Minggu, 24 Mei 2009

Krisis dalam Pendidikan

Suatu negara tidak akan bisa bangkit dan maju tanpa adanya pendidikan. Dalam mengupayakan pendidikan ada banyak cara yang ditempuh oleh pemerintah. Salah satunya mengadakan & membuat fasilitas pendidikan, baik berupa sekolah, perpustakaan, ataupun mengadakan penyuluhan-penyuluhan langsung kepada masyarakat. Dengan adanya fasilitas tersebut diharapkan dapat menjadikan masyarakat lebih berpikir maju. Sehingga pembangunan & kemajuan bangsa dapat diraih. Karena bagaimanapun juga pelaku Negara atau masyarakat (rakyat) merupakan faktor penting, bahkan lebih penting dari para pencetus sistem pendidikan di negara. Karena jika rakyat maju secara otomatis bangsa juga ikut berkembang.
Sayang tidak semua orang/masyarajkat berpikir betapa pentingnya pendidikan. Bahkan tak jarang ada yang mengatakan pendidikan (sekolah) hanya membuang uang & waktu saja. Toh setelah selesai tak ada perubahan berarti. Bagi yang pengangguran tetap pengangguran, yang kuli tetap kuli, yang pekerja kasar tetap pekerja kasar. Lebih baik mengasah ketrampilan & keahlian yang dimiliki agar bisa meneruskan perjuangan orang tua mencari nafkah. Benarkah anggapan seperti itu? Anggapan tersebut hanya akan muncul dari orang yang memandang sempit kehidupan dengan dipenuhi perasaan pesimis.
Masyarakat beranggapan demikian tentu saja tak sekedar bicara. Mereka melihat & merasakan realita bangsa ini. Bahwa begitu banyak lulusan sarjana yang masih bingung akan masa depannya. Suram. Lantas bagaimana tidak pesimis dengan adanya fakta menyedihkan ini? Siapa yang salah?
Sebenarnya tidak perlu menyalahkan siapa-siapa. Introspeksi ke pribadi masing2-masinglah yang diperlukan. Dengan bermuhasabah maka akan timbul kesadaran dengan sendirinya. Jika sudah seperti itu kita bisa merasakan kekurangan masing-masing aspek, masyarakat, & sistem pendidikan.

Kekurangan dalam pendidikan formal
Pendidikan di Indonesia ada 2 macam, formal dan nonformal. Pendidikan formal adalah pendidikan yang mengikuti sistem & aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Lembaga pemerintah membentuk depdiknas & depdikbud sebagai pengatur sistem pendidikan formal tersebut. Dimulai dari yang terendah, SD hingga perguruan tinggi mengikuti sistem & kurikulum yang ditetapkan kedua departemen tersebut. Dalam membentuk sistem & kurikulum Indonesia banyak mengaca pada negara-negara maju. Amerika, Belanda, Jepang, Inggris dijadikan pembanding sistem pendidikan. Hal tersebut dapat dimaklumi karena Indonesia merupakan Negara yang masih berkembang. Pantas jika ingin meniru negara-negara lain yang lebih maju. Tak terkecuali pendidikan. Negara-negara maju begitu mengutamakan sains, IPTEK, & seni sebagai faktor utama kemajuan. Disadari atau tidak dampak terlalu mendahulukan ketiga aspek di atas dapat memudarkan faktor terpenting dalam dunia pendidikan, hati (tata karma).
Hati bisa diidentikkan dengan perasaan. Di dalamnya terdapat banyak hal agar hati dapat mencapai tujuannya 100 %. Sebagai manusia yang diberikan nafsu oleh Allah, perasaan (hati) merupakan pengendalinya. Nafsu identik dengan hal-hal yang dapat berdampak negatif bagi kita. Karenanya Allah menciptakan perasaan yang berisikan hal-hal positif dariNya untuk mengekang nafsu. Diantara yang dapat menjadikan hati mampu mengendalikan nafsu adalah agama & akhlak. Facktor penting inilah yang menjadi kekurangan dalam pendidikan kita. Apa gunanya ilmuwan jika tak punya akhlak? Apa jadinya seniman yang buta akan agama? Apa jadinya pejabat yang tak berakhlak? Maka dari itu seharusnya pendidikan yang lebih diutamakan pertama kali adalah pendidikan hati, agama, & akhlak.

Pendidikan agama di masyarakat
Pendidikan agama seharusnya merupakan pendidikan pertama yang diterima seorang anak didik. Di sini tidak membatasi umur berapapun. Bahkan sejak kecil kita minimal memang harus mulai tahu agama. Tak heran banyak orang-orang tua yang memberikan pendidikan agama sejak kecil, baik itu orang tua sendiri yang mengajarkan atau disekolahkan di TPA, TPQ, atau madrasah. Minimal seorang anak mengerti mana yang baik & buruk. Dengan menanamkan nilai-nilai agama sejak dini kepada anak menjadikan anak akan selalu berpikir sesuai hati nurani sebelum bertindak. Baik atau burukkah yang dilakukannya? Kebiasaan menuruti hati nurani tersebut akan selalu lestari jika benih-benih agama yang telah ditanamkan di hatinya selalu dirawat dan dipupuk. Karenanya pendidikan agama bukan sebatas TPA saja. Para remaja & orang-orang tua pun juga selalu membutuhkan siraman rohani agar perilakunya sesuai dengan rel yang ditetapkanNya.
Akan tetapi ternyata yang terjadi di masyarakat justru sebaliknya. Pendidkan agama hanya diajarkan pada waktu kecil. Jika sudah besar mereka melupakan agama & mulai menekuni ilmu-ilmu baru. Sains, teknologi, sosial, ekonomi, matematika dll. Siraman rohani hanya ditanamkan ketika TPA, setelah SMA hingga perguruan tinggi siraman duniawilah yang diutamakan. Maka jangan heran jika banyak seklai orang pintar, cerdik, pandai di negeri ini yang tak berakhlak & berhati nurani. Akibatnya Indonesia kehilangan identitasnya sebagai negeri gemah ripah loh jinawi yang begitu menjunjung tinggi sopan santun.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan asli Indonesia
Agama islam memang bukan agama asli Indonesia. Islam masuk pertama kali sekitar abad pertengahan yang mana pada masa itu agama Hindu & Budha yang mendominasi wilayah Indonesia. Jadi Islam merupakan agama baru bagi Indonesia dulu. Akan tetapi agama inilah yang memberikan pencerahan, kedamaian, & keteraturan bagi masyarakat Indonesia hingga kini. Tak lain adalah karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya serta tak lepas dari peran para penyebar islam di tanah air.
Dalam menyebarkan agam islam para walisongo menggunakan metode dakwah dengan langsung terjun ke masyarakat & mendirikan lembaga pendidikan. Metode pendidikan yang digunakan para walisongo merupakan hasil akulturasi budaya timur tengah (asal walisongo) dengan Indonesia. Metode tersebut terbukti sangat cocok untuk diterapkan di Indonesia. Karenanya hingga kinipun masih tetap lestari buah pikiran para wali ini.
Salah satu lembaga pendidikan yang tetap eksis menggunakan metode walisongo adalah pesantren, khususnya pesantren salaf. Ciri khasnya antara lain mengambil rujukan dari kita-kitab para ulama salaf, menggunakan aksara pegon buah karya Sunan Ampel, selalu menerapkan sikap tawadhu’ & qona’ah, & ta’dhim kepada guru. Sebenarnya pelajaran paling penting yang diajarkan di pesantren adalah masalah aqidah & akhlak. Kedua aspek ini tidak banyak membutuhkan teori, karena metode prakteklah yang harus digunakan. Dalam menerima santri seorang kiai lebih memperhatikan akhlaqul karimah santri daripada kecerdasan otak. Tak jarang di mata masyarakat pesantren merupakan wadah pembentuk akhlak. Bahkan bisa dikatakan sebagai tempat rehabilitasi bagi santri-santri yang tergolong nakal. Hingga kini mata pelajaran akhlaklah yang menjadi ciri khas pesantren. Hal ini sejalan dengan budaya Indonesia yang menjunjung tinggi sopan santun.

Globalisasi Pesantren
Seperti yang kita ketahui bahwa pendidikan dengan perkembangan teknologi adalah berbanding lurus. Pendidikan akan ikut berkembang jika sebuah bangsa maju. Begitu pula pendidikan pesantren. Di era teknologi ini pesantren mulai membenahi kesan udiknya dengan mengambil hal-hal positif dari globalisasi. Kini banyak ditemui berbagai pesantren yang mulai memasukkan teknologi dalam sistem pendidikannya. Tak jarang pula ada pesantren yang menggunakan kurikulum internasional dalam pendidikannya. Disadari atau tidak lama kelamaan tradisi pesantren mulai terkikis.
Banyak pesantren yang lebih mengdepankan keilmuan duniawi. Kajian kitab kuning & tradisi ulama salaf dijadikan sambilan. Negara-negara barat dijadikan rujukan. Lantas bagaimana nasib pendidikan pesantren rintisan walisngo?

Peran Pesantren (Salaf)
Melihat kenyataan bahwa mulai tergerusnya nilai-nilai pesantren maka seyogyanya kita sebagai warga pesantren melakuakan pelestarian kembali. Agar identitas pesantren sesungguhnya tidak hilang ditelan zaman. Syukurlah hingga kini masih ada pesantren yang tetap memegang teguh sistem pendidikannya dengan tidak mencampuradukkan sistem pesantren dengan kurikulum pemerintah. Pesantren mengambil masukan yang bias berdampak positif kini dan nanti.
Sebagai santri, kitalah penyambung mata rantai tradisi ini agar tidak punah. Kita seharusnya tidak minder & malu sebagai santri. Yang kadang dicap udik, dibilang kolot, disebut tak berpendidikan. Biarlah anggapan masyarakat tentang santri. Memang sudah menjadi ciri khas bahwa sikap tawadhu'lah yang selalu menonjol dari santri. Yang mana dibalik itu semua tersimpan cahaya agama & lautan ilmu yang berguna untuk menyeimbangkan kebobrokan zaman.
Mari lestarikan kembali nilai-nilai pesantren.

Lirboyo, 26 Mei 2009

Kamis, 21 Mei 2009

Merenungi 100 tahun Kebangkitan Nasional

Bangkit itu. .
Susah
Susah melihat orang susah
Senang melihat orang senang

Bangkit itu. .
Takut
Takut korupsi
Takut makan yang bukan haknya

Bangkit itu . .
Mencuri
Mencuri perhatian dunia dengan prestasi

Bangkit itu . .
Marah
Marah karena harga diri bangsa dilecehkan

Bangkit itu . .
Malu
Malu jadi benalu
Malu karena minta melulu

Bangkit itu . .
Tak ada
Tak ada kata menyerah
Tak ada kata putus asa

Bangkit itu . .
Aku
Untuk Indonesiaku

oleh Deddy Mizwar (100 tahun Harkitnas)

Minggu, 17 Mei 2009

Tujuanku.....

Tujuanku yg sebenarnya ke Kediri tuh utk mondok di Lirboyo sekaligus melanjutkan sekolah di SMA. Kenapa Lirboyo? Bukankah masih banyak pesantren lain yg dekat dengan rumahku di Klaten? Kenapa pula harus bersekolah di Kediri? Bukankah Klaten justru letaknya sangat strategis sebagai kota pendidikan, kan deket Jogja & Solo. Kalo alasan yg valid sih aku juga kurang tahu kenapa aku bisa sampai terdampar di Lirboyo. Tapi yg pasti tujuanku ke sini utk mendalami Ilmu Agama lebih lanjut guna meneruskan perjuangan dalam menegakkan Islam di lingkungan keluargaku. Jadi bukan utk berSMA di sini. Yo intinya mondok sambil sekolah, bukan sekolah sambil mondok. Moga2 aja itu bukan Cuma2 kata yg terucap tok. . .

Perlu diketahui Batur, desa tempat aku tinggal masih sangat kental tradisi Islamnya juga semangat gotong royong & persatuan sangat dijunjung tinggi di sana. Alhamdulillah sampai sekarang pun kondisi seperti itu masih bisa bertahan dengan baik. Lha agar tradisi & nilai2 agama Islam tidak luntur karena derasnya arus perkembangan zaman tentunya membutuhkan kader2 penerusnya. Maka dari itu salah satu -dari banyak- visiku tuh utk menjadi kader penerus bagi masyarakat, minimal di desaku sendiri.

Tak terasa sudah 3 tahun aku menimba Ilmu si Kediri. Dan setelah kuteliti lebih lanjut ternyata apa yg kudapatkan dari sini tuh masih jauh dari standar. Bener! Aku merasa masih ada ruang kosong yg ingin diisi. Tapi aku gak tahu apa itu. Selulus dari SMA kemarin aku sempat bimbang, mau meneruskan kemanakah aku? Tetep mondok atau kuliah? Setelah melalui proses yg panjang dengan dorongan & pertimbangn pihak2 yg penting, aku memutuskan utk tetap di Kediri. Otomatis belum kuliah. Karena dari dulu aku ingin kuliah di Jogja. Kemudian timbul masalah lagi, mau ke madrasah Induk atau tetep di HY? aku kan sudah tamat madrasah Hy, otomatis masuk Tsanawi. Lha yg jadi pertanyaan tuh mau ke Tsanawi Induk atao HY. kalo di HY diusahakan harus bersekolah atau kuliah. Trus kalo di Induk harus bisa lulus ujian masuknya. Untuk bisa masuk ke Induk syaratnya adalah hafal nadzom Alfiyah 350 bait, bisa baca kitab kuning yg gak ada tanda bacanya sama sekali, & lulus tes tertulis. Aku sempet pesimis dengan kemampuanku. Dan ternyata itulah yg membuatku kalah sebelum bertanding. Aku menunda keberangkatanku ke Induk hingga tahun depan. Jadi utk tahun ini aku tetep di HY. Padahal harapan ortu & ustadzku aku harus bisa ke Induk. Tapi sayang negatif thinking tadi membuyarkan rencana beliau2. Makanya buat Kamu yg masih puanjang jalannya, apalagi masih SMA jangan sampai ada perasaan pesimis deh utk meneruskan jalan panjangmu. Rugi & bakal menyesal. Yg penting ”Rencanakan kerjamu & Kerjakan rencanamu”.

Karena masih di HY aku ingin memanfaatkan waktu luang utk ikutan kursus komputer di daerah Kediri. Di induk gak boleh ndobel. Para santri hanya dicekoki ilmu agama tok. Dan finalnya aku positif masuk ke El Rahma. Ada beberapa alasan aku masuk ke sana. Pertama karena biayanya yg relatif lebih murah jika dibandingkan dg Lembaga Pendidikan lainnya & kedua karena kebetulan di sini juga ada temanku, Linda & Nunuk. Aku bener2 gak nyangka bisa kumpul lagi sama mereka.

Wah dari tadi cerita melulu, sampe keterangan madrasah Induknya ketinggalan...

PP Lirboyo mempunyai banyak pondok2 unit. walaupun podoknya banyak ternyata madrasahnya hanya satu, yaituMadrasah Hidayatul Mubtadiien (MHM). Tapi itu secara umum tok. Kalo lebih teliti lagi sebenarnya ada juga madrasah yg lain. Seperti contoh di HY. MHM lebih dikenal madrasah induk. Kurikulum yg digunakan berbeda sekali dengan sekolah2 pada umumnya. Di sini kamu gak akan menemukan pelajaran Fisika, Kimia, Biologi, Ekonomi, Matematika, dkk. Di sini hanya fokus di ilmu agama, mulai dari Al Qur’an, Hadits, Aqidah, Akhlak, Fiqih, Nahwu, & Shorof.

Dari pelajaran2 tadi mungkin yg masih asing adalah Nahwu & Shorof. Maklum saja kalo belum pernah balajar bahasa Arab biasanya belum tahu (bukannya nyindir lho...). Nahwu & Shorof adl ilmu Gramatika Bahasa Arab atao lebih tepatnya Sastra Arab, ada juga yg menjulukinya Ilmu ’Alat (kamsudnya alat utk mendalami ilmu2 yg laen). Keduanya merupakan pasangan yg tak dapat dipisahkan. Kalo keterangan dari ustadz2 sih mereka tuh bagai Bapak & Ibu yg menghasilkan ilmu2 baru sebagai anak2 nya. Nahwu mempelajari kaidah2 bahasa Arab dalam segi lafadz per lafadz. Sedangkan Shorof mempelajari kaidah gramatika Arab dari segi huruf per hurufnya. Gampangane ngono. Pesantren2 di seluruh Indonesia hampir semuanya meletakkan Nahwu & Shorof sebagai salah satu pelajaran wajibnya. Makanya biasanya lulusan pesantren tuh di mata orang2 adalah seseorang yg pandai berbahasa Arab, piawai mentranslate lafadz2 Al Qur’an, sampe2 koyo2 santri tanpa bahsa Arab tuh rasanya hambar. Beberapa alasan kenapa bahasa Arab ditetapkan sebagai ilmu wajib tuh antara lain, Al Qur’an diturunkan berbahasa Arab, Nabi SAW sehari2nya berbahasa Arab, hingga kelak di surgapun bahasa yg digunakan adl bahasa Arab. Jadi Maklum kalo para kyai & ulama meletakkan bahasa Arab sebagai ilmu yg wajib dipelajari. Trus apakah kamu gak tertarik tuh mempelajari bahasa Al Qur’an, bahasa Nabi, & bahasa surga? Kalo bisa belajar dong. Masak kalah sama santri. Hehehe

MHM mempunyai jenjang2 sesuai dengan kecakapan santri. Dimulai dari Ibtidaiyyah utk mendalami Ilmu Nahwu Shorof tadi. Setelah itu masuk ke jenjang Tsanawiyyah utk mendalami lebih Ilmu Fiqh dengan berbekal kecakapan Nahwu Shorof tadi. Kan semua pelajaran di MHM memakai kitab2 yg berbahasa Arab. Dan terakhir adalah jenjang ’Aliyyah utk mendalami Ilmu Tauhid & Tasawuf. Jadi kurikulum yg disusun oleh para pendiri madrasah ini tidak cuma asal menyusun. Tentu saja kurikulum pendidikan di Indonesia juga seperti itu. Penuh pertimbangan dari berbagai orang2 penting dlm kancah pendidikan Indonesia.
Sekarang ini aku masih jenjang Tsanawiyyah itupun bukan di MHM. Tapi sebenarnya sama aja kok pelajarannya. Tadi aku sempat bilang kalo syarat masuk Tsanawi induk tuh hafal 350 bait Alfiyah. Tahu gak Alfiyah itu apa? Heheh. Alfiyah itu nama kitab pelajaran di bidang Nahwu & Shorof. Isinya berupa syair sebanyak 1000 bait. Dan itu pas tes akhir setelah khatam harus bisa hafal semua. Mangkanya aku sempet minder waktu diminta masuk ke Induk. Tapi untuk saat ini dengan langkah optimis tahun depan aku harus bisa masuk ke MHM utk memenuhi harapan kedua ortuku. Mohon doanya ya....

Minggu, 03 Mei 2009

Kullu nafsin dzaiqotul maut…
Kullu syaiin halikun illa wajhahu..
Potongan ayat yang disitir oleh Kang Din ketika mengisi acara inti pada jam’iyyah minggu lalu masih terngiang jelas. Tidak ada yang abadi kecuali Dia, sang pencipta. Semua ini adalah kepunyaanNya, maka jika sewaktu-waktu Allah berkehendak untuk mengambilnya kembali tentulah ikhlas yang harus kita tanamkan dalam hati. Harta benda, lingkungan kita, orang-orang tercinta termasuk nyawa kita sendiri.

HY berduka. Salah seorang santrinya sowan ke haribaan Ilahi. Kang Choiruddin, santri HY yang menetap di kamar Solo itu mendahului kita semua. Sore yang tenang waktu itu tiba-tiba diramaikan oleh kabar duka dari kantor. Aku yang baru bangun dari tidur siang masih belum nggagas berita paling hangat sore itu. Baru ketika mau mandi aku mendengarkan sekilas pembicaraan teman-teman di depan kamar. Kang Din kecelakaan, tangkap telingaku. Seketika kantukku hilang. Aku pun ikut nimbrung dan menyimak omongan cah-cah di teras. Ternyata Kang Din benar-benar kecelakaan, tertabrak bus. Tepatnya di daerah Ngawi ketika dalam perjalanan pulang naik sepeda motor. Dan seketika itu juga, katanya Kang Din langsung meninggal di tempat. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Raut mukaku berubah. Ya Allah baru kemarin rasanya aku nembung sorogan ke Kang Din, hari ini sudah Engkau ambil terlebih dahulu. Ya Allah tak ada yang dapat mengelak dari takdirMu.

Matahari cerah sore itu benar-benar terasa mendung dengan kabar duka dari kamar Solo. Tak ada topik obrolan yang lebih menarik daripada berita duka itu. Kang Din yang terkenal pendiam dan tawadlu’ di pondok HY berkali-kali dikenang kembali masa hidupnya dengan obrolan khas santri. Dulu aku termasuk dekat dengan almarhum, walaupun tidak seakrab teman-teman sebayanya. Kami sering sharing-sharing masalah kami masing-masing. Biasanya Kang Din tanya ini itu tentang perkembangan teknologi di luar, sedangkan aku banyak bertanya tentang hikmah-hikmah para ulama salaf dan persoalan agama yang terus menjadi kontroversi (bid’ah). Kang Din kuakui memang seseorang yang pendiam dan tawadlu’. Kata-katanya hemat dan mengena, jikapun gojlok (biasalah santri) tak banyak yang dilontarkan, selalu melaksanakan tugasnya sebagai sie wesel dengan tanggung jawab, dekat dengan teman-teman yang lebih kecil dan bertanggungjawab sebagai kakak terhadap adiknya di PPTQ. Dengan melihat kenyataan di atas tidaklah salah jika seluruh santri HY berduka. Kata Kiai kami, insya Allah Kang Din khusnul khotimah dan syahid karena meninggal masih dalam rangka menuntut ulumid din.

Semua kehilangan Kang Din. Akan tetapi hilang tetaplah hilang. Manusia tak dapat mengelak, menepis, menambah atau mengurangi takdir, takdir yang telah digariskan Allah dengan kesepakatan kita ketika berada di alam ruh sebelum lahir ke dunia dari rahim ibu kita. Bagaimanapun juga kematian tak perlu ditangisi berlebihan. Kematian merupakan cermin introspeksi kita. Bahwa, siapkah kita menjalaninya? Siapkah kita mempertanggungjawabkan amal kita? Siapkah kita menerima keputusan dari Allah kelak di Yaumul Hisab? Siapkah kita menghadap Ilahi Robbi yang Maha Abadi? Hanya kita sendiri dan Allah yang tahu.

Kematian Kang Din kemarin memberikan pelajaran berharga buatku. Betapa kematian tak pandang bulu. Malaikat Izroil tak mempunyai belas kasihan jika waktu tugasnya sudah tiba. Yang sepuh bisa meninggal, yang tua bisa meninggal, bahkan anak-anak dan bayipun bisa meninggal. Tinggal kitalah yang bisa menilai diri kita sendiri. Sudahkah siap menghadapi kematian di ujung mata? Seperti nasehat Kang Din ketika jam’iyyah minggu lalu, takziyah mempunyai hikmah yang besar. Ketika kita melihat seseorang dalam pembaringan tertutup kain kafan; ketika kita mengiring jenazah menuju pembaringan terakhir; ketika kita ikut atau melihat pemakaman; ketika kita menyaksikan bahwa sang mayit dikembalikan ke tempat asalnya, tanah; ketika gundukan tanah sudah tersusun di atas pembaringannya; itu merupakan isyarat nyata dari Allah. Bahwa kelak kita juga seperti itu. Siapkah kita menjalaninya?
Allahummaghfir lahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu ya Robb. Selamat jalan Kang Din. Semoga kehidupan terakhirmu kemarin merupakan awal dari kebahagiaan abadimu di sana…

Batur, 2 Mei 2009

Jumat, 24 April 2009

Sanitasi

Kini cah2 HY sudah tak kebingungan lagi mau melaksanakan kebutuhannya sebagi mahluk hidup, buang air besar. Walaupun kedengarannya sepele dan menjijikkan kegiatan yang stu ini amat penting bagi metabolisme tubuh kikta. Beberapa hari tak buang hajat saja bias merogoh koicek yang tak sedikit. Benar2 kita harus bersyukur masih diberi nikmat oleh Allah sehingga tubuh kita dapat terjaga.
Sebagi kegiatan yang tak terpisahkan dari kehidupan aktifitas buang hajat sepertinya memang diistimewakan dibandingkan dengan aktifitas lainnya. Bagaimana tidak, untuk melaksanakannya saja kita sebagai manusia mempunyai tata cara dan tata karma tersendiri. Terlebih dalam Islam. Nabi SAW sudah memberikan sunah2nya tentang adab2 buang air. Diantaranya di tempat tertutup, jauh dari keramaian, memakai tutup kepala, memakai air bersih atau batu (dan sejenisnya) untuk membersihkan diri, hingga ada doa yang dipanjatkan sebelum dan sesudah buang air.
Seiring dengan teknologi kotoran2 yang notabene hanya mengotori dan menjadi sampah kini mulai diamanfaatkan kembali menjadi barang yang lebih berguna. Pupuk kandang yang dari dulu terkenal sebagi pupuk alami dan paling sehat diantara pupuk2 kimiajuga dari sisa kotoran2 ternan. Tletong sapi yang terkenal dengan baud an bentuknya yang menjijikkan kini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku gas pengganti LPG (Liquid Pretoleum Gas. Semua itu tak luput dari tangan2 kreatif yang tahu dan peduli akan kelangsuingan kehidupan di bumi. Bhawa semboyan ‘selamatkan bumi dengan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) bukanlah hanya hiasan bibir. Akan tetapi harus lebih ditampakkan dengan perbuata. Betapa Allah menciptakan segala sesuatu tanpa ada kesia2an.
Melihat nilai manfaat yang dihasilkan dari limbah alami dari binatang tersebut, lantas kita berpikir, bisakah kita tidak mengandalkan jsa binatang? Bukankah kita sendiri juga menghasilkan limbah alami? Dan ternyata setelah melalui proses pemikiran dan uji coba yang panjang kotoran manusia juga bia dimanfaatkan menjadi biogas sebagi pengganti LPG. Untuk menghasilkan gas metana/etana yang mudah terbakar tersebut memerlukan proses yang tidak sepele.



Akhir tahun lalu dinas kesehatan (dinkes) dan dinas kebersihan lingkungan hidup (DKLH) kota kediri mengaakan penyuluhan tentang adanya WC sanitasi di HY. WC sanitasi sebenarnya sama seperti Wc pada umumnya, perbedannay terletak pada segi kebersihan dan pengambilan manfaat dari tempat buang air tersebut. Feses manusia yang terkumpul di septictanknya dapat terolah menjadi biogas. Kegiatan ini sebenarnay merupakan promosi agar pihak pondok bersedia mengikuti kontes uji kelayakan untuk selanjutnya dibangunkan WC lengkap dengan pengolah gasnya. Pondk kami bersedia mengikuti kontes tersebut. Aku dulu termasuk yang mengikuti penyuluhan kecil di mushola kala itu. Kata Pak Dinkes contoh pesantren yang sudah menggunakan WC sanitasi ini ada di Blitar dan Tuban. tepatnya dimana aku lupa :p. Dari jumlah kotoran yang ditampung sehari bisa menghasilkan ... liter gas yang mampu menghidupkan hingga 5 buah kompor gas. Coba bandingkan dengan kompor2 lain yang biasanya menggunakan gas elpiji atau kompor minyak. Hemat sekali bukan?

peserta lain yang mengikuti kontes ini anatara lain desa Balowerti dan pondok induk. setelah melalui proses penyeleksian ternyata HY tidak termasuk yang lolos. pondok induk dan desa... lah yang layak mendapatkan bantuan WC ini. akan tetapi ternyata masyarakat desa ... kurang setuju dengan keputusa itu. karena buat dibangun WC yang hanya menjadi hiasan desa saja? bukankah aa yang lebih membutuhkan dan bukankah setiap rumah sudah mempunyaiWC sendiri? Dab ternyata oleh pihak penyelenggara bantuan ke desa ... dialihkan ke HY. Maka sejak awal tahun kemarin HY memugar habis WC lamanya untuk didirikan kembali WC yang lebih layak dari pemerintah.

bangunan yang berdiri sejak tahuun1997 itu dipugar secara bertahap, karena sudah cenderung permanen. Roan demi roan terus dilaksanakan agar bangunan WC rata dengan tanah. Kita warga HY sempat bingung mau buang hajat di mana. Karena WC umum di HY memang hanya itu saja. Bayangkan betapa berjasanya WC itu karena dibutuhkan oleh sekitar 400 santri setiap harinya. Lha jika dipugar habis tidakkah kita kebingungan mencari tempat berak? sebenarnya masih ada lokal WC yang tidak dipugar, tapi cuma ada 2 bilik. Mau ngungsi ke WC unit lain gak penak.

Akhirnyadibangunlah WC darurat di belakang kandang kambing milik Gus Shobir, bersandingan tepat dengan kebun tebu. Wc ini hanya terdiri dari 8 bilik yang nonpermanen, karena hanya digunakan selama pembangunan WC sanitasi. Sekat dan pintunya dari anyaman bambu, baknya dari tong yang kadang penuh kadang kering dan septictanknyalangsung ke kebun tebu. jadi tiap sebulan sekali perlu disedot agar bisa digunakan kembali. kadang aku lebih memilih mengungsi daripada repot di WC gedek ini. Lha piye, kadang pintunya malah sampe rusak lumuten karena kena air tiap hari tang tak sedikit. Apalagi jika malam. lebih baik numpang ke WC pengurus daripada berak di kebun tebu.

tapi itu dulu. Karena pembangunan WC sudah sampai tahap akhir di bulan Maret lalu. Pembangunnannya juga membutuhkan biaya, tenaga, dan pikiran yang tidak sedikit. mulai dari meratakan WC dengan tanah, memindah dapur umum yang nempel dengan bangunan WC, bongkar septictank super besar, hingga hasilnya sebuah lubang menganga lebar sedalam 5 meter teronggok di bekas WC. Dan mulai dari situ pembangunan WC dimulai kembali dari nol. pembuatan ponaasi, liang septictank yang baru, tabung biogas, dan pembangunan WC seperti yang kita kenal pada umumnya. Aku baru tahu kalau ternyata membangun WC sangat rumit. Masya Allah, benar2 manusia tak punya daya dan upaya selain dari Allah semata.

(maaf belom selesai)

Selasa, 07 April 2009

Lelaki melahirkan dan Menyusui

Di zaman sekarang populasi wanita terus meningkat jika dibandingkan dengan pria. Ibu yang melahirkan perempuan lebih banyak. Tidak hanya populasi . Semua aspek di dunia ini tampaknya sudah dikuasai oleh kaum hawa. Pekerjaan, pendidikan, perdagangan, bahkan kriminalitas pun tak luput dari cengkeraman para perempuan.

Sebagai contoh ambil saja salah satu sekolah sebagai pembanding. Jika kita bandingkan jumlah lelaki dan wanita di sekolah tersebut, mulai dari murid, guru, hingga penjaga kantin, jumlah wanita akan lebih banyak. Bahkan tak jarang tugas-tugas kasar yang biasanya dilakukan oleh pak bon (tukang kebun) juga mulai diambil alih oleh perempuan. Benar-benar mengejutkan. Itu masih sekolah umum yang dibuka untuk sisa dan siswi. Perbandingannya paling tidak 3 : 1. Apalagi sekolah yang biasanya hanya dihuni oleh para sisiwi, seperti SMEA. Hampir tak ada siswa laki-laki di dalamnya. Dari perbandingan tersebut dikalikan sejumlah sekolah di kabupaten atau kota yang bersangkutan. Coba pikir, bagaimana kita tidak kewalahan laki-laki makin didesak oleh perempuan.

Ketika SMA, kelasku adalah yang termasuk didominasi oleh perempuan. Akan tetapi perbandingannya hanya 2 : 1. Bukan hanya dalam masalah jumlah, dalam segi prestasi & kerajinan pun seakan-akan hanya milik mereka. Sedangkan kami, para laki-laki sering tak mendapatkan tempat untuk duduk di deretan rangking teratas. Dan ternyata fenomena ini tidak hanya terjadi di kelasku. Ketika rapor akhir semester dibagikan, kami juga akan diberi edaran yang berisi daftar peringkat 3 besar dari masing-masing kelas. Rasanya kecewa sekali ketika tempat-tempat pertama hampir semuanya diduduki oleh perempuan. Bukan kecewa terhadap teman-teman perempuan yang mendominasi, akan tetapi kepada diri sendiri dan teman-teman laki-laki lainnya, kenapa kalah dengan perempuan? Mungkin salah kita juga merasa lebih di atas perempuan. Karena perasaan seperti itu bisa membunuh semangat kita sebagai laki-laki.

Apakah ini termasuk efek dari persamaan gender atau yang lebih tren dengan emansipasi? Mungkin saja ya. Tapi jangan sembarangan menyalahkan begitu saja emansipasi. Lantas salahkah emansipaai itu? Mari kita kupas.

Pada kodratnya semua hal mempunyai pasangan. Satu bagian saling melengkapi bagian yang lain. Karenanya tak ada yang sempurna, karena mau tak mau pasti ada pasangan untuk menyempurnakannya. Semua mempunyai fungsi dan tugas yang berbeda. Begitu pula manusia yang juga diciptakan berpasangan, laki-laki dan perempuan. Masing-masing mempunyai tugas dan tanggung jawab yang berbeda.

Laki-laki biasanya mempunyai fisik tegap, dada bidang dan kadang kekar. Itu sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang diembannya, yang membutuhkan tenaga dan pikiran yang lebih. Tak heran jika sosok seperti itu mampu dijadikan sebagai pemimpin. Karena seorang pemimpin mempunyai tanggung jawab sehingga kemampuan pikiran dan tenaganya harus lebih dari yang dipimpin. Sedangkan perempuan cenderung berkebalikan dengan laki-laki. Tubuh langsing, kulit halus, kadang tinggi semampai. Fisik dan sifatnya tidak sesuai dengan pekerjaan-pekerjaan berat yang biasa dilakukan laki-laki. Pekerjaannya cenderung ringan dan harus disertai dengan sentuhan perasaan. Seperti merawat anak dan keluarga. Jika perasaan tak diikutsertakan bisa jadi berdampak negatif pada hasil pekerjaannya.


Emansipasi merupakan suatu upaya untuk menyetarakan hak dan derajat. Di mata masyarakat emansipasi identik dengan wanita, karena memang dari dulu sering tidak mendapatkan hak yang sejajar dengan kaum lelaki. Sehingga muncullah emansipasi wanita yang di Indonesia dipelopori oleh RA Kartini, seorang ningrat dari Jepara. Beliau mencetuskan artikel-artikel dan surat dalam bahasa Belanda yang berkaitan dengan ketidakadilan perlakuan antara laki-laki dan perempuan. Mungkin saja sebelum kartini mengoarkan emansipasi sudah ada yang mendahuluinya berusaha menegakkan keadilan. Gerakan ini wajar dilakukan kaum perempuan karena memang dari dulu perempuan selalu dipandang sebelah mata saja oleh orang-orang. Padahal islam sangat menghormati perempuan. Jadi bisa dikaitkan bahwa sebenarnya gerakan emansipasi sudah lebih dahulu dikoarkan Islam. Kita pun harus turut memperjuangkannya kembali agar tak ada kesenjangan sosial diantara laki-laki dan perempuan.

Yang menjadi masalah adalah gerakan emansipasi yang berlebihan yang lebih dikenal dengan feminisme. Paham ini bukan saja menginkan persamaan hak dan derajat, juga persamaan kewajiban dan segala hal dalam kehidupan. Perilaku ini dilakukan karena selain menginginkan hak yang sama perempuan pun juga ingin menjadi sumber nafkah. Dampak dari semua itu perempuan lupa akan tugas utamanya yang mulia, menjadi ibu dan pengendali bahtera rumah tangga. Jika sudah begitu bisa-bisa kelak ada golongan wanita kuli, tukang bangunan dan kegiatan lain yang lebih melibatkan fisik. Padahal seperti yang disinggung di atas pekerjaan perempuan lebih melibatkan perasaan daripada fisik.

Seharusnya tak ada yang perlu dipermasalahkan dari kasus emansipai atau feminisme. Karena Allah Maha Adil, menciptakan laki-laki untuk perempuan dan perempuan untuk laki-laki. Semua saling melengkapi, tak ada yang sempura dan tanggung jawabnya sudah diatur sendiri-sendiri oleh Yang Maha Kuasa. Dalam kehidupan rumah tangga seorang suami bertugas mencari nafkah, membanting tulang untuk menghidupai keluarganya. Tak heran hingga ada yang rela dari pagi hingga malam bekerja demi kelangsungan hidup anak istrinya. Begitulah jika tahu akan tanggung jawab besarnya. Dia takkan seenaknya sendiri main perintah dan akan melaksanakan tugas sebaik-baiknya.

Tugas utama seorang istri sebenarnya hanyalah sepele, menyenangkan suami. Hanya yang menjadi masalah, bagaimana cara menyenangkan suami? Itu kembali ke rumah tangga masing-masing. Bentuknya pun banyak sekali. Mulai melayani, merawat suami dan anaknya hingga dalam bentuk penghasilan tambahan.

Jadi sebenarnya semuanya akan selaras dan seimbang jika mengetahui tanggung jawab masing-masing. Tak usah repot-repot meneriakkan persamaan gender, feminisme, penyetaraan hak dan kewajiban dll. Karena pada hakikatnya manusia itu sama hanya tanggung jawabnya yang berbeda dan bagamana ia berusaha melaksanakannya sehingga menjadi hamba Allah yang selalu taat kepadaNya. Bukankah derajat manusia di hadapan Allah adalah sama, hanya tingkatan taqwalah yang Dia lihat.

Jika semua tak tahu tanggung jawab dan fungsi masing-masing, hanya menuntut dan menuntutlah pekerjaannya. Dan jika semua sudah saling tuntut dan memaksakan kehendaknya, jangan heran jika kelak ada wanita kekar dan brewok atau juga laki-laki melahirkan dan menyusui.

Kamar solo, 20 april 2009

Minggu, 22 Maret 2009

Kabar Angin

"Pak saya insya Allah pulang hari Selasa malam Rabu," jelasku pada bapak kemarin.

Liburan sudah benar-benar di ambang mata kini. Pikiranku sudah melayang ke kampung halamanku. Apa yang sedang terjadi di sana ya? Adakah yang berubah? Aku benar-benar rindu. Kalau kuhitung 5 bulan lebih aku tak tahu menahu wajah Batur sejak kepulanganku terakhir ketika ada acara besar di desaku.

Aku menyiapkan barang-barang yang akan kubawa pulang. Pakaian, buku, alat tulis, kamera, bahkan sabun tak lupa kumasukkan ke dalam ransel. Lho emang mau ke mana, Mas? hehehe. Rencanaku liburan kali ini aku mau ke Magelang, mengikuti acara khataman sekalian reuni dengan teman-teman SMPku dulu. Aku sangat ingin bisa mengikutinya. Karena sudah 3 tahun lebih aku tak dapat menikmati keramaian dengan teman-teman lamaku di Al Husain. Apa kaitannya dengan sabun? Lha sabun itu mau kubawa saat berada di sana, karena tak ada sabun umum di kamar mandi pondok. Semua mempunyai peralatan mandi sendiri-sendiri. Sudah-sudah, malah ngelantur ke mana-mana.

Aku memeriksa ransel bututku. 3 tahun menemaniku di SMA ternyata telah memudarkan pesona warnanya. Walau begitu tetap mampu membantuku membawa barang-barang beratku selama perjalanan nanti. Kasihan juga sih. Tapi kapan aku membeli penggantinya? Ngatur pemasukan dan pengeluaran uang saku saja susah banget.

Ketika baru akan memasukkan buku-buku penting ke dalam mulut ransel yang lapar, tiba-tiba ada suara memanggilku.

"Min, ada telepon dari bapakmu. Penting," suara pak Imam terdengar di luar kamar ternyata, "teleponnya aneh,"

"Kamsudnya, eh maksudnya?" aku makin penasaran dong.

"Nanti kamu juga tahu sendiri. Ayo sekarang ke kantor," kata pak Imam sambil mengikuti langkahku menuju kantor pondok.

Tumben bapak meneleponku. Biasanya kan aku yang menghubungi rumah jika ada keperluan. Apalagi besok aku berangkat pulang. Wah, sepertinya ada yang tak beres.

"Assalamualaikum," aku memasuki kantor.

"Lha ini pak, Amik masih sehat-sehat di sini," kudengar suara pak Fata bercakap-cakap dengan telepon di dalam kamar kantor.

"Mik, ada telepon dari bapak, " ujar pak Fata sambil menyodorkan HPnya. Oo kukira lewat telepon pondok, "katanya kamu kecelakaan" pak Fata menambahkan.

Ha! siapa bilang aku kecelakaan?. Nyatanya masih sehat wal afiat bisa berdiri di sini kok.

"Pripun Pak?" aku mengecek penjelasan pak Fata

"Gak tahu. Kamu ngomong sendiri saja. Biar jelas,"

Makin bikin penasaran aja sih, batinku.

"Assalamualaikum," aku memulai percakapan.

"Halo, Le, kamu ndak pa-pa to?" suara bapak terdengar bercampur antara khawatir dan lega. (tapi masih banyak khawatirnya..kayaknya lho)

"Nggih Pak, ini saya di sini. Ada apa Pak kok kayaknya khawatir banget?"

"Ya, tapi kamu ndak pa-pa kan?" wah bapak kurang yakin nih.

"Saya sehat-sehat saja kok. Kenapa pak?"

"Alhamdulillah, Le, kalau gitu," sekarang baru kedengaran lega," gini, tadi ada telepon. Ngakunya dari Polresta Kediri. Katanya kamu kecelakaan dan sekarang sedang dirawat di RS Bhayangkara,"

Deg! tentu saja aku kaget. Siapa yang iseng menelepon hingga membuat bapak khawatir? Nyata-nyata aku masih sehat kok dibilang kecelakaan. Hanya satu kesimpulannya, penipuan.

"Wah, jangan percaya pak. Itu pasti penipuan," ujarku, "lha wong saya masih bisa bicara dengan bapak,"

"Syukurlah kalau itu kabar bohong. Tadi bapak dan ibu khawatir banget, Le,"

"Ceritanya gimana Pak?" mau tak mau aku jadi penasaran karenanya.

"Tadi ada bapak-bapak telepon. Tanya, apa punya anak di luar Delanggu? Tentu saja bapak jawab ndak punya, adanya di Kediri. Lha kok malah setelah itu orangnya ngaku dari Polresta Kediri," bapak membuka ceritanya.

"Dari situ sudah bisa ditebak kalau itu penipuan Pak," timpalku. Kan lucu, tanya pertama Delanggu kok ujug-ujug berubah menjadi Kediri.

"Katanya kamu kecelakaan & sedang dirawat di RS Bhayangkara. Bapak tadi juga diberi nomor telepon dokternya, kalau ndak salah namanya Imam. Bapak coba hubungi ndak bisa. Akhirnya muncul gagasan untuk menelpon pak Zufni, ngecek apa betul kamu kecelakaan," jelas bapak panjang lebar," sebenarnya RS bhayangkara itu ada ndak to di Kediri?"

"Mm.. Ada pak. Itu rumah sakit dari aparat pemerintah,"

"Yang membuat bapak deg-degan kalau beritanya benar, adalah karena kemarin kamu ngabari kalau mau pulang malam ini. Pikir bapak, apa amik kecelakaan saat perjalanan?"

Wah bisa juga ya dugaan bapak. Kecelakaan lalu lintas kan biasa terjadi.

"Katanya tadi sudah menghubungi nomor yang diberikan orang tadi ya pak?"

"Ya, tapi ndak nyambung,"

"Untung saja gitu. Coba kalau nyambung, pasti ujung-ujungnya minta uang,"

"Pikir bapak setelah tahu kamu selamat juga gitu," bapak bercerita lagi, "memang dulu tetangga kita juga pernah ada yang terkena penipuan serupa. Bahkan kabarnya sudah mengirimkan uangnya,"

"Kasihan sekali ya Pak,"

"Alhamdulillah Le, kita masih diingatkan oleh Allah,"

"Nggih pak, Alhamdulillah. Gini saja, nanti bapak coba lacak nomor itu lagi, terus minta keterangan lebih lanjut untuk dilaporkan ke polisi," usulku.

"Ya, nanti bapak coba lagi. Agar kejadian yang sempat menimpa tetangga kita ndak terulang lagi,"

Tak disangka ternyata bapakku hampir menjadi korban penipuan berkedok seperti itu.

"O ya, positif pulang nanti malam to?"

"Insya Allah, Pak,"

"Ya sudah. Hati-hati di jalan. Semoga selamat sampai rumah. Salam ke pak Zufni ya. Wassalamualaikum..," bapak mengakhiri pembicaraan kami.