Jumat, 21 Agustus 2009

Indonesia Merdeka??!!

Puluhan tahun yang lalu rakyat Indonesia masih terkatung-katung oleh perbudakan Belanda
Puluhan tahun yang lalu Indonesia belum menemukan kembali identitas aslinya
Puluhan tahun yang lalu deru mobil & kapal perang menghiasi keheningan & ketentraman Indonesia
Puluhan tahun yang lalurentetan mesiu & dinamit menjadi sarapan rutin rakyat Indonesia
Puluhan tahun yang lalu para pemudalah yang sibuk mencari celah & merumuskan apakah kemerdekaan itu
Puluhan tahun yang lalu Indonesia tidaklah seperti Indonesia kini

Hingga akhirnya

64 tahun yang lalu semangat pemuda berhasil membuktikan kepada Belanda, bahwa inilah Indonesia
64 tahun yang lalukobar semangat pejuang benar-benar berarti bagi Indonesia
64 tahun yang lalu akhirnya Indonesia menemukan kembali jati dirinya setelah 3,5 abad dikaburkan oleh penjajah
64 tahun yang lalu Indonesia menyatakan kemerdekaannya lewat proklamasi

Indonesia telah merdeka
Indonesia telah bebas
Indonesia telah menemukan haknya kembali
Harapan para proklamator adalah memajukan bangsa
Impian para pahlawan adalah menciptakan generasi penerus kemerdekaan
Cita-cita para pendahulu kita adalah terciptanya Indonesia yang adil & beradab

Indonesia Merdeka!!

64 tahun telah berlalu

Sudahkah kita memenuhi harapan mereka?
Sudahkah kita mewujudkan cita-cita mereka?
Sudahkah kita menjadi generasi penerus bangsa yang adil & beradab?

Lihatlah kenyataan
Para pemuda tidak lagi cinta Indonesia
Para pemuda lupa akan jasa para pendahulunya
Para pemuda mulai malu menyandang predikat sebagai bangsa Indonesia
Para pemuda lebih bangga dengan budaya asing
Para pemuda mulai kehilangan identitas Indonesianya

Inilah tugas kita
Sebagai tunas bangsa
Perjuangan belumlah tuntas
Apakah ini yang disebut
Merdeka??!!

Batur, 16 Agustus 2009

Kamis, 13 Agustus 2009

Hadiningrat emang Ningrat (part II)

Sesampai di pondok informasi yang kudapatkan kusebarkan ke teman-teman yang bersangkutan. Kang Daris, Syueb, kang Juw, kang Juki dll. Walau mendapat nomor akhir ternyata teman-teman tetap semangat ikut lomba ini. Mau tak mau semangatku ikut terlecut karenanya.

Ba'da maghrib diadakan rembugan & latihan lagi sama teman-teman. Formasi pertama terpaksa diubah. Eh bukan terpaksa ding, aku dengan senang hati melepas posisi dari vokal menjadi penabuh. Kang Marzuki, kang Juweni & kang Huda yang bertugas memegang mic. Aku, Syueb, Ahmad, kang Daris, kang Tohir & Saiful memegang alat. Kali ini ditambah gebrakan baru, ada penari latar tapi cuma satu orang. Narinya juga bukan cuma duduk, harus atraktif, bisa berdiri, berjalan dll. Yang beruntung menjadi personel baru ini adalah Abror.

Sebelum berangkat kita mendapat panggilan dari kantor untuk segera berangkat ke lokasi lomba, mengingat waktu semakin malam. Setelah siap, kami bareng-bareng ke muktamar nyepeda. Aku sempatkan ngabari Nunuk lewat HPnya kang Huda. Mbok menowo nanti ada temanku yang lihat. Sayang ternyata nomor yang aku tuju salah. Gak nyampe deh smsnya...

Aku dibonceng Abror yang memakai sepeda Fatah. Tanpa basa basi kami langsung menuju tempat acara & memarkir sepeda-sepeda di dekat standnya Zaki. Kali ini Ahmad yang turun tangan mendaftar ulang. Dan darinya kita mendapat nomor 11 untuk tampil dipanggung. Saat itu adalah penampilan ke 7. Jadi kita masih bisa santai dulu. Walau begitu kami harus tetap stand by bersama bersama yang lain. Kami semua ngumpul di samping panggung.

Penampilan demi penampilan memukau sempat membuat kami minder. Banyak grup-grup yang kreasinya bagus-bagus, meskipun tidak memakai alat elektronik. Inilah aspek nilai tertinggi, inovasi. Kami dituntut bisa memberikan sesuatu yang berbeda. Tak heran peserta-peserta lain banyak memakai variasi. Baik intro dengan terbang rancak maupun kalem, suluk-suluk, dll. Tak sia-sia kami mengikuti kontes ini. Banyak ilmu yang kami peroleh.

Beberapa puluh menit kemudian tibalah giliran Hadiningrat menunjukkan kebolehannya. Mbak MC memanggil kami. Dengan langkah mantap kami injakkan kaki di atas tangga & panggung. Tak butuh waktu lama kami menata diri. Setelah dipersilakan kami mulai aksi kami.

Sorak sorai membahana di bawah kami. Ketika nama grup kami dipanggil ternyata banyak cah-cah pondok yang berkali-kali meluncurkan gojlokannya. Haye kaya kiye, kata mereka. Selain gojlokan, suporter HY yang dikoordinir oleh Obed juga turut meramaikan aksi kami. Jadi ketika kami tampil kesan lenggang sama sekali tidak terasa. Mungkin saja karena memang teman-teman dari personel Hadiningrat orangnya heboh-heboh.

Kang Marzuki membuka aksi dengan salam kemudian disusul dengan intro terbang. Setelah itu disaut kembali dengan suluk Ya badrotim. Lagu wajib Ya Badrotim sengaja kami menggunakan nada njowo banget. Gak salah kan kalo namanya Hadiningrat. Variasi dalam lagu ini juga lumayan sip. O iya Abror sang penari tuggal mengunjukkan aksinya saat terbang pertama dalam lagu ini ditabuh. Dia berdiri memakai gamis & surban serta memegang icik-icik. Peh, aku tidak berani melihatnya, takut buyar konsentrasiku.

Lagu kedua yang kami bawakan adalah Alfa Shollaloh. Sengaja kami memilih lagu ini karena juga banyak variasi berhentinya. Sekilas aku melihat Obed & teman-temannya berjoget di depan juri. Lha ketika kami semua berhenti ndillalah posisi mereka sedang berdiri satu kaki. Brek...! terbang berhenti seketika itu mereka berlagak jadi patung. Duh, dasar ada-ada saja ulah mereka. Aku hampir kehilangan konsentrasi karenanya.

Tak lama kemudian penampilan kami selesai. Tepuk tangan membahana di bawah panggung. Mbak MC mempersilakan turun. Akhirnya kami bisa bernafas lega. Alhamdulillah semua berjalan sesuai gambaran.

Sekian lama kemudian pengumuman pemenang langsung dibacakan oleh Pak Bustanul Arifin. Kami semua sudah berkumpul di dekat sepeda. Pak Bus memberikan kesan & pesan terlebih dahulu.

Dari ke 12 peserta diambil 6 besar. Masing-masing mendapat trophi, piagam & uang pembinaan. Pak Bus terlebih dahulu membacakan nilai ke 6 besar. Dan setelah itu satu persatu dibacakan dari belakang. Dari 6 sampe 3 Hadiningrat belum juga disebut. Kami hampir putus asa. Akan tetapi takdir berkata lain. Pak Bus mengumumkan bahwa Hadiningrat, nama raja Pajang berhak mendapat nominasi ke 2. sontak kami berjingkrak gak karuan, campuran anatara kaget & senang.

Sebagai perwakilan yang maju ke depan mengambil hadiah secara simbolis adalah kang Marzuki. Kali ini kami benar-benar baru bisa bernafas lega. Hadiningrat berhasil mengharumkan namanya & HY. Dan kenyataannya Hadiningrat memang ningrat...

Minggu, 09 Agustus 2009

Filosofi Tak Gendong

Tak gendong ke mana-mana...
Daripada kamu naik pesawat kedinginan
Mendingan tak gendong to, enak to, mantep to
Ayo ke mana....

Where are you going?
OK I am booking
Where are you going?
OK my darling

Siapa pula yang belum tahu lagu unik dari seniman nyentrik asal Mojokerto ini? Hampir seluruh lapisan masyarakat tahu dia. Mbah Surip, seniman berambut gimbal ini memang sedang tenar-tenarnya. Bagaimana tidak, tak gendong dapat kita jumpai di mana pun. Banyak orang terhibur karena lagu tersebut. Akan tetapi siapa sangka dibalik kejenakaan lirik lagu Mbah Surip tersimpan filosofi kehidupan khas Mbah Surip yang begitu dalam.
Secara keseluruhan lirik dalam lagu ini mengajarkan kita kesederhanaan. Lihat saja Mbah Surip yang lebih memilih digendong dari pada naik pesawat. Tentu saja mbah tidak akan begitu jika perjalanan yang ditempuhnya memang memerlukan pesawat :P.
Mbah Surip tampak sangat loyal sekali dalam membantu sesama. Mbah tanpa pamrih selalu menawarkan jasa gendongnya. Walaupun kita sendiri tahu mbah sudah sepuh. Hehehe. Lihat saja lirik, mendingan tak gendong to. Seakan Mbah Surip mengajarkan kepada kita betapa pentingnya menolong sesama. Walaupun justru kita yang sebenarnya butuh pertolongan. Baik yang kita tolong sedang tidak membutuhkan kita, terlebih saat membutuhkan.
Selain itu tak gendong juga mengajarkan kita arti gotong royong. Betapa pentingnya kerja tim dalam mengatasi suatu masalah. Bagaimana bukan kerja tim, jika kita menawarkan jasa gendong tetapi kita tidak kuat untuk menggendongnya sendiri. Tentunya di sini kita memerlukan bantuan dari yang lain. Lihat saja lirik, daripada kamu naik ojek kesasar. Di sana tergambar motivasi seseorang kepada temannya, bahwa selalu ada bantuan dari resiko suatu pekerjaan. Teman kita mengingatkan kita akan bahaya yang akan kita hadapi jika kita salah memilih. Sekali lagi Mbah Surip mengajarkan kita aspek terpenting dalam kehidupan, persahabatan.
Lewat lagu ini juga mbah berpesan untuk mensyukuri karunia Allah dengan memanfaatkan apa yang ada dalam diri kita sendiri. Mbah Surip lebih memilih menggunakan tenaganya sendiri daripada repot-repot naik ojek. Menggendong tentunya menggunakan tenaga kita sendiri tanpa merepotkan orang lain. Selain itu secara tidak langsung kita juga sedang berolahraga. Akan tetapi bagi fisiknya sudah tidak pantas lagi untuk menggendong tentunya jangan terlalu memaksakan. Olah raga tidak hanya menggendong bukan?
Filosofi yang lainnya adalah lewat tak gendong ini Mbah Surip mengajarkan kita untuk selalu menggendong akhlak, iman & Islam kita. Mungkin mbah sangat memprihatinkan kondisi masyarakat kini yang sudah mulai menanggalkan jubah akhlaknya. Lihatlah, di mana-mana tindak kriminal terus terjadi tiap hari, tak ada sekat antara orang tua dengan yang lebih muda, budaya malupun mulai malu untuk dikenakan. Bukankah ini semua telah menyimpang jauh dari ajaran, adat & budaya timur yang begitu menjunjung tinggi kesopanan.
Lewat tak gendong ini secara implisit Mbah Surip ingin agar kita, penggemar & pendengar lagu mbah kembali menjunjung budaya kita sendiri. Juga mbah ingin kita selalu menggendong budaya, produk & aset bangsa kita sendiri. Intinya Mbah Surip menginginkan kita back to ourself. Yang akhirnya bangsa kita dapat tersenyum kembali & mengucapakan I love you full kepada kita semua.
Sosok Mbah Surip yang nyentrik memang bisa kita jadikan teladan. Di usianya yang sudah tergolong senja Mbah Surip tak pernah bosan untuk berkarya & berkarya, kalau perlu hingga nafas terakhir berhembus. Itu sejalan denga tuntutan Islam, bahwa tak ada batasan umur dalam mencari ilmu.
Mbah Surip adalah fenomena. Mbah Surip adalah salah satu putra bangsa yang membuktikan bahwa untuk bisa menjunjung bangsa tidak perlu menunggu berada di titik puncak. Bahwa akar rumput pun bisa menorehkan sejarah berharga bagi bangsanya. Dengan pembawaannya yang apa adanya, sederhana & cuek Mbah Surip ingin menyemangati kita, para akar rumput untuk terus berkarya & mengharumkan nama bangsa. Mbah Surip adalah akar rumput sejati yang berhasil meroket hingga membelah angkasa Indonesia. Mbah Surip adalah akar rumput fenomenal dengan segala kenyentrikan & filosofi yang sarat makna.
Selamat jalan Mbah Surip. Doa kami menyertaimu. Kini mbah tak perlu menggendong lagi. Biar kami, generasi muda yang menggendong amanat bangsa ini untuk bisa harum ke mana-mana...

Batur, 9 Agustus 2009

Minggu, 26 Juli 2009

Rebana Hadiningrat emang Ningrat...

Dalam rangka HUT Lirboyo ke 99 di area Muktamar diadakan berbagai lomba. Salah satunya adalah lomba Musik Islami Tradisional. Informasi yang kami peroleh dari pak Jalal hanya kapan pelaksanaan lomba tersebut. Rebana Hadiningrat dipercaya untuk mewakili HY dalam ajang musik ini. Awalnya kami sempat berpikir dua kali karena maju bukan atas nama kamar melainkan atas nama pondok. Akan tetapi karena sudah diserahkan keada kami, kami tetap bulat akan ikut berkompetisi. Mungkin saja akan terjadi kesenjangan sosial di kalangan teman-teman HY. Tapi bukankah resiko memang selalu ada? Gak papalah.

Karena kekurangan informasi, kang Daris langsung menghubungi sekretariat lomba di Kantor Pramuka. Aku , syueb dan kang Daris berangkat saat malam pembukaan bazaar. Kang Daris sendiri yang masuk menghubungi panitia. Dari kantor pramuka kami mendapat informasi bahwa lomba akan dilaksanakan di gedung anNahdloh pada jam 8 pagi dengan peserta hanya yang bersekolah dan berdomisili di PP. Lirboyo. Personel maksimal 8 orang dengan tanpa alat musik elektronik. Dari situ kesimpulanku pelaksanaan lomba tidak seperti tahun lalu. Karena tahun lalu syarat peserta tidak dibatasi hanya dari Lirboyo, yang penting masih kawasan Kediri dan sekitarnya dan jumlah personel maksimal 13 orang (kalo gak salah). Tahun lalu ArRimval yang dipercaya untuk mewakili HY. Rebana Jabal Rochmah dari SMALA juga ikut. Lomba Rebana kala itu benar-benar meriah. Alhamdulillah tetap menadapat nominasi walaupun hanya sebagai juara favorit. Sayang pas naik teman-teman J Roch banyak yang gak tahu. Padahal aku sudah menghubungi mereka.

Dengan berbekal info dari pramuka kami malah gak terlalu ngoyo untuk latihan. Karena cuma lingkup Liboyo. Toh lawannya juga santri-santri Lirboyo. Malah kalau kuhitung latihannya cuma seadanya. Hanya 2 hari. Itupun terkesan kurang maksimal.

Sehari menjelang hari H kami tidak latihan sama sekali. Hanya kang Daris dan aku yang ngumpul guna merancang lagu dan penampilan besok. Kesimpulan dari rembugan kecil ini aku, kang Juweni, dan kang Mahfud bertindak sebagai vokal. Sementara kang Daris, Syueb, kang Tohir, Ahmad dan Saiful yang megang alat. Kang Marzuki, sang vokalis senior kamar Solo gak bias ikut karena kebetulan bersamaan dengan her ujian.

Pagi menjelang lomba kami sempatkan latihan dadakan. Personel masih saja belum komplit. kang Juweni sedang makaryo dan kang Mahfud masih ada urusan sowan. Lagu Ya Badrotim sebagai lagu wajib teman-teman sudah paham dan lumayan lancar karena latihan pertama kemarin lagu inilah yang dilalar. Kami lebih fokus ke lagu kedua, Alfa Shollalloh. Dua lagu yang kami bawakan memang lebih banyak variasinya. Menjelang latihan selesai kang Juweni datang. Kami melanjutkan latihan dengan tambahan personel, tapi cuma sebentar. Setelah itu siap-siap karena lombanya sebentar lagi. Sebagai pencari informasi sekalian daftar ulang adalah kang Daris.

Sekian lama kami menunggu, kang Daris datang dengan tangan kosong. Lokal anNahdloh yang akan digunakan sebagai lokasi lomba malah digunakan sebagai tempat ujian her. Katanya malah diminta bertanya panitia di kantor Pramuka. Sampai di sana nihil juga. Entah karena manajemennya yang kurang baik atau kang Daris yang kurang mencari info. Karena tak ada informasi lebih lanjut kami malah leyeh-leyeh dulu. Sekian lama menunggu lagi ternyata dari pondok tetap gak ada info. Akhirnya pukul setengah sepuluh aku sendiri yang turun tangan menuju lokasi lomba.

Lewat anNahdloh teryata memang benar, lokalnya dipakai untuk ujian semua. Begitu sampai pramuka aku langusng diminta masuk ke studio Elsa. Selain rebana aku juga cari info lomba presenter. Eh, malah cuma dapat nomor lomba presenter. Urusan rebana ternyata panitia di sana malah gak ada yang tahu sama sekali. Sudah begitu selama 20 menit aku di sana malah terkesan ditelantarkan. Orang-orang macak sibuk dengan urusannya masing-masing. Entah benar-benar sibuk atau cuma nggaya sibuk biar dikira orang penting. Akhirnya lagi-lagi dengan tangan kosong tentang rebana aku pulang dengan hati dongkol.

Sampi pondok nomor yang kubawa kuserahkan ke kang Thohir. Lomba presenter kali ini HY diwakili oleh kang Thohir, Ca' Upid dan Lik Bir, dengan sebutan 34 (Tiga Sekawan). Begitu tahu dapat nomor mereka langsung mengadakan latihan dadakan. Tak lama kemudian dari radio kami dapat info bahwa lomba presenter sudah dimulai. Tak ayal para calon presenter ini macak seaneh-anehnya dan berangkat.

Kami yang masih di pondok mendengarkan aksi mereka lewat radio Elsa Lirboyo. Ternyata teman-teman dari HY malah peserta perdana. Artinya belum ada peserta sama sekali yang maju. Oleh pemandu acara dandanan mereka dikomentari. Katanya gaul baget untuk ukuran santri, pake calana potelot je. Setelah tu kang tohir, ca' upid dan lik Bir mengunjukkkan kebolehannya.

Kami terpingkal-pingkal mendengar ocehan 34. Semua berlagak sebagai presenter, padahal dalam peraturan lomba dari 3 orang 1 orang sebagai presenter sedang 2 lainnya sebagai narasumber. Walau begitu kami tetap terhibur dengan banyolan khas ca' Upid & kang Tohir, WaZyik yo.... hehehehe

Sekian lama kemudian setelah semua peserta mengunjukkan kebolehannya pengumuman langsung diudarakan. Tahu gak ternyata Tiga Sekawan juga dapat juara, nomor tiga nda. Wah bener-bener gak nyangka dee..

....

Waktu mendengarkan celoteh peserta lomba kang Huda di sms pak Fata kalo lomba rebana baru membuka daftar ulang siang jam 2. wah, malahane bias istirahat. Siang itu juga aku sendiri yang turun tangan mendaftar ulang rabana kami. Aku nyepeda sendiri menuju An Nahdloh. Karena menurut informasi yang kami dapat lomba dilaksanakan di halaman gedung anNahdloh. Sampe sana ternyata di luar dugaanku, sepi. Di lsapi demikian. Masya Allah sebenarnya jadi tao gak to lombanya, aku sempat nggrundel sendiri. Lha pas mau pulang sayup-sayup aku mendengar suara klotekan. Jangan-jangan lombanya di panggung. Langsung saja kugenjot ontel kang juw ke arah lapangan. Dan ternyata ya. Ada grup rebana yang sedang mengunjukkan kebolehannya di atas panggung. Tapi kok aneh, mana panitia & santrinya? Orang-orang yesnya pake celna panjang semua, hanya satu dua yang bersarung. Malah ada ceweknya juga. Aku sempat ragu untuk bertanya, jangan-jangan bukan ini. Tapi sudah kadung sampe sini, masak gak membawa hasil. Kuberanikan saja untuk bertanya dengan orang-orang yang ada di bawah tenda.

Yang kutanya adlah seorang perempuan. Darinya aku memperoleh informasi kalo lomba musik tradisional ini diadakan oleh radio bonanza bareng pondok lirboyo. Pesertanya umum dan maksimal pesertanya bukan 8.ketika kuberitahu perwakilan dari HY, mbaknya malah bingung, kok gak ada. Ternyata kami belum terdaftar. Syukurlan oleh mbaknya aku tetap boleh mendaftarkan Hadiningrat. Mbak yang satunya ketawa mendengar nama rebana kami. Ningrat semua to mas?, tanyanya. Hehehehe.

(to be continued)

Minggu, 24 Mei 2009

Krisis dalam Pendidikan

Suatu negara tidak akan bisa bangkit dan maju tanpa adanya pendidikan. Dalam mengupayakan pendidikan ada banyak cara yang ditempuh oleh pemerintah. Salah satunya mengadakan & membuat fasilitas pendidikan, baik berupa sekolah, perpustakaan, ataupun mengadakan penyuluhan-penyuluhan langsung kepada masyarakat. Dengan adanya fasilitas tersebut diharapkan dapat menjadikan masyarakat lebih berpikir maju. Sehingga pembangunan & kemajuan bangsa dapat diraih. Karena bagaimanapun juga pelaku Negara atau masyarakat (rakyat) merupakan faktor penting, bahkan lebih penting dari para pencetus sistem pendidikan di negara. Karena jika rakyat maju secara otomatis bangsa juga ikut berkembang.
Sayang tidak semua orang/masyarajkat berpikir betapa pentingnya pendidikan. Bahkan tak jarang ada yang mengatakan pendidikan (sekolah) hanya membuang uang & waktu saja. Toh setelah selesai tak ada perubahan berarti. Bagi yang pengangguran tetap pengangguran, yang kuli tetap kuli, yang pekerja kasar tetap pekerja kasar. Lebih baik mengasah ketrampilan & keahlian yang dimiliki agar bisa meneruskan perjuangan orang tua mencari nafkah. Benarkah anggapan seperti itu? Anggapan tersebut hanya akan muncul dari orang yang memandang sempit kehidupan dengan dipenuhi perasaan pesimis.
Masyarakat beranggapan demikian tentu saja tak sekedar bicara. Mereka melihat & merasakan realita bangsa ini. Bahwa begitu banyak lulusan sarjana yang masih bingung akan masa depannya. Suram. Lantas bagaimana tidak pesimis dengan adanya fakta menyedihkan ini? Siapa yang salah?
Sebenarnya tidak perlu menyalahkan siapa-siapa. Introspeksi ke pribadi masing2-masinglah yang diperlukan. Dengan bermuhasabah maka akan timbul kesadaran dengan sendirinya. Jika sudah seperti itu kita bisa merasakan kekurangan masing-masing aspek, masyarakat, & sistem pendidikan.

Kekurangan dalam pendidikan formal
Pendidikan di Indonesia ada 2 macam, formal dan nonformal. Pendidikan formal adalah pendidikan yang mengikuti sistem & aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Lembaga pemerintah membentuk depdiknas & depdikbud sebagai pengatur sistem pendidikan formal tersebut. Dimulai dari yang terendah, SD hingga perguruan tinggi mengikuti sistem & kurikulum yang ditetapkan kedua departemen tersebut. Dalam membentuk sistem & kurikulum Indonesia banyak mengaca pada negara-negara maju. Amerika, Belanda, Jepang, Inggris dijadikan pembanding sistem pendidikan. Hal tersebut dapat dimaklumi karena Indonesia merupakan Negara yang masih berkembang. Pantas jika ingin meniru negara-negara lain yang lebih maju. Tak terkecuali pendidikan. Negara-negara maju begitu mengutamakan sains, IPTEK, & seni sebagai faktor utama kemajuan. Disadari atau tidak dampak terlalu mendahulukan ketiga aspek di atas dapat memudarkan faktor terpenting dalam dunia pendidikan, hati (tata karma).
Hati bisa diidentikkan dengan perasaan. Di dalamnya terdapat banyak hal agar hati dapat mencapai tujuannya 100 %. Sebagai manusia yang diberikan nafsu oleh Allah, perasaan (hati) merupakan pengendalinya. Nafsu identik dengan hal-hal yang dapat berdampak negatif bagi kita. Karenanya Allah menciptakan perasaan yang berisikan hal-hal positif dariNya untuk mengekang nafsu. Diantara yang dapat menjadikan hati mampu mengendalikan nafsu adalah agama & akhlak. Facktor penting inilah yang menjadi kekurangan dalam pendidikan kita. Apa gunanya ilmuwan jika tak punya akhlak? Apa jadinya seniman yang buta akan agama? Apa jadinya pejabat yang tak berakhlak? Maka dari itu seharusnya pendidikan yang lebih diutamakan pertama kali adalah pendidikan hati, agama, & akhlak.

Pendidikan agama di masyarakat
Pendidikan agama seharusnya merupakan pendidikan pertama yang diterima seorang anak didik. Di sini tidak membatasi umur berapapun. Bahkan sejak kecil kita minimal memang harus mulai tahu agama. Tak heran banyak orang-orang tua yang memberikan pendidikan agama sejak kecil, baik itu orang tua sendiri yang mengajarkan atau disekolahkan di TPA, TPQ, atau madrasah. Minimal seorang anak mengerti mana yang baik & buruk. Dengan menanamkan nilai-nilai agama sejak dini kepada anak menjadikan anak akan selalu berpikir sesuai hati nurani sebelum bertindak. Baik atau burukkah yang dilakukannya? Kebiasaan menuruti hati nurani tersebut akan selalu lestari jika benih-benih agama yang telah ditanamkan di hatinya selalu dirawat dan dipupuk. Karenanya pendidikan agama bukan sebatas TPA saja. Para remaja & orang-orang tua pun juga selalu membutuhkan siraman rohani agar perilakunya sesuai dengan rel yang ditetapkanNya.
Akan tetapi ternyata yang terjadi di masyarakat justru sebaliknya. Pendidkan agama hanya diajarkan pada waktu kecil. Jika sudah besar mereka melupakan agama & mulai menekuni ilmu-ilmu baru. Sains, teknologi, sosial, ekonomi, matematika dll. Siraman rohani hanya ditanamkan ketika TPA, setelah SMA hingga perguruan tinggi siraman duniawilah yang diutamakan. Maka jangan heran jika banyak seklai orang pintar, cerdik, pandai di negeri ini yang tak berakhlak & berhati nurani. Akibatnya Indonesia kehilangan identitasnya sebagai negeri gemah ripah loh jinawi yang begitu menjunjung tinggi sopan santun.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan asli Indonesia
Agama islam memang bukan agama asli Indonesia. Islam masuk pertama kali sekitar abad pertengahan yang mana pada masa itu agama Hindu & Budha yang mendominasi wilayah Indonesia. Jadi Islam merupakan agama baru bagi Indonesia dulu. Akan tetapi agama inilah yang memberikan pencerahan, kedamaian, & keteraturan bagi masyarakat Indonesia hingga kini. Tak lain adalah karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya serta tak lepas dari peran para penyebar islam di tanah air.
Dalam menyebarkan agam islam para walisongo menggunakan metode dakwah dengan langsung terjun ke masyarakat & mendirikan lembaga pendidikan. Metode pendidikan yang digunakan para walisongo merupakan hasil akulturasi budaya timur tengah (asal walisongo) dengan Indonesia. Metode tersebut terbukti sangat cocok untuk diterapkan di Indonesia. Karenanya hingga kinipun masih tetap lestari buah pikiran para wali ini.
Salah satu lembaga pendidikan yang tetap eksis menggunakan metode walisongo adalah pesantren, khususnya pesantren salaf. Ciri khasnya antara lain mengambil rujukan dari kita-kitab para ulama salaf, menggunakan aksara pegon buah karya Sunan Ampel, selalu menerapkan sikap tawadhu’ & qona’ah, & ta’dhim kepada guru. Sebenarnya pelajaran paling penting yang diajarkan di pesantren adalah masalah aqidah & akhlak. Kedua aspek ini tidak banyak membutuhkan teori, karena metode prakteklah yang harus digunakan. Dalam menerima santri seorang kiai lebih memperhatikan akhlaqul karimah santri daripada kecerdasan otak. Tak jarang di mata masyarakat pesantren merupakan wadah pembentuk akhlak. Bahkan bisa dikatakan sebagai tempat rehabilitasi bagi santri-santri yang tergolong nakal. Hingga kini mata pelajaran akhlaklah yang menjadi ciri khas pesantren. Hal ini sejalan dengan budaya Indonesia yang menjunjung tinggi sopan santun.

Globalisasi Pesantren
Seperti yang kita ketahui bahwa pendidikan dengan perkembangan teknologi adalah berbanding lurus. Pendidikan akan ikut berkembang jika sebuah bangsa maju. Begitu pula pendidikan pesantren. Di era teknologi ini pesantren mulai membenahi kesan udiknya dengan mengambil hal-hal positif dari globalisasi. Kini banyak ditemui berbagai pesantren yang mulai memasukkan teknologi dalam sistem pendidikannya. Tak jarang pula ada pesantren yang menggunakan kurikulum internasional dalam pendidikannya. Disadari atau tidak lama kelamaan tradisi pesantren mulai terkikis.
Banyak pesantren yang lebih mengdepankan keilmuan duniawi. Kajian kitab kuning & tradisi ulama salaf dijadikan sambilan. Negara-negara barat dijadikan rujukan. Lantas bagaimana nasib pendidikan pesantren rintisan walisngo?

Peran Pesantren (Salaf)
Melihat kenyataan bahwa mulai tergerusnya nilai-nilai pesantren maka seyogyanya kita sebagai warga pesantren melakuakan pelestarian kembali. Agar identitas pesantren sesungguhnya tidak hilang ditelan zaman. Syukurlah hingga kini masih ada pesantren yang tetap memegang teguh sistem pendidikannya dengan tidak mencampuradukkan sistem pesantren dengan kurikulum pemerintah. Pesantren mengambil masukan yang bias berdampak positif kini dan nanti.
Sebagai santri, kitalah penyambung mata rantai tradisi ini agar tidak punah. Kita seharusnya tidak minder & malu sebagai santri. Yang kadang dicap udik, dibilang kolot, disebut tak berpendidikan. Biarlah anggapan masyarakat tentang santri. Memang sudah menjadi ciri khas bahwa sikap tawadhu'lah yang selalu menonjol dari santri. Yang mana dibalik itu semua tersimpan cahaya agama & lautan ilmu yang berguna untuk menyeimbangkan kebobrokan zaman.
Mari lestarikan kembali nilai-nilai pesantren.

Lirboyo, 26 Mei 2009

Kamis, 21 Mei 2009

Merenungi 100 tahun Kebangkitan Nasional

Bangkit itu. .
Susah
Susah melihat orang susah
Senang melihat orang senang

Bangkit itu. .
Takut
Takut korupsi
Takut makan yang bukan haknya

Bangkit itu . .
Mencuri
Mencuri perhatian dunia dengan prestasi

Bangkit itu . .
Marah
Marah karena harga diri bangsa dilecehkan

Bangkit itu . .
Malu
Malu jadi benalu
Malu karena minta melulu

Bangkit itu . .
Tak ada
Tak ada kata menyerah
Tak ada kata putus asa

Bangkit itu . .
Aku
Untuk Indonesiaku

oleh Deddy Mizwar (100 tahun Harkitnas)

Minggu, 17 Mei 2009

Tujuanku.....

Tujuanku yg sebenarnya ke Kediri tuh utk mondok di Lirboyo sekaligus melanjutkan sekolah di SMA. Kenapa Lirboyo? Bukankah masih banyak pesantren lain yg dekat dengan rumahku di Klaten? Kenapa pula harus bersekolah di Kediri? Bukankah Klaten justru letaknya sangat strategis sebagai kota pendidikan, kan deket Jogja & Solo. Kalo alasan yg valid sih aku juga kurang tahu kenapa aku bisa sampai terdampar di Lirboyo. Tapi yg pasti tujuanku ke sini utk mendalami Ilmu Agama lebih lanjut guna meneruskan perjuangan dalam menegakkan Islam di lingkungan keluargaku. Jadi bukan utk berSMA di sini. Yo intinya mondok sambil sekolah, bukan sekolah sambil mondok. Moga2 aja itu bukan Cuma2 kata yg terucap tok. . .

Perlu diketahui Batur, desa tempat aku tinggal masih sangat kental tradisi Islamnya juga semangat gotong royong & persatuan sangat dijunjung tinggi di sana. Alhamdulillah sampai sekarang pun kondisi seperti itu masih bisa bertahan dengan baik. Lha agar tradisi & nilai2 agama Islam tidak luntur karena derasnya arus perkembangan zaman tentunya membutuhkan kader2 penerusnya. Maka dari itu salah satu -dari banyak- visiku tuh utk menjadi kader penerus bagi masyarakat, minimal di desaku sendiri.

Tak terasa sudah 3 tahun aku menimba Ilmu si Kediri. Dan setelah kuteliti lebih lanjut ternyata apa yg kudapatkan dari sini tuh masih jauh dari standar. Bener! Aku merasa masih ada ruang kosong yg ingin diisi. Tapi aku gak tahu apa itu. Selulus dari SMA kemarin aku sempat bimbang, mau meneruskan kemanakah aku? Tetep mondok atau kuliah? Setelah melalui proses yg panjang dengan dorongan & pertimbangn pihak2 yg penting, aku memutuskan utk tetap di Kediri. Otomatis belum kuliah. Karena dari dulu aku ingin kuliah di Jogja. Kemudian timbul masalah lagi, mau ke madrasah Induk atau tetep di HY? aku kan sudah tamat madrasah Hy, otomatis masuk Tsanawi. Lha yg jadi pertanyaan tuh mau ke Tsanawi Induk atao HY. kalo di HY diusahakan harus bersekolah atau kuliah. Trus kalo di Induk harus bisa lulus ujian masuknya. Untuk bisa masuk ke Induk syaratnya adalah hafal nadzom Alfiyah 350 bait, bisa baca kitab kuning yg gak ada tanda bacanya sama sekali, & lulus tes tertulis. Aku sempet pesimis dengan kemampuanku. Dan ternyata itulah yg membuatku kalah sebelum bertanding. Aku menunda keberangkatanku ke Induk hingga tahun depan. Jadi utk tahun ini aku tetep di HY. Padahal harapan ortu & ustadzku aku harus bisa ke Induk. Tapi sayang negatif thinking tadi membuyarkan rencana beliau2. Makanya buat Kamu yg masih puanjang jalannya, apalagi masih SMA jangan sampai ada perasaan pesimis deh utk meneruskan jalan panjangmu. Rugi & bakal menyesal. Yg penting ”Rencanakan kerjamu & Kerjakan rencanamu”.

Karena masih di HY aku ingin memanfaatkan waktu luang utk ikutan kursus komputer di daerah Kediri. Di induk gak boleh ndobel. Para santri hanya dicekoki ilmu agama tok. Dan finalnya aku positif masuk ke El Rahma. Ada beberapa alasan aku masuk ke sana. Pertama karena biayanya yg relatif lebih murah jika dibandingkan dg Lembaga Pendidikan lainnya & kedua karena kebetulan di sini juga ada temanku, Linda & Nunuk. Aku bener2 gak nyangka bisa kumpul lagi sama mereka.

Wah dari tadi cerita melulu, sampe keterangan madrasah Induknya ketinggalan...

PP Lirboyo mempunyai banyak pondok2 unit. walaupun podoknya banyak ternyata madrasahnya hanya satu, yaituMadrasah Hidayatul Mubtadiien (MHM). Tapi itu secara umum tok. Kalo lebih teliti lagi sebenarnya ada juga madrasah yg lain. Seperti contoh di HY. MHM lebih dikenal madrasah induk. Kurikulum yg digunakan berbeda sekali dengan sekolah2 pada umumnya. Di sini kamu gak akan menemukan pelajaran Fisika, Kimia, Biologi, Ekonomi, Matematika, dkk. Di sini hanya fokus di ilmu agama, mulai dari Al Qur’an, Hadits, Aqidah, Akhlak, Fiqih, Nahwu, & Shorof.

Dari pelajaran2 tadi mungkin yg masih asing adalah Nahwu & Shorof. Maklum saja kalo belum pernah balajar bahasa Arab biasanya belum tahu (bukannya nyindir lho...). Nahwu & Shorof adl ilmu Gramatika Bahasa Arab atao lebih tepatnya Sastra Arab, ada juga yg menjulukinya Ilmu ’Alat (kamsudnya alat utk mendalami ilmu2 yg laen). Keduanya merupakan pasangan yg tak dapat dipisahkan. Kalo keterangan dari ustadz2 sih mereka tuh bagai Bapak & Ibu yg menghasilkan ilmu2 baru sebagai anak2 nya. Nahwu mempelajari kaidah2 bahasa Arab dalam segi lafadz per lafadz. Sedangkan Shorof mempelajari kaidah gramatika Arab dari segi huruf per hurufnya. Gampangane ngono. Pesantren2 di seluruh Indonesia hampir semuanya meletakkan Nahwu & Shorof sebagai salah satu pelajaran wajibnya. Makanya biasanya lulusan pesantren tuh di mata orang2 adalah seseorang yg pandai berbahasa Arab, piawai mentranslate lafadz2 Al Qur’an, sampe2 koyo2 santri tanpa bahsa Arab tuh rasanya hambar. Beberapa alasan kenapa bahasa Arab ditetapkan sebagai ilmu wajib tuh antara lain, Al Qur’an diturunkan berbahasa Arab, Nabi SAW sehari2nya berbahasa Arab, hingga kelak di surgapun bahasa yg digunakan adl bahasa Arab. Jadi Maklum kalo para kyai & ulama meletakkan bahasa Arab sebagai ilmu yg wajib dipelajari. Trus apakah kamu gak tertarik tuh mempelajari bahasa Al Qur’an, bahasa Nabi, & bahasa surga? Kalo bisa belajar dong. Masak kalah sama santri. Hehehe

MHM mempunyai jenjang2 sesuai dengan kecakapan santri. Dimulai dari Ibtidaiyyah utk mendalami Ilmu Nahwu Shorof tadi. Setelah itu masuk ke jenjang Tsanawiyyah utk mendalami lebih Ilmu Fiqh dengan berbekal kecakapan Nahwu Shorof tadi. Kan semua pelajaran di MHM memakai kitab2 yg berbahasa Arab. Dan terakhir adalah jenjang ’Aliyyah utk mendalami Ilmu Tauhid & Tasawuf. Jadi kurikulum yg disusun oleh para pendiri madrasah ini tidak cuma asal menyusun. Tentu saja kurikulum pendidikan di Indonesia juga seperti itu. Penuh pertimbangan dari berbagai orang2 penting dlm kancah pendidikan Indonesia.
Sekarang ini aku masih jenjang Tsanawiyyah itupun bukan di MHM. Tapi sebenarnya sama aja kok pelajarannya. Tadi aku sempat bilang kalo syarat masuk Tsanawi induk tuh hafal 350 bait Alfiyah. Tahu gak Alfiyah itu apa? Heheh. Alfiyah itu nama kitab pelajaran di bidang Nahwu & Shorof. Isinya berupa syair sebanyak 1000 bait. Dan itu pas tes akhir setelah khatam harus bisa hafal semua. Mangkanya aku sempet minder waktu diminta masuk ke Induk. Tapi untuk saat ini dengan langkah optimis tahun depan aku harus bisa masuk ke MHM utk memenuhi harapan kedua ortuku. Mohon doanya ya....