


Emansipasi merupakan suatu upaya untuk menyetarakan hak dan derajat. Di mata masyarakat emansipasi identik dengan wanita, karena memang dari dulu sering tidak mendapatkan hak yang sejajar dengan kaum lelaki. Sehingga muncullah emansipasi wanita yang di Indonesia dipelopori oleh RA Kartini, seorang ningrat dari Jepara. Beliau mencetuskan artikel-artikel dan surat dalam bahasa Belanda yang berkaitan dengan ketidakadilan perlakuan antara laki-laki dan perempuan. Mungkin saja sebelum kartini mengoarkan emansipasi sudah ada yang mendahuluinya berusaha menegakkan keadilan. Gerakan ini wajar dilakukan kaum perempuan karena memang dari dulu perempuan selalu dipandang sebelah mata saja oleh orang-orang. Padahal islam sangat menghormati perempuan. Jadi bisa dikaitkan bahwa sebenarnya gerakan emansipasi sudah lebih dahulu dikoarkan Islam. Kita pun harus turut memperjuangkannya kembali agar tak ada kesenjangan sosial diantara laki-laki dan perempuan.

Yang menjadi masalah adalah gerakan emansipasi yang berlebihan yang lebih dikenal dengan feminisme. Paham ini bukan saja menginkan persamaan hak dan derajat, juga persamaan kewajiban dan segala hal dalam kehidupan. Perilaku ini dilakukan karena selain menginginkan hak yang sama perempuan pun juga ingin menjadi sumber nafkah. Dampak dari semua itu perempuan lupa akan tugas utamanya yang mulia, menjadi ibu dan pengendali bahtera rumah tangga. Jika sudah begitu bisa-bisa kelak ada golongan wanita kuli, tukang bangunan dan kegiatan lain yang lebih melibatkan fisik. Padahal seperti yang disinggung di atas pekerjaan perempuan lebih melibatkan perasaan daripada fisik.

Seharusnya tak ada yang perlu dipermasalahkan dari kasus emansipai atau feminisme. Karena Allah Maha Adil, menciptakan laki-laki untuk perempuan dan perempuan untuk laki-laki. Semua saling melengkapi, tak ada yang sempura dan tanggung jawabnya sudah diatur sendiri-sendiri oleh Yang Maha Kuasa. Dalam kehidupan rumah tangga seorang suami bertugas mencari nafkah, membanting tulang untuk menghidupai keluarganya. Tak heran hingga ada yang rela dari pagi hingga malam bekerja demi kelangsungan hidup anak istrinya. Begitulah jika tahu akan tanggung jawab besarnya. Dia takkan seenaknya sendiri main perintah dan akan melaksanakan tugas sebaik-baiknya.

Tugas utama seorang istri sebenarnya hanyalah sepele, menyenangkan suami. Hanya yang menjadi masalah, bagaimana cara menyenangkan suami? Itu kembali ke rumah tangga masing-masing. Bentuknya pun banyak sekali. Mulai melayani, merawat suami dan anaknya hingga dalam bentuk penghasilan tambahan.

Jadi sebenarnya semuanya akan selaras dan seimbang jika mengetahui tanggung jawab masing-masing. Tak usah repot-repot meneriakkan persamaan gender, feminisme, penyetaraan hak dan kewajiban dll. Karena pada hakikatnya manusia itu sama hanya tanggung jawabnya yang berbeda dan bagamana ia berusaha melaksanakannya sehingga menjadi hamba Allah yang selalu taat kepadaNya. Bukankah derajat manusia di hadapan Allah adalah sama, hanya tingkatan taqwalah yang Dia lihat.

Jika semua tak tahu tanggung jawab dan fungsi masing-masing, hanya menuntut dan menuntutlah pekerjaannya. Dan jika semua sudah saling tuntut dan memaksakan kehendaknya, jangan heran jika kelak ada wanita kekar dan brewok atau juga laki-laki melahirkan dan menyusui.

Kamar solo, 20 april 2009

Minggu, 22 Maret 2009

Kabar Angin

"Pak saya insya Allah pulang hari Selasa malam Rabu," jelasku pada bapak kemarin.

Liburan sudah benar-benar di ambang mata kini. Pikiranku sudah melayang ke kampung halamanku. Apa yang sedang terjadi di sana ya? Adakah yang berubah? Aku benar-benar rindu. Kalau kuhitung 5 bulan lebih aku tak tahu menahu wajah Batur sejak kepulanganku terakhir ketika ada acara besar di desaku.

Aku menyiapkan barang-barang yang akan kubawa pulang. Pakaian, buku, alat tulis, kamera, bahkan sabun tak lupa kumasukkan ke dalam ransel. Lho emang mau ke mana, Mas? hehehe. Rencanaku liburan kali ini aku mau ke Magelang, mengikuti acara khataman sekalian reuni dengan teman-teman SMPku dulu. Aku sangat ingin bisa mengikutinya. Karena sudah 3 tahun lebih aku tak dapat menikmati keramaian dengan teman-teman lamaku di Al Husain. Apa kaitannya dengan sabun? Lha sabun itu mau kubawa saat berada di sana, karena tak ada sabun umum di kamar mandi pondok. Semua mempunyai peralatan mandi sendiri-sendiri. Sudah-sudah, malah ngelantur ke mana-mana.

Aku memeriksa ransel bututku. 3 tahun menemaniku di SMA ternyata telah memudarkan pesona warnanya. Walau begitu tetap mampu membantuku membawa barang-barang beratku selama perjalanan nanti. Kasihan juga sih. Tapi kapan aku membeli penggantinya? Ngatur pemasukan dan pengeluaran uang saku saja susah banget.

Ketika baru akan memasukkan buku-buku penting ke dalam mulut ransel yang lapar, tiba-tiba ada suara memanggilku.

"Min, ada telepon dari bapakmu. Penting," suara pak Imam terdengar di luar kamar ternyata, "teleponnya aneh,"

"Kamsudnya, eh maksudnya?" aku makin penasaran dong.

"Nanti kamu juga tahu sendiri. Ayo sekarang ke kantor," kata pak Imam sambil mengikuti langkahku menuju kantor pondok.

Tumben bapak meneleponku. Biasanya kan aku yang menghubungi rumah jika ada keperluan. Apalagi besok aku berangkat pulang. Wah, sepertinya ada yang tak beres.

"Assalamualaikum," aku memasuki kantor.

"Lha ini pak, Amik masih sehat-sehat di sini," kudengar suara pak Fata bercakap-cakap dengan telepon di dalam kamar kantor.

"Mik, ada telepon dari bapak, " ujar pak Fata sambil menyodorkan HPnya. Oo kukira lewat telepon pondok, "katanya kamu kecelakaan" pak Fata menambahkan.

Ha! siapa bilang aku kecelakaan?. Nyatanya masih sehat wal afiat bisa berdiri di sini kok.

"Pripun Pak?" aku mengecek penjelasan pak Fata

"Gak tahu. Kamu ngomong sendiri saja. Biar jelas,"

Makin bikin penasaran aja sih, batinku.

"Assalamualaikum," aku memulai percakapan.

"Halo, Le, kamu ndak pa-pa to?" suara bapak terdengar bercampur antara khawatir dan lega. (tapi masih banyak khawatirnya..kayaknya lho)

"Nggih Pak, ini saya di sini. Ada apa Pak kok kayaknya khawatir banget?"

"Ya, tapi kamu ndak pa-pa kan?" wah bapak kurang yakin nih.

"Saya sehat-sehat saja kok. Kenapa pak?"

"Alhamdulillah, Le, kalau gitu," sekarang baru kedengaran lega," gini, tadi ada telepon. Ngakunya dari Polresta Kediri. Katanya kamu kecelakaan dan sekarang sedang dirawat di RS Bhayangkara,"

Deg! tentu saja aku kaget. Siapa yang iseng menelepon hingga membuat bapak khawatir? Nyata-nyata aku masih sehat kok dibilang kecelakaan. Hanya satu kesimpulannya, penipuan.

"Wah, jangan percaya pak. Itu pasti penipuan," ujarku, "lha wong saya masih bisa bicara dengan bapak,"

"Syukurlah kalau itu kabar bohong. Tadi bapak dan ibu khawatir banget, Le,"

"Ceritanya gimana Pak?" mau tak mau aku jadi penasaran karenanya.

"Tadi ada bapak-bapak telepon. Tanya, apa punya anak di luar Delanggu? Tentu saja bapak jawab ndak punya, adanya di Kediri. Lha kok malah setelah itu orangnya ngaku dari Polresta Kediri," bapak membuka ceritanya.

"Dari situ sudah bisa ditebak kalau itu penipuan Pak," timpalku. Kan lucu, tanya pertama Delanggu kok ujug-ujug berubah menjadi Kediri.

"Katanya kamu kecelakaan & sedang dirawat di RS Bhayangkara. Bapak tadi juga diberi nomor telepon dokternya, kalau ndak salah namanya Imam. Bapak coba hubungi ndak bisa. Akhirnya muncul gagasan untuk menelpon pak Zufni, ngecek apa betul kamu kecelakaan," jelas bapak panjang lebar," sebenarnya RS bhayangkara itu ada ndak to di Kediri?"

"Mm.. Ada pak. Itu rumah sakit dari aparat pemerintah,"

"Yang membuat bapak deg-degan kalau beritanya benar, adalah karena kemarin kamu ngabari kalau mau pulang malam ini. Pikir bapak, apa amik kecelakaan saat perjalanan?"

Wah bisa juga ya dugaan bapak. Kecelakaan lalu lintas kan biasa terjadi.

"Katanya tadi sudah menghubungi nomor yang diberikan orang tadi ya pak?"

"Ya, tapi ndak nyambung,"

"Untung saja gitu. Coba kalau nyambung, pasti ujung-ujungnya minta uang,"

"Pikir bapak setelah tahu kamu selamat juga gitu," bapak bercerita lagi, "memang dulu tetangga kita juga pernah ada yang terkena penipuan serupa. Bahkan kabarnya sudah mengirimkan uangnya,"

"Kasihan sekali ya Pak,"

"Alhamdulillah Le, kita masih diingatkan oleh Allah,"

"Nggih pak, Alhamdulillah. Gini saja, nanti bapak coba lacak nomor itu lagi, terus minta keterangan lebih lanjut untuk dilaporkan ke polisi," usulku.

"Ya, nanti bapak coba lagi. Agar kejadian yang sempat menimpa tetangga kita ndak terulang lagi,"

Tak disangka ternyata bapakku hampir menjadi korban penipuan berkedok seperti itu.

"O ya, positif pulang nanti malam to?"

"Insya Allah, Pak,"

"Ya sudah. Hati-hati di jalan. Semoga selamat sampai rumah. Salam ke pak Zufni ya. Wassalamualaikum..," bapak mengakhiri pembicaraan kami.

Kamis, 12 Maret 2009

Pesantren Manakah yang Relevan untuk Saya?


Waktu aku pergi ke Surabaya aku dapat kenalan dari UNAIR. Kami bertukar pikiran tentang kehidupan kami masing-masing, aku bercerita tentang pesantren dan dia berceloteh tentang kuliah. Dari situ aku juga diberitahu kalau dia juga punya teman dari pesantren. Katanya temannya kalau bicara bahasa Arab paling jago. Di mata masyarakat khususnya pelajar & mahasiswa santri memang dikenal sebagai seorang yang mahir dalam pelajaran bahasa Arab & agama. Bukan saja bahasa Arab, bahkan kadang bahasa asing lainnya seperti Inggris, Jepang, & Mandarin juga mereka kuasai. Akan tetapi benarkah santri di mata mereka, jika kita melihat, merasakan, & hidup sebagai santri?. Mari kita kupas satu persatu.

KuJawab benar tapi masih kurang tepat. Kenapa? Karena ada yang lebih menonjol dalam kehidupan seorang santri jika dibandingkan dengan kamampuan bahasa Arabnya. Disadari atau tidak santri-santri pesantren di Indonesia umumnya adalah seorang yang penuh dengan kesederhanaan, tawadlu', & sangat menghormati guru, orang tua, & ilmu. Maka tak heran jika satu orang santri diletakkan di masyarakat kebanyakan dapat dengan mudah mengenali identitas santrinya. Karena pola hidup santri ternyata memang agak berbeda dengan orang-orang di sekitarnya. Tak heran Gus Dur sampai menamai pesantren sebagai subkultur tersendiri dalam suatu mayarakat (Gus Dur, Esai-Esai Pesantren)

Islam di Indonesia adalah Islam yang dibawa oleh Walisongo & ulama-ulama lain dari Timur Tengah sana. Maka mau tak mau akulturasi budaya tak dapat dielakkan. Lihat saja Sunan Bonang, Sunan Kalijogo, Sunan Drajat, dan Sunan Kudus yang memodifikasi adat, budaya & tradisi jahiliyah masyarakat Hindu Budha di tanah Jawa menjadi tradisi Islam yang sarat dengan ajaran tauhid. Untuk memudahkan menyebarkan ajaran Islam dan mencetak generasi-generasi penerus, beliau para Walisongo juga mendirikan pesantren-pesantren. Islam dengan basis Ahlu Sunnah Wal Jamaah dan Salafus Sholihin menjadi pedoman pokok pesantren-pesantren tersebut. Seiring waktu berlalu giliran generasi penerus beliau-beliau yang menggantikan melestarikan Islam di tanah Jawa. Kini dapat dijumpai banyak pesantren-pesantren di Jawa yang menganut ajaran Walisongo yang berpedoman dengan ajaran Salafus Sholihin.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang masih bertahan hingga kini. Seperti disebutkan diatas sejak zaman Walisongo pesantren sudah eksis mencetak kader-kader penerus ajaran Rasulullah SAW. Seperti yang kita ketahui pendidikan dengan kemajuan zaman adalah berbanding lurus, artinya jika zaman semakin maju, canggih, & berkembang maka sudah tentu pendidikan juga ikut berpartisipasi berkembang. Begitu pula pesantren. Dari yang dulunya hanya bertempat di surau-surau kecil kini bertempat di gedung-gedung bertingkat banyak, yang dulunya mempelajari kitab kuning kini sudah banyak pesantren yang mengimpor ilmu-ilmu dari barat, dari yang tadinya tadinya berepot-repot menenteng kitab-kitab gede kini cukup menenteng sebuah laptop berisikan paket kitab satu lemari. Itulah dinamisasi pesantren terhadap perkembangan zaman. Akan tetapi ada juga pesantren yang dari dulu hingga kini masih kukuh menjaga pendirian dari perkembangan teknologi & tetap istiqomah menjunjung tinggi sistem pengajaran Walisongo terhadap santri-santrinya dulu.

Pesantren yang mengikuti pergerakan teknologi ini biasanya dinamai dengan pesantren modern. Sebaga contoh adalah pesantren Gontor. Basis pesantren tersebut adalah pendidikan agama yang dipadukan dengan aspek-aspek modern. Seperti mengikuti sistem pendidikan sesuai kurikulum yang ditetapkan pemerintah & mencanangkan bahasa asing sebagai bahasa pokok sehari-hari. Gagasan ini –disadari atau tidak- sedikit menjauh dari pendidikan yang Walisongo terapkan. Keilmuan ilmu-ilmu agama seprti fiqh, 'alat, tasawuf dll kurang bisa berkembang di daerah ini. Tentu saja ada keunggulan dalam sistem pesantren modern ini, diantaranya santri yang lulus dari situ biasanya sudah mahir berbahasa asing & keilmu umumannya (kamsudnya ilmu sekolah umum) tinggi. Tak heran banyak lulusan pesantren modern yang kuliah di PTN-PTN yang tersebar di nusantara. Selain itu manajemen & tata organisasi dalam pesantren cenderung sangat tertata dengan baik. Trus apa lagi ya? Aku juga kurang tahu sih. Yang jelas pesantren yang kini kutempati bukanlah pesantren berbasis modern.

Pesantren Lirboyo merupakan salah satu pesantren tertua di Kediri. Resmi berdiri dengan perjuangan amat berat dari KH Manaf ( KH Abdul Karim) dan istri pada tahun 1910. Pesantren ini menganut sistem salaf sejak pertama kali berdiri. Hingga kinipun metode salaf ini tak banyak berubah. Dawuh mbah Marzuqi (penerus mbah Manaf) metode pendidikan Lirboyo tidak boleh berubah, sekalipun perlu perubahan diperlukan penyeleksian yang ketat terlebih dahulu. Al muhafadzoh `ala al qodim ash sholih wal akhdzu bi al jadid al ashlah, menjaga yang lama yang baik dan mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik. Inilah keunggulan Lirboyo, memegang teguh pendiriannya sejak dulu hingga kini melanglang di tengah-tengah masyarakat modern. Perlu diketahui pesantren Lirboyo terletak di daerah kota Kediri, bahkan sangat dekat dengan pusatnya. Lantas bagaimana sebenarnya sistem salaf yang digunakan Lirboyo?

Ulama salaf merupakan salah satu generasi tabi'it tabi'in, yaitu generasi yang hidup & mengikuti pengikut sahabat Rasulullah. Rasulullah bersabda bahwa inilah kurun ( generasi ) Islam terbaik. Kurun ini berakhir pada tahun 300 H. 4 imam mazhab yang menjadi mujtahid, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris asy Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hanbal hidup pada zaman ini. Indonesia merupakan negara dengan bermazhab Syafi'i sebagai mayoritas. Karena para Walisongo memang pada umumnya juga bermazhab Syafi`i. Begitu pula Lirboyo. Mazhab fiqh yang dianut adalah mazhab Syafi'i. Keilmuan di Lirboyo sudah dikenal di pesantren-pesantren lainnya. Seperti pada umumnya pendidikan salaf di Indonesia, Lirboyo menerapkan sistem pengajian kitab-kitab kuning dengan cara yang khas. Diantaranya sorogan & bandongan. Sorogan adalah sistem belajar di mana seorang santri membaca pelajaran dan disimak oleh seorang guru. Sang guru bertugas untuk membenarkan apabila salah & menambahi keterangan-keterangan bila perlu. Sedangkan Bandongan adalah sistem pengajaran di mana seorang guru/ustadz/kiai membaca sebuah kitab dengan disimak para santri. Adakalanya santri tersebut memberikan makna gandul pada teks-teks kitab jika perlu. Metode ini tidak diketahui secara pasti siapa pencetus pertama kali. Yang jelas aksara pegon yang menjadi syarat mutlak pengajian khas pesantren salaf pertama kali dicetuskan oleh Sunan Ampel. Mungkin saja sistem pengajaran seperti di atas juga merupakan gagasan beliau. Masih ada banyak hal-hal yang menjadi ciri khas pesantren salaf di Indonesia. Jika kubeberkan semua disini tentu akan memakan banyak ruang. Maka kucukupkan dulu sampe di sini.

Semua hal tentunya terdapat kekurangan dan keunggulannya. Begitu pula Lirboyo. Sikap masa bodoh dan susah berubah menjadi kendala berkembangnya teknologi di pesantren ini. Biasanya para santri memang cuek dengan perkembangan zaman sih. Tak jarang ada yang belum mengenal komputer bahkan televisi (ups bukan maksud merendahkan loh). Akan tetapi begitu tahu sedikit saja tentang hal-hal yang berbau luar pesantren, seorang santri dengan mudahnya mengecap dirinya sebagai orang yang paling…. (pokoknya paling). Sikap masa bodoh ini juga kadang merembet ke manajemen yang diterapkan dalam pesantren. Kadang menganggap enteng keteraturan organisasi, gak on time, dll. Di dunia ini memang tidak ada sesuatu yang sempurna sih.

Keunggulan Lirboyo dan pesantren-pesantren salaf lainnya yang tersebar seantreo nusantara adalah dapat memegang teguh amanah para penyebar Islam di nusantra. Prinsip, aqidah, pedoman dan ajaran mereka sangat terjamin sanadnya muttashil hingga Rasulullah. Walaupun kadang cuek dan terkesan ada apanya, eh apa adanya tapi di dalam jiwa dan dirinya Islam, aqidah, syari`at, dan akhlaknya sangat terjaga. Kebanyakan santri tidak mau memperlihatkan jati dirinya yang asli, hanya luarnya yang cuek yang kelihatan. Jadi santri di mata orang-orang kesannya adalah orang udik yang mudah disuruh-suruh. Padahal jiwa mulia yang diterangi ilmu-ilmu khasnya terpatri dalam hatinya. Istilah kerennya tawadlu`.

Dari sekian banyak huruf yang tertata di atas kita dapat menyimpulkan betapa kayanya khazanah Islam di Indonesia. Pesantren, yang sebagai pusat penyebaran islam sangat beragam jenisnya. Tinggal menyesuaikan kemauan, keyakinan, dan tekad kita mana yang dapat mengantarkan kita menuju ridho Sang Pencipta. Modern atau Salafkah? Kembali ke diri kita masing-masing.

Wallahu A`lam.

Batur, 12 maret 2009

Senin, 23 Februari 2009

10 Hari dalam Motivasi Pak Asyhad

Jurnalistik, kata yang sering kudengar tapi kurang begitu kuketahui apa-apa yang ada di dalamnya. Yang kutahu jurnal adalah catatan atau agenda kegiataan serta semua yang ada di dalamnya. Kesimpulanku, jurnalistik adalah kegiatan yang berkaitan dengan tulis menulis sebuah peristiwa. Memang tak salah jauh dari definisi juranalistik di KBBI, serta setelah mengikuti kursus jurnalistik selama 10 hari bersama Bapak Saiful Asyhad.

Ketika SMA aku pernah baca majalah yang diterbitan oleh salah satu sekolah di Kediri, majalah IQRO' dari MAN 3. Aku bertanya-tanya sendiri, kenapa sekolahku tidak menerbitkan majalah sendiri? Ternyata memang ketika aku awal masuk di SMALA dunia jurnalistik sekolah megap-megap kehabisan minat. Kendalanya tak ada pembimbing intensif & pengurus tetapnya. Seingatku hanya KIR & mading yang tetep kukuh memperjuangkan hak asasinya. KIR pun kemudian hilang tak ada kabar setelah aktivis angkatanku (06/07) pensiun. Kan waktu itu yang megang Dyah, temanku yang terkenal semangat dalam menulis & organisasi. Tapi begitu regenerasi, KIR hilang entah ke mana. Sehingga tinggallah mading sendirian menegakkan jurnalistik di sekolahku. Aku makin berkecil hati untuk mengaah tulis menulisku di sekolah. Walau begitu tetap kuusahakan selalu bisa memenuhi buku catharku.

Seiring dengan berputarnya jarum jam, ketika masa aktif dalam organisasiku hampir habis, Bu Herlinarti sang kepala sekolah dipindahtugas & digantikan oleh Bapak Dwi Rajab. Bapak berkumis ini sangat getol dengan dunia tulis menulis. Melalui tangan beliaulah bendera jurnalistik SMALA kembali dikibarkan di antara kibaran ekskul-ekskul lainnya. Beliau juga mencetuskan penerbitan majalah sekolah dengan beliau sendiri sebagai penasehat sekaligus staf ahli. Mading yang dari dulu kurang teratur penerbitannya menjadi lebih representatif. bahkan tim mading SMALA sampai bisa ikut lomba mading yang diadakan Radar Kediri hingga semifinal. Benar-benar beliau merupakan tonggak bangkitnya dunia jurnalistik di SMAku tercinta. Aku bersyukur selama aku bersekolah bisa dekat & akrab denga beliau. Terima kasih Pak Dwi, walaupun tidak bisa ikut andil dalam jurnalistik Bapak, aku tetap bangga mempunyai kepsek seperti Bapak.

Bulan januari lalu Sie Pramuka Lirboyo mengedarkan pengumuman tentang diadakannya kursus jurnalistik. Tentu saja tak kusia-siakan kesempatan emas ini, mengingat aku ingin mencari bekal lebih dalam dunia tulis menulis. Aku & Ebi resmi menjadi salah satu peserta kursus ini. Kegiatan ini dibuka dengan pengarahan peserta di gedung al Ittihad pada hari pertama. Setelah itu selama 10 hari kursus dilaksanakan di lab bahasa belakang aula al Muktamar. Aku baru tahu kalau ternyata Lirboyo mempunyai fasilitas bergengsi semacam ini. Tapi ya gak kaget-kaget amatlah, SMAku kan juga punya...hehehe

Selama 10 hari jam tidurku berkurang, karena kursus ini dilaksanakan setelah hishoh tsani madrasah malam, tepatnya pukul 23.00 hingga 00.30 Wis. Walaupun begitu tetap saja menyenangkan. Tak lain karena adanya tekad & semangat juga tak luput dari gaya Bapak Saiful yang fear, terbuka, fun, & penuh semangat dalam menyampaikan materi & pengalamannya. Seketika itu kantuk yang tadinya menyerang hilang entah ke mana. Di hari pertama kursus, bapak dua anak ini bercerita tentang koran & wartawan. Kenapa koran? Karena itulah sasaran kami. Lewat kegiatan ini kami dituntut bisa menulis naskah berkualitas sehingga layak untuk dibaca khalayak umum lewat surat kabar. Istilah kerennya adalah freelancer (penulis lepas). Karena itu pak Saiful tak henti-hentinya menyemangati kami untuk bisa menelurkan karya tulis, syukur bisa diterbitkan dalam bentuk buku.Dakwah bil qalam gitu.

Setelah puas dengan joke-joke segar tentang wartawan, di hari kedua kami mulai disodori dengan contoh-contoh materi & membahasnya. Untuk materi pertama kami mengupas tentag berita di koran. Kami kuliti berita di hadapan kami sehingga kelihatan jelas kerangka-kerangkanya. Esok malamnya kami membahas features sebagai cerpennya berita. Berita yang telah lampau diolah & dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi features yang tak bosan untuk dibaca kapan pun. Dua materi awal ini merupakan tulisan yang dibuat oleh pihak koran sendiri, bisa wartawan atau redaktur. Akan tetapi tak menutup kemungkinan penulis lepas menulis berita & features. Karenanya itu bukanlah tujuan utama kami yang notabene masih berpredikat santri (pelajar) bukan wartawan.

Selanjutnya kami mulai memasuki lahan sasaran sebagai tempat tulisan kami. Yang pertama adalah opini. Opini merupakan tulisan yang berisi tentang pendapat penulis mengenai hal-hal yang sedang hangat di masyarakat agar pembaca bisa terpengaruh & berpihak kepadanya. Contoh-contoh opini banyak sekali tersebar di media masa. Setiap hari pun koran mnyediakan ruang opini kepada para penulis lepas. Kami diberi tiga contoh opini -salah satunya ditulis pak saiful & dimuat di Harian Bangsa- & lembaran pengembalian naskah dari redaksi yang dikirimi pak Saiful karena tulisan beliau tidak bisa dimuat. Untuk yang satu ini mungkin agak berat buatku. Aku kan jarang mengemukakan pendapat saat musyawarah. :P

Yang kedua adalah cerpen. Cerpen atau cerita pendek adalah suatu tulisan yang mengandung unsur-unsur cerita (tokoh, sudut pandang, plot, konflik, & amanat) yang hanya perlu sedikit waktu untuk membacanya. Pak Saiful menggambarkan, jika kita membaca cerpen sambil minum kopi maka cerpen tersebut habis kita baca ketika kopi kita juga habis kita minum. Gampangnya memang seperti itu. Akan tetapi membaca cerpen ternyata tak semudah yang kita kira. Sejak kesusastraan nusantara berkembang cerpen yang tadinya hanya sederhana kini mulai bermunculan cerpen-cerpen berbobot dengan bahasa yang sulit dicerna. Rata-rata yang seperti itu adalah cerpen filsafat yang lebih mengedepankan amanat & keindahan diksi kepada pembaca. Karenanya pak Saiful memerlukan waktu tiga hari untuk menyelesaikan seluk beluk yang dikandung cerpen. Selain itu juga karena firasat (atau lebih tepatnya "ilham" lewat mimpi) pak Saiful kalau peserta jurnalistik kali ini 75% lebih condong ke cerpen. Ada-ada saja ya.

Kita dikenalkan dengan cerpen anak, cerpen dewasa, & cerpen filsafat, juga diajarkan teknik membaca cerpen yang baik.

Kemudian materi selanjutnya adalah puisi. Hampir sama dengan cerpen, hanya diksi & amanat yang dikandungnya lebih tinggi. Semakin mahir kita memainkan diksi & menyisipkan amanat, semakin berkualitas puisi kita. Pertemuan untuk puisi hanya satu hari. Kita disodori berbagai macam puisi sastrawan nusantara mulai dari yang sederhana hingga yang paling aneh. Yang lucu adalah saat kita diminta membaca puisi karya Sutardji Calzoum Bachri. Berikut puisinya...

Luka

ha ha

Bagaimana? Aneh bukan? Akan tetapi makna yang terkandung di dalamnya ternyata begitu dalam. Makna tersebut sesuai dengan cara membacanya. Jika berteriak menandakan luka yang menyakitkan, jika dibaca dengan nada meremehkan mengandung arti meremehkan luka-luka saudara kita. Seterusnya bisa kita tafsirkan sendiri-sendiri. Dan jika ingin tahu makna yang sebenarnya kita harus bertanya langsung kepada penulisnya. Karena hanya penulislah yang mengetahui tulisannya.

Menjelang hari terakhir kita membahas tentang artikel bebas. Artinya terlepas dari semua yang sudah dibahas di hari sebelumnya. Bidangnya pun sangat banyak, seperti resensi, catatan perjalanan, tips, dll. Kemudian ketika hari terakhir kita diminta langsung mempraktekkan teknis pengiriman naskah dari mulai mengirim hingga mendapatkan balasan dari redaksi. Pak Saiful juga memberi tips kepada kita semua tentang senam sederhana yang bisa menumbuhkan semangat menulis kembali & doa agar tulisan yang kita kirim dapat dimuat.

Wah, pokoknya bener-bener gak rugi aku ikut kursus jurnalistik ini. Jam tidur yang rata-rata 5 jam sehari pun tak bisa dikatakan rugi dengan kursus ini. Semua itu tak lepas dari bapak staf ahli majalah Misykat ini dalam menyampaikan materi. Sehingga materi jurnalistik yang jika dilihat sekilas begitu berat terasa ringan & mudah dicerna. Membuat semangat menulis yang tidur dalam diri kita bangun. Tentu saja kegiatan 10 hari ini belum cukup untuk mengupas tuntas semua hal tentang jurnalistik. Karena ini masih merupakan pijakan awal untuk menaiki tingkatan ahli. Selain itu tak bisa lepas dari praktek menulis yang harus intensif. Paling tidak aku harus menggantungkan tujuanku untuk apa & siapa aku menulis. Penulis profesionalkah? OK, siapa takut?! Mulai sekarang harus menulis, menulis, & menulis (seperti yang disampaikan pak Saiful). Ingat, tak ada kemudahan sebelum kesulitan. Bukankah begitu?

Kamar Solo, 22 Februari 2009

Minggu, 01 Februari 2009

Hujan...

Sabtu pagi, 31 Januari 2009

Akhir-akhir ini hujan turun begitu intensif. Tiap hari,tiap sore rasanya hambar jika belum terguyur hujan, yang menyisakan embun dan hawa dingin esok harinya. Membuat pakaian yang dijemur pun tak kering-kering karena memang belum puas menikmati sinar hangat matahari. Mau bagaimana lagi, sang surya juga enggan menampakkan dirinya karena tertutup oleh sekumpulan awan kumulus yang mengandung berjuta-juta liter air hujan. Tapi, Alhamdulillah di sini hujan turun tiap sore menjelang petang. Mungkin memang jadwal hujan yang ditetapkan Sang Pencipta Hujan di Kediri pada akhir-akhir bulan Januari ini adalah sore hari & siangnya matahari tetap setia menghangatkan bumi & orang-orang yang beraktifitas memanfaatkan waktu. Di Lirboyo malah lebih menarik lagi. Walau sederas apapun hujan sore, begitu lonceng MHM berteriak, hujan yang lebat menjadi reda. Teng awal yang menunjukkan waktunya sekolah malam dimulai itu seakan-akan adalah doa yang 'mengistirahatkan sejenak' hujan sore agar para santri yang berkewajiban belajar mengajar bisa berangkat menuju tempat mengais ilmu yang ada di Lirboyo, Madrasah Hidayatul Mubtadiien. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini teng awal pun sudah tidak ampuh lagi mengistirahatkan hujan. Pertandakah? Aku juga tak tahu.

Hujan kemarin (Jum'at) adalah hujan terlama sejak awal januari di sini. Bayangkan, hari Jum'at yang biasanya panas menyengat sejak pagi sepi dari sengatan mentari. Awan pekat dari pagi hingga siang mengumpulkan diri menjadi mendung yang setiap saat siap memuntahkan airnya. Pakaianku yang dari kemarin kujemur saja belum kering. Begitu sholat Jum'at selesai dilaksanakan mendung yang amat pekat tadi menumpahkan berjuta kubik air ke bumi Kediri. Membuat orang enggan beraktifitas di luar rumah & memilih menghangatkan diri dengan selimut di kasur. Begitu pula aku, yang memilih bantal sebagai teman setia menjelajahi alam mimpi. Siang itu hujan benar-benar deras. Hingga sore ketika bangun tidur air hujan masih semangat mengguyur. Bahkan suasana malam itu juga diwarnai dengan rintik air dari langit. Hujan baru berhenti saat hampir tengah malam. Masya Allah benar-benar agung kuasa Allah dalam mengendalikan makhluknya.

Melihat hujan seharian kemarin (hingga siang hari ini pun tak luput dari guyuran hujan) aku jadi teringat dengan mau'idhoh Bapak Saiful Qodim pada acara JWHU malam Jum'at kemarin. Salah satu yang beliau kutip adalah "Ilmu itu laksana Hujan" & kalau tidak salah ini adalah hadits nabi. Berikut uraian hasil eksplorasiku dalam tafakur mau'idhoh beliau.

Air merupakan komponen paling penting dalam kehidupan. Hampir semua aspek kehidupan di bumi ini mengandung & membutuhkan air. Ketika pertama kali bumi diciptakan, ia adalah planet yang terdiri dari kumpulan bermacam-macam tanah yang gersang, panas & tak bisa dijadikan tempat hidup. Tetapi begitu Allah mengguyurkan air hujan kepadanya satu persatu unsur kehidupan di bumi tumbuh. tumbuhan, hewan, hingga manusia kemudian bisa hidup & berkembangbiak di atasnya. Begitu pula ilmu. ia bisa menumbuhkan & menghidupkan jiwa orang yang mencari & mempunyainya. Jiwa yang tadinya gersang dengan pengetahuan & akhlak menjadi indah & mempesona karena disiram dengan ilmu.

Mantan lurah PPHY ini mengibaratkan air hujan sebagai ilmu & bumi sebagai manusia yang menerima siraman ilmu. Tanah yang dikandung bumi bermacam-macam jenisnya. Dari yang kering, tandus, keras, hingga subur ada di bumi. Tanah yang subur adalah tanah yang mengandung mineral & komponen penyusun dengan komposisi yang optimal. Dari apa tanah ini bisa subur? Tak lain adalah akibat dari siraman air. Karena unsur hara yang dikandung tanah tidak akan berfungsi jika tak ada air. Maka air sangatlah penting bagi penyuburan tanah. Dengan tanah yang subur maka berbagai macam tanaman dapat tumbuh diatasnya & akhirnya dapat memberikan manfaat. Sebaliknya, ada pula tanah yang kering & tandus. Ini dikarenakan rendahnya intensifitas penyiraman air hujan. Tanah yang tak pernah terkena air akan menjadi keras, kering, sulit menumbuhkan sesuatu, bahkan hanya akan menyusahkan yang lain.

Nah, dari uraian singkat tentang tanah di atas, maka tanah (bumi) dapat dianalogikan dengan manusia. Ada kalanya manusia itu 'subur' & bermanfaat, sebagai contoh para masyayich & habaib di sekitar kita. Di dalamnya terdapat banyak ilmu yang bisa dimanfaatkan orang banyak. Tak lain karena siraman ilmu ke dalam jiwanya, sehingga dapat menumbuhkan aneka hal yang bermanfaat. Sebaliknya ada pula manusia yang keras, buruk, hingga kurang memberikan manfaat bagi sekitarnya, bahkan hanya akan mengotori & mengganggu lingkungan tempat tinggalnya saja. itu karena tidak adanya siraman ilmu ke dalam jiwanya, sehingga benih-benih kebenaran yang sudah Allah tanam di dalamnya pun lama-lama menjadi mati & akhirnya menggersangkan kehidupannya.

Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa ilmu & hujan mempunyai peranan penting dalam menumbuhkan sesuatu. Betapa Allah tidak menciptakan segala sesuatu melainkan terdapat manfaat di dalamnya. Subanallah.

Kamis, 01 Januari 2009

1 Muharram Tiba

Sore itu jalan raya sepanjang rute menuju Masjid Agung Kota Kediri via Muning dipenuhi para orang bersarung. Dengan berbaju putih, kopyah hitam, & bersarung mereka berjalan kaki beriring-iringan tak putus-putus dari sore sampai petang. Tak jarang ribuan langkah para santri ini menghambat kelancaran lalu lintas jalan yang dilewati. Mereka menuju pusat perhatian masyarakat kota Kediri hari itu. Di mana orang-orang berbondong-bondong berkumpul, para kyai bertatap muka, & doa ribuan umat muslim dipanjatkan. Masjid agung kota Kediri menjadi saksi bisu atas acara besar ini. Sore akhir Dzulhijjah & malam awal Muharram. Ya, mereka semua berkumpul untuk melaksanakan Doa Akhir & Awal Tahun Hijriyah di area Masjid Agung & jalan raya di depannya.

Aku menjadi salah satu dari sekian ribu orang bersarung yang dari sore memenuhi jalur menuju alun-alun. Jalur kendaraan dialihfungsikan menjadi tempat berpijak langkah-langkah kang-kang santri. Benar-benar pemandangan yang tak biasa di kota Kediri karena mungkin hanya terjadi setahun sekali tiap awal tahun hijriyah. Dari Jembatan Baru kulihat masjid sudah penuh sesak oleh jamaah yang khusyuk mengikuti istighotsah pembuka acara yang dipimpin oleh KH Ilham Nadzir. Hampir tak ada tempat yang tersisa di dalam & serambi masjid. Aku& teman-teman kamar Solo yang bareng jalan menempati pelataran & trotoar masjid. Masya Allah, aku tak henti-hentinya berdecak kagum dengan antusiasme masyarakat Kediri dalam mengikuti acara ini.

Selama di Kediri 2 tahun sudah aku tidak mengikuti acara tahunan ini. Dulu pertama kali aku ikut masjid sebesar & sebagus ini masih belum sempurna pembangunannnya. Tiang-tiang pualam masih dilapisi plastik, pelataran masjid masih belum bisa digunakan, & material-material bangunan masih tercecer dimana-mana. Waktu itu aku ikut di dalam masjid. Yang menarik saat istighostah ba'da maghrib dilaksanakan hujan turun deras sekali. Seakan-akan langit juga ingin ikut serta berdoa & menurunkan rahmatNya. Anehnya begitu istighotsah selesai & ditutup dengan doa hujan yang dari tadi mengguyur deras tanpa kompromi tiba-tiba reda. Hanya gerimis kecil yang tersisa sampai akhir acara. Subhanallah, sekali lagi Allah menampakkan kebesaranNya.

Aku duduk di tengah teras masjid di samping menara dimana mozaik bintang 8 menghiasi lantainya. Aku, kang Arif, & kang Said yang pertama menempati area tersebut. Teman-teman yang tadi bareng dengan kami duduk di trotoar masjid tepat dibawah kami. Istighotsah sudah dimulai dari tadi. Kami bergabung dengan atmosfer istighotsah ketika bacaan sampai di akhir surat Yasin. Selama istighotsah orang-orang yang berbondong-bondong tak henti-hentinya datang. Sampai akhirnya selesai istighotsah jalan di depan masjid resmi ditutup. Lautan manusia berbaju putih kini membanjiri jalan Raya Sudirman. Kyai An'im mengambil alih perhatian jamaah dengan memimpin pembacaan doa akhir tahun hingga waktu maghrib tiba.

Semburat oranye menggores langit sore masjid yang dibanjiri lautan manusia. Berpakaian serba putih memanjatkan harapan kebaikan di waktu yang akan datang. Benar-benar pemandangan yang sangat mengagumkan. Lautan manusia mengelilingi masjid dengan semburat oranye menjelang maghrib terhampar di atasnya. Subhanallah.

Setelah sekian puluh doa dipanjatkan akhirnya waktu maghrib tiba. Suara doa akhir tahun digantikan oleh merdunya alunan adzan maghrib. Menandakan berakhirnya hari terakhir Dzulhijjah 1429. Berlalunya detik-detik berharga bagi yang memanfaatkannya & dimulainya lembaran baru bagu hamba-hambaNya yang bersedia memanfaatkannya. Hari pertama Muharram telah dimulai. Sholat maghrib bersama ribuan muslim di area masjid agung menjadi pembuka agenda kegiatanku di tahun 1430 H ini.

Selesai sholat maghrib acara dilanjutkan dengan pembacaan doa awal tahun sebagai permohonan kebaikan & rahmat di waktu mendatang yang dipimpin oleh KHA Idris Marzuqi. Doa tersebut dimulai dengan membaca ayat kursi sekitar 30 kali. Sebenarnya malah 360 kali, sejumlah dengan jumlah hari di tahun qomariyah. Tujuannya agar diberi umur & dilindungi dari syetan hingga tahun mendatang, begitulah tutur Syaikh Al Mishry yang disampaikan KH Miftahul Akhyar ketika taushiyah. Setelah itu dilanjutkan dengan doa awal tahun, hawwil hauly ila ahsanil ahwal 3 kali. Memohon kepada Yang Kuasa agar diberi kebaikan di waktu yang akan datang.

Alunan syahdu ayat-ayat suci & hikmat sholawat badar menyusul setelah doa awal tahun selesai. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan panitia oleh KH Hasyim Nawawi yang juga salah satu orang pemerintahan Kota Kediri. Kemudan berlanjut dengan taushiyah oleh KH Miftahul Akhyar dari Probolinggo yang menjabat sebagi rais syuriah PWNU Jatim. Beliau menyampaikan sebuah refleksi apik sebagai bekal sarana introspeksi diri di awal tahun ini. 'Suatu masa dikatakan lebih buruk jika pada masa itu manusia terlalu mengedepankan akal & meninggalkan hati nurani', itu salah satu maqolah yang beliau sampaikan yang dipetik dari Abdullah bin Abbas. Beliau berceramah tentang fenomena akhir zaman yang semakin menjauhi akhlak & syariat islam. Orang-orang Islam mulai kembali ke zaman jahiliyah. Menyembah selain Allah, hura-hura, kriminalitas merajalela, agama dicampakkan, nafsu dijunjung tinggi, sampai akhirnya Islam kehilangan identitas aslinya sebagai agama Rahmatan Lil 'Alamin. Dan itu semua ternyata sudah mulai terjadi di zaman sekarang ini. Maka apakah kita sebagai umat Islam tidak sadar & kembali ke jalanNya? Karena kita tak tahu apakah kita masih bisa menghirup udara di bumi ini besok. Selain itu beliau juga berharap agar pemerintahan selanjutnya bisa lebih baik dari yang sekarang, karena tahun depan walikota Kota Kediri, pak Maschut sudah tergantikan dengan pak dokter Samsul.

Taushiyah berakhir menjelang isya'. Para jamaah yang ada di sepanjang jalan & pelataran masjid sudah banyak yang beranjak. Di depan kami sudah banyak tempat-tempat kosong yang ditinggal pergi orang yang duduk di sana. Aku & kang Arif maju ke serambi depan ketika adzan isya' dikumandangkan. Dari atas kulihat para santri sudah banyak yang meninggalkan masjid agung. Tapi kami tetap di sini dulu untuk sembahyang isya'. Karena penutup rangkaian acara petang itu adalah sholat isya'.

Kami beranjak meninggalkan area doa bersama begitu sholat & dzikir selesai. Kembali menjadi salah satu antrian santri yang mengular sepanjang jalur ke Lirboyo. Akhirnya selesai juga pembuka agenda kegiatanku di waktu yang akan datang. Aku harap aku dapat memanfaatkan nikmat yang dihamparkanNya di tahun mendatang, menyadari akan semua khilaf yang telah kukerjakan di tahun lalu & bisa memperbaiki khilaf, salah, lupa, & dosa yang tercecer di antara hari-harinya. Amiiieeen

Kediri, 3 Januari 2009